Kamis, 17 September 2009

Uma'

23 Juli 2009 jam 15:47


Hari itu tiba-tiba saja aku teringat mak, ingat mak yang telah sekian lama aku tinggalkan di rumah itu. Mak yang semenjak aku telah membuka kelopak mata kecilku , yang semenjak itu pula aku telah melihat mak tersenyum.
Hari itu aku bergegas pulang dari kantor dan langsung mengepak seluruh barang-barang yang bisa ku masukkan ke dalam koperku. Yah, aku ingin ketemu mak, entah mengapa tiba-tiba saja wajah tuanya menghantui setiap gerak langkah yang biasanya bisa kuseret dengan ringan. Namun hari itu seret kakiku melemah tiba-tiba, saat ku memandangi sebuah pamflet seorang perempuan memangku anak perempuannya.
Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan, aku tiba di muka sebuah rumah dengan halaman luas bak kebun istana tempo dulu. Banyak pohon-pohon tua di sana, banyak pula bunga aneka warna. Namun halaman itu tampak tak terurus, dengan dedaunan pohon-pohon tua yang berserakan, dan rumput ilalang yang tumbuh bebas dan menari tertiup helaan angin bulan September.
Aku melangkah sangat cepat, setengah berlari aku menaiki tangga rumah yang seperti tak pernah habis. Ku lihat pohon jambu klutuk di samping rumah, tempat aku dan adikku Lila bermain sambil menghitung semut yang berbaris di lengan pohon yang kurus. Aku teringat pula teriakan mak yang meminta kami untuk tidak memanjat terlalu tinggi, mak bilang adik-adiknya dulu pernah menjadi korban pohon jambu klutuk yang berdahan kurus dan berdaun kerempeng.
Lalu kulihatlah wajah tua itu, wajah yang 10 tahun tidak kulihat, hanya karena kemarahan sesaat ku pada mak. Oh, mak, aku berlari memeluknya dan langsung mencium punggung tangannya yang ku lihat sudah keriput termakan usia.
“Kau ke nong?”*
“Aok mak, itok Rayya, anak mak.”*
Dua hari aku di rumah tempat aku menghabiskan masa kanak-kanakku, adikku Lila, begitu aku mengatakan pulang ke rumah mak, dia pun langsung pula menaiki pesawat pertama setelah delapan tahun pula tak menginjakkan kaki kerumah masa kanak-kanak kami, seakan-akan rumah itu tinggal puing kenangan. Padahal masih ada mak di sana.
Dua hari selama aku di sana mak masih saja diam. Murung. Seperti kami tak pernah ada di sana. Seperti kami masih saja lepas seperti anak panah yang tak kunjung jua kembali pada busurnya. mak murung. Aku jadi bingung. Dengan cemas aku mengintip lewat kusen jendela kamarnya yang mulai usang. Aku bingung mengapa mak banyak melamun. Aku khawatir. Sangat khawatir. Ketika beberapa kali ku coba memanggil dan ia tak kunjung menjawab panggilanku, aku mulai ketakutan. Yakin itu pertanda buruk….
“Puluhan taon, mak merawat bapak, merawat kite, mak itu perempuan hebat,” kataku kepada Lila.
“Mak tidak lemah sebagaimana umumnya anggapan orang-orang tentangnya. Juga tentang perempuan. Mak, perempuan perkasa. Bertaon-taon die banting tulang dan tak pernah mengeluh. Membersihkan rumah, mencuci pakaian kite waktu kanak-kanak, menyiapkan makanan, melayani bapak yang sering membentaknya jika ia salah membuatkan minum, belum lagi mendengarkan keluh kesah bapak dan kita anak-anaknya. Apalagi mendengar keluh bapak tentang kegagalan hidup yang tak pernah putus. Tak pernah sekalipun putus asa apalagi menyesal. Semuanya mak terima dengan lapang hati. Ia terima dengan hati ikhlas dan rasa hormat yang tidak pernah berkurang seujung jaripun, terhadap bapak. Meskipun bapak sering sekali menipu. Segala janji di obral bapak sewaktu mereka akan menikah, yah, aku tau itu, tentang rumah, mobil, masa depan yang bahagia dan sukses, walaupun mak tau itu gombal dan semua cuma sebatas rayuan bapak. Ya, bapak dan kita telah banyak menipu mak. Tapi, mak tak pernah menggugat, seperti bapak menggugat harta warisan peninggalan nenek, seperti kite yang minta-minta kasih sayang yang lebih di saat mak sedang terkapar perih menahan ngilu yang teramat di hatinya. Tapi bagi mak, itu semue hanya kenyataan yang harus di terima. Walaupun menyakitkan.”
Lila meringis menahan tawa.
“Kenapa kau tertawa? Ini bukan untuk kau tertawakan, Lila. Aku sedih, tapi mau apalagi, karma semua sudah terjadi. Aku bangga menjadi anak mak.”
“Bagaimana tidak, kau seperti menceritakan hal yang semua orang mengalaminya.”
“Yah, kau tau iye! Mak adalah harta kite.”
“Tapi kau jangan nak seakan-akan menghujat bapak, mak kan selalu melindungi bapak.”
“Kau betul! Mak itu orang suci. Setengah nabi. Tapi itu tidak pernah di lihat bapak. Yang dilihatnya mak suci hanya ketika mak masih perawan. Sekarang mak dah tue. Sudah renta. Memang keinginan mak tetap saja masih menggelora untuk melayani bapak, tetapi pasti jasmaninya tidak kuat lagi. Sekarang mak dah keropos. Bapak dak mao’ melihat mak telanjang lagi di ranjang seperti dulu. Kitepun dah dak bise mengharapkan mak seperti dolo’ age’.”
“Ah, iye kan cume alasan bapak, dan alasan mu juak.”
“Tidak bisa tidak Lila! Kenapa kau mengatakan pula itu alasan aku. Aktivitas mak yang luar biasa dan sambung-menyambung dah buat mak kapak. Mesin yang tua akan di lempar ke gudang dan di jadikan rongsokan. Tak terpakai lagi. Apalagi sudah ada yang baru. Tapi mak kan bukan mesin. Die manusie. Apalagi bapak jenis laki-laki yang memang suka menaiki tubuh perempuan berganti-ganti jenisnya. Sebetulnya, istri adalah ratu rumah tangga. Dan cukup satu saja.”
“Aku sudah mengatakan pada mak, jangan memaksakan diri untuk mengerjakan semuanya seperti dulu. Tapi mak bukannya mak kalau tidak tersenyum dan berkata lembut, dan sangat tidak memperdulikan omongan ku. Dia tak ada waktu untuk bersantai, karna kalau ia diam, rumah berubah menjadi gugusan beku. Fakta! Mak terus saja bekerja, dan terus bergerak. Jadi, Lila, kita harus bertindak. Paksa mak untuk berhenti menyibukkan diri, paksa mak istirahat dan bersenang-senang, paksa mak untuk melupakan bapak. Paksa mak untuk jalan-jalan, menikmati hidup. Seperti orang tua- orang tua lainnya.”

“Maksudmu?”

“Hidup bukan hanya di dalam rumah, di luar sana kehidupan lebih berwarna. Mak harus kita manjakan sekarang. Karena itu, kita harus mengambil alih rumah dari tangan mak, aku akan mencari pembantu sekarang untuk menggantikan tugas-tugas mak selama ini.”
“Salah!”
“Apa?”
Ternyata Lila mempunyai pendapat yang berbeda denganku, dia memintaku untuk duduk dan mendengarkan uneg-unegnya.
“kau dudok dolo’, dangarkan aku baik-baik, sabab ito’ panting inyan.”*
“Kau usah takut Lila, bukan uangmu yang akan bayar pembantu, tapi uangku.”
“Duduk dolo’.”
Aku terpaksa duduk.
“Kau salah kaprah kak.”
“Salah kaprah? Maksudmu?”
“Sudahlah, kakak dangar aja dolok, usah bantah, usah protes, kalau udah paham, barok kau boleh bantah omonganku ito’. Kalau bise. Kalau dak, terima aja yang akan ku tunjukkan ape yang kite ingkare’ selama ito’.”
Dengan perasaan teramat bingung aku terpaksa mendengarkan.
“Jadi coba kita ingat-ingat dengan sejujurnya, bagaimana waktu kita masih remaja dulu. Ketika kita baru saja menanjak masa SMU. Ingatkan?”
“Tentu saja ingat, kita mulai jatuh cinta dan ingin sekali bisa berpacaran. Ingin menikah, ingin mendapatkan pasangan yang bisa menerima seluruh diri masing-masing. Baik itu kelebihan maupun kekurangannya. Bukan untuk pacaran dan menikah setahun lalu bercerai. Memangnya kenapa?”
Lila mendengus,
“Ketika kita remaja dulu, kita teramat egois, betul tidak?”
“Ah, tidak juga.”
“Semua anak muda itu egois! Itu tanda kegairahan hidup.”
“Jadi semua itu normal kan?”
“Kan aku tidak bilang itu tidak normal, kak.”
“Bagus itu, lalu teruskanlah.”
“Menurut ibu, dan yang sering kita lihat dulu, kalau ibu telat masak, apalagi di tambah masakan ibu kurang nikmat, bapak pasti mengamuk dan kita juga ikut-ikutan kan? Bukankah itu namanya egois?.”
“Ya, karena bapak merasakan itu adalah sebuah hal yang wajar adanya. Bapak kan merasa sudah banting tulang mencari duit, jadi apa salahnya dia menuntut untuk makan enak? Itu bukan marah, melainkan hanya pernyataan seseorang yang lapar dan sudah letih.”
“Tunggu dolo’ kak, itu namanya kau membenarkan perilaku bapak yang kasar. Kau kan membenci bapak dengan sangat kak. Apa yang kau peroleh dengan membantu bapak, toh kau akan sama saja seperti emak. Karena emak juga mengerti. Mak paham, sebab bapak yang banting tulang, jadi bapaklah yang harus diistimewakan. Sebab kalau bapak sampai sakit, roda rumah tangga akan berhenti berputar. Seperti kata kakak tadi, ibu adalah ratu rumah tangga, tapi bapak juga adalah motor yang menggerakkan kehidupan rumah tangga. Kalau motor itu berhenti berkerja, kita semua akan habis.
“Oya? Mak berkata begitu?”
“Tidak, itu cuma pnafsiran Lila saja kak. Aku walaupun membenci bapak dengan teramat sangat, tapi aku juga harus jujur terhadap apa saja yang telah ku alami dan kulihat selama ini. Kita juga akan mengalaminya kelak kalau kita sudah berumah tangga. Di samping itu, kita kembali pada mak, tugas mak selama ini, memang bertumpuk. Dulu selain harus mengurusi bapak, ibu juga harus mengusrusi kita berdua. Anaknya. Karena anak ibu cuma dua dan perempuan keduanya, pasti lebih sulit daripada mengurus lima anak laki-laki. Mak pernah mengatakan padaku dulu, kita adalah anak-anak perempuan yang cerewet, lebih cerewet dari bapak. Kurang di perhatikan sedikit saja sudah marah atau di perlakukan tidak adil. Kalau kita diajak diskusi kita pasti lebih memilih menutup mata dan telinga kita ketimbang mendengarkan mak berbicara. Jadi mak, terpaksa ekstra hati-hati dan sabar. Akhirnya kedudukan memang kepencet seperti roti bakar.
Tapi jangan salah kak, manusia kalau kepencet bukannya tambah lembek seperti tanah, terutama perempuan. Umur perempuan menurut riset lebih panjang dari laki-laki, justru itu dikarenakan lebih banyak menderita. Seperti atlit kak, kalau tubuhnya di tempa terus, akan menjadi keras dan liat. Jadi kak, karena mak telah menempuh hidup yang keras dan berat, maka mak menjadi sehat, kuat, dan mempunyai pribadi yang arif dan bijaksana. Batol kan kak?”
Aku hanya mengangguk-angguk tanpa tau kemana arah adikku akan bicara kembali.
“Nah, sekarang seperti yang sudah kita ketahui bersama kak, bapak sudah tua, renta pula. Bapak juga pasti akan menjadi lebih bijaksana, bapak juga sudah mulai sadar, bahwa tindakannya meninggalkan mak selama puluhan tahun adalah salah. Bapak juga mulai ingin mendekati kita lagi, namun kita masih saja tidak mau menerima kehadiran bapak kembali ke rumah kita lagi. Kekehidupan kita. Sedangkan kita, malah meninggalkan ibu sendirian tanpa kabar yang sering, sesering kita makan dan minum tiap hari. Akibatnya parah kak, mak menjadi kehilangan. Kehilangan keseimbangan. Dalam kehilangan dan ketimpangan itu, mak jadi tak punya arah.”
Aku terdiam meresapi makna kata-kata adikku.
“Seperti, daun yang tertiup angin, mak terbang dengan bingung, melayang tanpa tahu arah. Mak juga merasa tak berarti. Merasa kehilangan arti hidup sangat berbahaya kak. Kehilangan itu menyebabkan mak bertanya-tanya buat apa ia hidup, anak dan suami tidak bisa hidup berdampingan dan tak mau mengerti. Apalagi gunanya ia ada. Itu sebuah pertanyaan yang sangat berbahaya. Ya kan kak, mak kesepian.”
“Aku terkejut bukan buatan. Aku tidak pernah berfikir hingga ke tahap itu.”
“Mak bisa bunuh diri atau melakukan sesuatu yang diluar batas kesadarannya kak.”
“Kenapa? Kenapa bisa sampai begitu, tidak mungkin Lila.”
“Kak, percayalah, mak tidak butuh pembantu, tapi mak membutuhkan jiwa baru kak, dan kakak pasti tau jiwa baru itu dari mana asalnya.”
“Jiwa yang baru itu maksudnya apa Lila, kau jangan berteka-teki.”
“Tidak kak”
“Apa yang kau maksud itu adalah kita anak-anaknya?
“Salah satunya kita kak.”
“Bukankah kita sudah ada di sisi emak sekarang? Apa lagi yang kurang?”
“Oya, tentu saja, mak tau itu kak, tapi tetap saja masih ada yang kurang.”
“Kurang? Lila aku sudah berkorban untuk mak, aku sudah rela meninggalkan pekerjaan dan karier ku di sinun, hanya demi menemani mak di sito’, aku juga rela kehilangan Dewa, karena ia tidak bisa meninggalkan keluarganya di Jakarta hanya untuk mengikutiku pindah ke mari. Dan kau masih mengatakan bahwa buat mak itu masih kurang?”
Lila terdiam sejenak
“jadi apa yang kurang?”
“Bapak”
“Apa?”
Aku sangat terkejut sekaligus terkesima, mendengar penuturan adikku semata wayang. Aku tidak habis fikir bagaimana ia bisa mengatakan bahwa yang kurang dalam hidup mak adalah bapak. Masih segar dalam ingatanku waktu itu, aku baru hendak masuk ke perguruan tinggi, saat bapak memutuskan meninggalkan mak dan memilih perempuan lain, perempuan yang lebih muda dan cantik daripada mak, sekaligus lebih kaya dari mak. Bapak juga menuntut harta warisan nenek yang telah di berikan secara ikhlas kepada mak. Lalu kurang apa penderitaan yang kami dan mak lalui hingga ia masih menginginkan bapak kembali padanya?
“Mak menginginkan bapak untuk mengisi ketimpangan hidupnya?
“Aok”
“Mak kan tidak buta, tidak juga kebal, hati apa yang mak punya?”
“Kak, mak itu bukan jenis perempuan pendendam! Iman mak sangat kuat untuk bisa menerima cobaan hidup kak. Dia bukan benci atau pura-pura tidak butuh pada bapak. Dia tau bahwa bapak bersalah dan tidak pantas untuk kita kasihani. Tapi mak percaya kalau bapak pantas di beri kesempatan kedua.”
“Ah.”
“Jangan cuma berkata ah kak.”
“Lila, kamu jangan menjadikan mak sebagai tameng untuk membawa bapak kembali kerumah ini.”
“Siapa kak? Aku tidak bermaksud begitu.”
“Lila, aku mencoba mengajakmu untuk melihat sebuah kebenaran. Bagaimana perasaan mak saat bapak tinggalkan dolo’. Padahal mak sudah begitu setia mengabdi pada bapak. Tapi apa yang mak dapatkan?”
“Kak, coba kau dengarkan dulu aku.”
“Kak, kita harus mempertemukan mak kepada bapak.”
“Kau sudah gila Lila, kau sudah tak waras.”
Aku sangat tak habis fikir dengan apa yang Lila katakan, mempertemukan mak dengan bapak? Aku sangat tidak bisa menerima ide gila itu.
“Kak, ayolah, ini demi kebaikan mak. Secepatnya kak, kita harus bisa mempertemukan mak dengan bapak kembali, sebelum semuanya menjadi terlambat.”
“Kau gila Lila, aku tak mau melakukan itu, bapak sudah sangat menyakiti hati mak, padahal mak sudah berbuat sesempurna mungkin. Tapi tetap saja bapak menyakiti mak dan membuatnya menderita selama puluhan tahun Lila.”
“Kak, apa kau mau melihat mak kembali tersenyum?”
“Tentu saja Lila, aku khawatir melihat dia dua hari ini hanya merenung dan melamun saja. Aku khawatir ada sesuatu yang buruk akan terjadi pada mak. Dan aku tak mau itu sampai terjadi.”
“Makanya kak, kita harus segera mencari bapak dan mempertemukannya dengan mak.”
Aku terdiam, lama, sangat lama.

“Kamek kemari karena ingin ketemu bapak,” Lila membuka percakapan setelah seperempat jam kami hanya terdiam. “Kalau bapak tidak keberatan kami ingin bapak menemui mak.”
Bapak terdiam agak lama, lalu menoleh dan memandang padaku lama.
“Apa bapak mau menemui mak?” Akhirnya aku membuka diri untuk memulai percakapan dengan bapak. Laki-laki yang sangat aku benci. Aku benci ia, walaupun dari spermanya lah aku melihat dunia.
“Bapak tau, bapak telah salah melangkah selama puluhan tahun ini. Kalau kesalahan bapak terlalu berat, bapak mohon untok bise dibarek kesampatan memperbaikinya. Karena meskipun badan bapak berjauhan dengan mak kita’, namun jiwa bapak masih terase dakat dengan mak.”
Bapak terdiam sebentar. Lalu sudut matanya yang masih tajam melihat ke arahku. Lila turut melirik padaku. Aku merasa jengah di pandangi oleh dua pasang mata yang terkesan sangat memohon. Kulihat pelupuk mata bapak bergetar. Bibirnya yang hitam karena racun nikotin ikut pula bergetar, seperti akan mengatakan sesuatu yang sangat berat.
“Dua puloh taon itok, bapak menyesali. Kenape bapak musti membuang mak kita’. Musti membuang kita’. Padahal, dak ade yang kurang dalam hidup kite, padahal cume nafsu bapak yang ade. Tapi kenape musti keluarge yang terkorban. Bapakpun nyassal nong. Sungguh, bapak nyassal. Pun bise mbalik hari, dah bapak balik hari.”
Sepi terasa menguliti tubuhku. Tiba-tiba saja udara di ruangan itu menjadi dingin. Suara detak jarum arlojiku terdengar jelas memecah kesunyian itu. Aku tak kuasa menahan perasaan. Tiba-tiba saja aku tak kuasa menahan tangis. Tak terasa jua bulir-bulir air mata merembeti pipiku yang cekung.
Lila menoleh ke arah bapak, ia juga melihat hal yang sama terjadi pada bapak. Dengan cepat ia membuka tas kulitnya yang berwarna cokelat lalu terburu-buru ia mengeluarkan tissue. Ia mengulurkan selembar padaku, dan selembar pada bapak. Aku lmenghapus air mataku. Kulihat bapak melakukan hal yang sama pula.
Aku berlari menaiki tangga, menuju pintu rumah kami yang masih tertutup rapat. Kuketuk perlahan sambil mengatur nafasku yang masih terasa berat setelah berlari dari pintu pagar halaman menuju pintu depan rumah kami.
“Sudah puluhan taon, taon berganti. Mak dak pernah bertanya mengapa bapak mu meninggalkan mak, tidak pernah bertanya mengapa bapak mu tega meinggalkan semua kenangan tentang kita, tidak pula bertanya kemana segala sesuatu yang sudah terjadi bisa sedemikian capat. Apakah bapakmu akan terus hilang begitu saja. Atau ia akan kembali ke pangkuan mak.”
Aku terkejut mendengar suara mak berkata saat aku membuka pintu depan rumah. Ternyata ia duduk di sofa merah berlengan di depan jendela. Tempat favorit mak menghabiskan sore.
“Tiba-tiba saja tak sengaja terlintas dalam fikiran mak. Baru sekarang mak merasa ada yang hilang. Segala sesuatu yang mak punye seakan-akan dak ade, nong. Bapakmu paggi, dengan bini muda’nye, dan bapakmu berpuloh-puloh taon tidak ade khabar beritenye. Perasaan mak semakin kosong Rayya. Baru setelah kepulangan kau dan Lila kerumah ini, mak menyadari masih ada yang belum kembali. Itu membuat perasaan mak dak tanang. Unto’ pertame kali dalam dua puloh taon umak merasekan kehilangan.”
Aku hanya bisa terdiam. Bahkan ketika Lila datang dengan membawa bapak disisinya, aku tak kuasa bergeming.
“Sudah dua puloh taon berlalu, mengape baru sekarang mak sadar bahwa mak kehilangan. Kehilangan sosok yang membuat semua penderitaan tiada akhir. Sementara mak asyik masyuk dalam kehidupan kite yang hambar. Getir nong.”
Lila tersenyum, aku masih mematung dan bapak mulai pula tersenyum.
“Tapi, sekarang mak tak mau lagi merasakan kehilangan itu nong. Sudah cukup selama dua puloh taon ito’. Selama ini mak asyik masyuk dalam dunia mak. Dan mak lupa merasakan bahwa mak telah kehilangan, umak kehilangan bapakmu sebelum bapakmu menghilang dari hidup kita nong.”
“Mak,”
Lila menggumam sambil berjalan kearah mak. Lalu menggeser kursi kearah mak.
“Bapakmu, Lila, seharusnya mak merawatnya dengan baik, agar ia tau bahwa mak mencintainya sampai kinito’. Mak sedih, mungkin kebanyakan perempuan seperti mak kalian ini.”
Mak tersenyum. Aku menangis tersedu, Lila juga tampak meneteskan air matanya. Bapak kemudian memeluk mak, lalu mencium punggung tangan dan kening mak. Aku tak kuasa mencegahnya.


Singkawang, 14 april 2009
24.00 wib
Catatan;
●Umak=ibu
• kau ke nong= kau kah nak
• aok mak ito’ rayya=iya mak ini rayya
• “kau dudok dolo’, dangarkan aku baik-baik, sabab ito’ panting inyan.=kau duduk dulu, dengarkan aku baik-baik, karena ini sangat penting.
• taon=tahun
• kite=kita
• nong=nak
• pulohan taon=puluhan tahun
• ito’=ini
• tanang=tenang
• barek=beri
• kita’=kalian
• musti=mesti
• nyassal=menyesali
• mbalik=membalik
• kame’=kami
• kinito’=sekarang
• unto’=untuk
• paggi=pergi
• capat=cepat
• dakat=dekat
• Aok=iya
• Sinun=sana
• Batol=benar
• Ingkare’=ingkari
• Dudok=duduk
• Panting inyan=sangat penting
• Semue=semua
• Dak mao’= tidak mau
• Age’=lagi

Komentar Publish FB :

Arta Nauli, Fira Rachmat, Nung Bonham dan 11 lainnya menyukai ini.
Topan Asri
Topan Asri
Ufffhhhhhh, dr ceritanya sih bagus... tp aw.aw.aw..... mataku sakit ngebacanya non... apa lg mb hanna... pasti tambah tebal kaca matanya.... wkwkwkwkkkkkkkkk
23 Juli jam 16:42 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
hehehehhehehe, tes kesehatan mata
23 Juli jam 16:43 · Hapus
Shaut Ls Hutabarat
Shaut Ls Hutabarat
walau ceritanya ringan, aku bisa menikmati dengan tutur bahasamu yang sederhana, tapi mengalir dengan baik. Cerita ini makin menarik dengan penggunaan kekhasan dialog daerahmu. keren.
23 Juli jam 20:59 · Hapus
Budi Gunawan Jaya
Budi Gunawan Jaya
ida crtanya pjg bgt,mata g skt ne hahahah
23 Juli jam 22:11 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Idaaaaa... Cerpen-cerpenmu selalu mengalir dengan bahasa yang indah. Dalam sebuah dialog di atas, ada kalimat "karma semua sudah terjadi." Kali salah ejaan ya. Karma yang dimaksud karna? Beda banget loh, artinya.
Ehm... Seperti yang pernah kuucapkan pada Ida. Tokoh Emak, masih Ida bangeeet. Berhati mulia. Hahaha... Tapi itu bukan masalah. Wah, tadi... Baca Selengkapnya aku sempat membaca ulang, usia perempuan lebih panjang. Keren euy. Berarti kita bisa dikusi sampai rambut kita berubah perak, nek. Hahaha. Ok! Sip! Ditunggu agik cerpen berikutnya. Bahasa Melayu Sambasnya nyaman nyan be.
24 Juli jam 9:47 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
waduh, saya merasa sangat terkesan dan tersanjung dengan :
@bang shaut hutabarat : aq deg2 an menunggu kritikan atau sekedar penilaian atas cerpen yang sempat aku perbaharui, dan aku mendapatkan sebuah penilaian yang membuat geer, tapi ga puas karna ga adpet kritikannya
@topan : hehehhe thanx buat dorongannya
@budi : iya ne gw masih suka error di ... Baca SelengkapnyaFB, jadi tulisannnya ga bisa ku edit dengan baik
@spesial mb.hanna: wah, cece ku ne mang paling jeli, padahal kemaren aq dah edit ulang tapi masih kalah jeli dari cece, wah terlalu berlebihan mb jika menyamakan tokoh uma' itu dengan aku. terlalu mulia uma', itu aku buatb berdasarkan gambaran ku tentang mamaku tersayang....
24 Juli jam 15:13 · Hapus
Bagas Dwi Bawono
Bagas Dwi Bawono
jadi kangen ibuku .... hiks
28 Juli jam 21:52 · Hapus
Ali Fanie
Ali Fanie
Beuuuhh pnjang banget ceritanya..hehehe
tapi aku cinta umak ku loh, aku suak alur ceritanya non, nulis terusssss...
05 September jam 20:48 · Hapus
Keroncong Sunyi
Keroncong Sunyi
Ada pesan yang universal dan humanis dalam cerpenmu mbak meski disampaikan dengan bahasa melayu sambas...
Pesan cintai emak/ibu/mama/biyung/si mbok/mother hehehe...Karena surga ada di bawah telapak kaki ibu...

Terima kasih mbak buat sajiannya
05 September jam 20:56 · Hapus
Keroncong Sunyi
Keroncong Sunyi
Ada pesan yang universal dan humanis dalam cerpenmu mbak meski disampaikan dengan bahasa melayu sambas...
Pesan cintai emak/ibu/mama/biyung/si mbok/mother hehehe...Karena surga ada di bawah telapak kaki ibu...

Terima kasih mbak buat sajiannya
05 September jam 20:56 · Hapus
Penyair Kecil
Penyair Kecil
Emang belum selesai kubaca semua tp awalnya saja sdh menarik! tp tenang ja pst kuselesai'n kok! trs berkarya temen.
05 September jam 21:13 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Ali Fanie : makasih alie....sama2 ya kita berkarya, kayakan satra indonesia dengan karya kita

Keroncong Sunyi: makasih kang fitrah...ugh, jadi isin akyu

Penyair Kecil : janji ya????
05 September jam 21:35 · Hapus
A Pan Di
A Pan Di
kisah yang lumrah, seorang isteri diabai suami. jadi teringat kata, "kalau di rumahtangga sendiri tak bisa mencipta bahagia dan sejahtera, ke mana-mana dan dengan sesiapapun takkan terbina bahagia dan sejahtera itu. mesti tersentuh, hanya merupakan tipudaya yang menoda."
05 September jam 22:05 · Hapus
Amrin Zuraidi Rawansyah
Amrin Zuraidi Rawansyah
Mantap!
05 September jam 22:09 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
A Pan Di : makasih kawan...kisah ini memang sangat lumrah dan terjadi sangat dekat dengan kita....

Amrin Zuraidi Rawansyah : makasih bung amrin sudi bertamu ke note saya yang sederhana ini...
05 September jam 22:14 · Hapus
Amrin Zuraidi Rawansyah
Amrin Zuraidi Rawansyah
Siap! Saya akan sering-sering "nyosor"...hehe...
05 September jam 22:17 · Hapus
Sufriady Saleh
Sufriady Saleh
...dan kita adalah anak-anak yang merasa telah mengenal cinta.
Aku suka Lila.
06 September jam 3:01 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
kisahnya humani ya sederhana krn banyak terjadi di lingkungan kita. yang paling kusuka tentu aja nuansa daerahnya yg cukup kental, termsk cara bberbicara serta hubungan antar anggota klg. fiuuhh ida, aku terpesona denagn cerpenmu ini. membumi.
06 September jam 5:54 · Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
Jurnal Sastratuhan Hudan
cerita ini merambat dengan kata kata yang menunjukkan kematangan seorang pencerita prosa yang matang. kata merenung dalam kisah yang dibawanya. seolah ada sesuatu yang gugup dari awal membacanya.
06 September jam 9:36 · Hapus
Ping Homeric
Ping Homeric
hihihi...Ida ini indah!! crita yg panjang ini asik juak ternyate....hihihi.... tak satu barispun ku langkahi :)... sekarang, akupun mengerti tatapan matamu yg penuh misteri itu Ida yg indah!!! hehe.... asik! asik! keren nian! :)... aku setut ma mas Hud!
06 September jam 11:22 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
itu bahasa singkawang ya ida ?
yang di bawah cerpen itu foto siapa ida?

cerita ini memang datar dgn tema yang membumi da. kisah keluarga dengan segala elegi dan romantikanya. anak dan ibu tambah ayah (kalo ada) dengan segala kebrengsekan dan kebaikannya.
06 September jam 11:35 · Hapus
Cepi Sabre
Cepi Sabre
panjang ya mba ida. saya baca nanti ah ... tapi bahasanya asik. saya suka. melestarikan bahasa.
06 September jam 15:14 · Hapus
Ricky Idaman
bagus ida...selamat menjalankan ibadah puasa..dek..
06 September jam 16:25 · Hapus
Purwono Nugroho Adhi
Purwono Nugroho Adhi
cerita di balik kisahnya,
sekedar situasi harian,
yang dibingkai dalam maknanya,
tentu bagi orang-orang terkasih
06 September jam 17:54 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
Setiap membaca cerita tentang seorang ibu hatiku sedih nian dinda,terkenang kasihnya yg tak pernah habis. Andai bisa memutar waktu kembali ingin rasanya menciumi telapak kakinya lagi.Ahh,jadi sedih sebab ciuman terakhirku pada ibu saat tubuhnya tlah membeku kaku,itu saat kakak berusia 13thn...hiks...tulisanmu ini membuat kerinduanku pada ibu. makasih udah berbagi ceritamu ya say...ibu adalah segalanya dalam hidup kita...salam.
06 September jam 21:20 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Aku merasa dialog itu terlalu banyak... menjadikan alirannya bak naik sepeda motor dijalan penuh lubang.... kenapa ya kurang nyaman begitu..
06 September jam 22:31 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Sufriady Saleh : terima kasih mas....sudah sudi bertualang di note saya ini...
Sayuri Yosiana : yuri yang cantik...makasih...namun aku rasa tidak seperti itu...pasti banyak sangat kekurangannnya...
Jurnal Sastratuhan Hudan : bung hudan yang jyb (juga yang baik) maksih...saya banyak belajar dari tulisan2 bung hudan yang juga baik...
Ping Homeric : makasih ping ku yang baik....dan baik...banget....heheheh, makasih dah mau menikmati note ini....
Anita Rachmadm ; iya mb...ne memakai bahasa melayu singkawang....itu foto ku dan mama sebelum mama sakit...... Baca Selengkapnya
Cepi Sabre : makasih mas cepi...dan janji ya bakal menghabiskan membacanya...
Ricky Idaman : makasih mas ricky yang baik...makasih banget...
Purwono Nugroho Adhi : saya memang menulis ini sebagai apresiasi terhadap budaya melayu dan kepada mama tercinta. mas adhi.
Maghfira Mimi : mb fira yang cantik...makasih ya makasih banget...saya merasa tersanjung cerita ini dapat membuat mb terharu...makasih btelah mau mengunjungi note sdrhana
06 September jam 22:32 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Loektamadji A Poerwaka : ayah...terima kasih...yang seperti ini aku mau...aku jadi bisa memperbaiki tulisan2 aku...ayah,,,,makasih banget...
06 September jam 22:35 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Terlalu njlimet untuk penulisan sependek itu dibawa kearah yang lebih light lah dan tasty...Suni...
06 September jam 22:36 · Hapus
Bagas Dwi Bawono
Bagas Dwi Bawono
kayaknya dah pernah baca ini...apa versi revisinya mba...?
07 September jam 1:56 · Hapus
Jeppe Indrawisudha
Ida, kisah menarik ini semestinya tidak melelahkan untuk dibaca. Tapi kenapa aku merasa lelah ya? Atau mungkin karena terlalu panjang buatku yang semakin tercebur dalam tulisan-tulisan pendek.
07 September jam 2:55 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
hehehehhe iya mas bagas...ini versi revisinya...namun masih kurang baik juga rupanya...hiks..
mas jeppe...makasih mungkin memang benar seperti yang ayah adjie bilang, terlalu banyak dialognya...
07 September jam 14:30 · Hapus

" MEI HWA"

" MEI HWA"


24 Juli 2009 jam 17:07

“Sayangku, mengharapkan kehadiranmu di sini sama saja dengan mengharapkan abu dari tungku yang tak pernah menyala. Tapi, sayang, entah kenapa masih saja aku bersetia menunggumu walau itu aku rasakan sia-sia. Masih saja sesak dada ku karena denyut rindu. Masih saja jemari tanganku yang rapuh ini menulis surat untukmu, meski ku tau kau tak akan pernah membalasnya. Ya, masih saja terkenang tentang sekeping waktu yang telah lewat, saat-saat kau menyembul dalam hidupku dan pergi melesat bagai aNak panah. Kadang-kadang aku juga terkenang saat kau tertidur pulas dalam dekapanku.”

“Kau pasti akan kembali bukan? Tapi, jangan sampai kau melesat tanpa jejak.”

“Aku berjanji Mei, aku pasti menerbangkan sehelai jejak”

“Aku tunggu”

Tiga orang pria sudah meninggalkan aku, tiga orang pria yang masing-masing telah hancur dalam ingatan. Dengan paksa ku pecahkan ingatan-ingatan itu dan pada setiap prosesi penghancuran itu mengeluarkan keringat darah sebesar biji jagung. Menanggung rasa sakit tak terperikan, namun hasrat untuk melupakan memang terlampau besar dari kemampuan. Aku terbanting, terhempas, terinjak, lumat. Aku gadaikan sepetak hatiku hanya untuk sebuah serpihan kenangan. Samapai akhirnya aku bertemu kamu. Dan kini kau pergi juga. Melesat, bagai aNak panah. Aku tau melupakan mu pasti lebih berat dari pada melupakan tiga lelaki lain yang telah lewat. Karena melupakanmu itu ibarat memanah bintang di langit. Tak akan pernah sampai apalagi tepat sasaran.

“Aku pasti kembali Mei, aku bukan aNak panah, aku pasti jadi lelaki, aku lelaki.”

Sekarang hatiku kian lengang. Hanya kau yang tersisa di hatiku. Sejak setahun lalu, saat kau memutuskan untuk merantau di Malaysia, aku tau keputusan itu salah. Kau pasti sudah lupa dengan janjimu untuk menjadi seorang laki-laki. Kau tak ingin jadi perempuan yang kodratnya mencuci, memasak, dan mengurus aNak. Kau tak rela di-perempuan-kan. Kau sudah lupa pada janjimu untuk terus menjagaku. Malaysia telah merubahmu, jarak telah mengaburkan pandanganku padamu, waktu telah melenyapkan ingatan janjumu padaku. Kini, sehelai jejakpun tak jua sampai darimu. Aku bersendiri di sini. Tanpa kamu. Tanpa jejakmu. Hanya kenanganmu. Aku perawan tua yang kesepian.

“Apa kau lelah menungguku?”


Perempuan itu, Mei Hwa, seorang gadis yang lemah lembut dan sangat perasa. Ia tinggal di rumah warisan orang tuanya yang besar dan mewah. Ia yatim piatu, orang tuanya meninggalkannya sejak ia berumur 17 tahun, namun ia tidak pernah kekurangan. Warisan yang ia terima tidak akan habis sampai tujuh turunan.

Mei bermata sipit, dengan lengkungan alis yang indah, dan mata sendu yang selalu menenangkanku dari amarah. Bibir merah yang selalu saja tampak basah walau tanpa dioles pemerah bibir. Ia gadis dengan rambut panjang, legam, dan menawan. Mei, perempuan yang indah. Namun, Mei tidak hanya indah, tidak hanya cantik. Tapi juga seorang gadis baik yang rendah hati. Ia juga cerdas. Namun ia juga perempuan yang kenyang dengan pengalaman hidup. Ia bukan sembarang perempuan. Bukan perempuan kebanyakan. Bukan pula perempuan yang rela menghabiskan uangnya hanya untuk berbelanja barang-barang mewah. Aku terlanjur dekat, aku terlanjur terpikat. Aku sangat tergoda. Aku jatuh cinta pada Mei Hwa. Aku cinta. Pada pertemuan kami yang pertama. Ternyata, Mei menyambut juga cintaku. Ah, indah. Indah ……

Namun, perasaan itu bukan sebuah perasaan yang indah buat orang-orang lain, kami tau itu. Apalah dayaku. Aku hanya seorang lulusan perguruan tinggi swasta yang hingga kini masih belum mendapatkan pekerjaan. Sudah dua tahun aku menganggur. Di jaman yang serba sulit ini, hidupku semakin sulit. Apalagi sekarang aku mulai jatuh cinta. Aku mulai putus asa. Sebelum bertemu Mei, aku mengerjakan pekerjaan apa saja. Asal aku tidak merepotkan orang tua yang sudah usia senja.

Tapi, sekarang aku punya Mei, aku tak ingin di anggap lemah olehnya. Apalagi untuk memutuskan hidup bersama kami harus menentang nasib dan kodrat. Aku telah berjanji pada Mei, aku telah mengucapkan sumpah ku padanya. Aku akan jadi laki-laki. Yah seorang laki-laki.

Makanya aku memutuskan untuk pergi menjadi tenaga kerja asing di Malaysia. Bagiku itu pilihan terakhir dan satu-satunya. Hanya dengan mencari pekerjaan di negeri asing itu aku bisa menunaikan janjiku pada Mei. Bukannya dia tak pernah menawariku pekerjaan di perusahaan warisan ayahnya, aku tak mau. Aku tak mau di cap orang sebagai benalu. Aku ingin orang memandangku sebagai laki-laki. Hingga pantas buat Mei. Walau itu melanggar kodrat dan nasib kami.

“Kenapa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan?”
“Itu berarti Tuhan itu adil”
“Kenapa tidak perempuan dan perempuan saja, atau laki-laki saja”
Aku sangat ingin menjadi lelaki buat Mei, walau aku rasa itu sebuah angan-angan terlarang. Aku ingin hanya aku yang memberikan perhatian penuh pada Mei. Mei tidak perlu mencintaiku, kemarin. Barangkali yang aku butuhkan kemarin hanya Mei yang berada dekat dengan ku. Aku rela melakukan apapun demi Mei Hwa.

Aku ingin pulang ke negeriku, tempat tanah aku lahir, tempat kakiku mula menapak tanah, tempat orang-orang tercinta, juga tempat Mei. Aku menyurati Ibu, aku memohon untuk menikahi Mei. Aku ingin meminta restu dari Ibunda terkasih. Namun Ibu sangat terkejut saat tahu aku akan menikah, aku meminta restu darinya, menikahi Mei.

Ibu mengutukku, ia tidak pernah bermimpi, aku aNak terkasih meminta restu menikahi Mei. Ya, Mei Hwa. Alih-alih mendapat restu, justru yang ku terima caci maki, umpatan dan sumpah serapah dari sang Ibu.

“Ibu tidak melarang kau menikah, tapi bukan dengan Mei Hwa.”

“Jangan kuatir bu, aku tidak akan membuat Ibu malu kalau aku akan menikahi gadis Tiong Hoa.”

“Ibu tak akan malu, tapi bagaimana pertanggung jawaban Ibu dengan Tuhan Nak.”

“Tapi Ibu, “

“Kalau kau menikah dengan perempuan itu, kau akan jadi anak durhaka Nak!”

“Aku tidak akan membuat Ibu kecewa, tak akan membuat Ibu kesepian lagi, aku berjanji bu, tapi ijinkan aku hidup bersama Mei.”

“Tidak, tidak Nak, Ibu tidak mengijinkan kau menikah dan hidup dengan perempuan itu!”

Aku ingin sekali Ibu merestui keinginanku menikahi Mei. Aku heran, kenapa Ibu begitu menentang pernikahan yang aku inginkan ini? Padahal aku mengenal Ibu adalah seorang wanita baik hati dan welas asih. Beliau juga bijaksana, namun kenapa ketika ia menyampaikan lewat surat ia ingin menikahai Mei, Ibunya malah membalas dengan cacian dan makian? Apa yang salah dari Mei? Apa karena ia keturunan berkulit putih dan bermata sipit?

Hari ini, entah bilangan tahun yang keberapa saat aku kembali ke tanah air. Namun aku tidak pulang ke rumah Ibu, ke pangkuannya tempat aku dulu di buai, dinina bobokkan. Aku pulang ke tempat Mei. Namun sampai sekarang aku masih belum bisa menikahi Mei Hwa. Bukan karena aku perempuan. Bukan juga Mei Hwa di ciptakan sebagai seorang perempuan.

“Menunggu kepulangan mu, adalah hal yang selalu aku lakukan. Tak pernah tidak. Namun, di usia yang sudah mendekati perawan tua, entah kenapa masih saja aku bersetia menyia-nyiakan waktu untuk menunggu kau menikahiku. Suatu hal yang memang sangat tidak mungkin. Aku tau walaupun Ibumu telah tak ada di bumi, kau tak ingin jadi anak yang mengkhianati kodrat. Masih saja sesak dadaku menanti dan terus menanti kau menikahiku.”


Singkawang...2008



Komentar Publish FB :

Fira Rachmat, Cepi Sabre, Hanna Fransisca dan 4 lainnya menyukai ini.

Capcuan Classic
susah cari orang yang sangat setia, yang banyak itu sephia. beruntungnya orang yang ditunggu, tapi mendingan cari yang baru. hahahaha
24 Juli jam 17:10 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
huahauahuahauahaua
ga lah, yang ama aja ga habissssssssss
24 Juli jam 17:11 • Hapus

Jurnal Sastratuhan Hudan
menanam karen di tengah hujan, sungguh sebuah cerpen yang mempersona, dalam bentuk cerpen yang monolog dengan pikiran yang retak. bagus untuk sebuah perbandingan dengan cerpen yang menjalar sendiri ini.
24 Juli jam 17:15 • Hapus

LaNna Smoothy
`` Wiw.....
24 Juli jam 17:15 • Hapus

Anita Rachmad
waaah....waaaah.......asik asik......

sekadar info: di SUrabaya (jawa timur) ada entertaner dakwah namanya Tan Mei Hwa. cukup terkenal dia karena pengisi tetap di di JTV, disamping karena dia cainis, juga pandai menghibur sambil berdakwah logat suroboyoan yang kasar.
24 Juli jam 17:16 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
bang huda, karen itu apa???
mana ne kritikannya????
tapi terimakasih untuk komentarnya bang hud....
24 Juli jam 17:17 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
hehhehehehe
@mb anita.....saya cuma mencari sebuah nama yang bagus untuk tokoh saya yang sesuai dengan gambaran tokoh wanita cantik di cerpen ne, ga nyangka aja ada nama yang ama cuma beda di Tan aja.
@lanna: thanx yua
24 Juli jam 17:23 • Hapus

Jurnal Sastratuhan Hudan
di noteku ada tiap kritik seni yang ada di indonesia. bisa dicari bandingannya. menyebut afrizal tadi sudah cara melihat lain.
24 Juli jam 17:25 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
hehehehhe, thanx ya bang huda....
komentarnya sangat berarti
24 Juli jam 17:27 • Hapus

Imel Octavia
imel share ke imel ya cerpen nya...btw kenapa seh imel mo kirim wall ke gz gk bisa
24 Juli jam 17:38 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
ga tau tuh imel
hehehhehe
24 Juli jam 17:42 • Hapus

Jurnal Sastratuhan Hudan
sama sama ida
24 Juli jam 17:46 • Hapus

Iwan Gunawan
lembut serasa mengalir, hingga sesak itu serasa menggelayut pada rasa dengan hati yang jatuh melayang ... oohhh...
24 Juli jam 20:53 • Hapus

Ario Virzha
uyyyy usuuu tang kaye tukang pijit hehheheheheh.......
24 Juli jam 21:59 • Hapus

Agus R. Sarjono
mengapa oh mengapa...
24 Juli jam 22:28 • Hapus

Bayu Soponyono
Anda adalah generasi yg suuaangad hebat.
Dg beberapa cerpen yg anda bwt,suasana "HIDUP" benar2 terasa. Mending skrg ajukan k penerbit.
Pasti byk pecinta karya sasta yg terpesona.
25 Juli jam 10:41 • Hapus

Bayu Soponyono
Anda adalah generasi yg suuaangad hebat.
Dg beberapa cerpen yg anda bwt,suasana "HIDUP" benar2 terasa. Mending skrg ajukan k penerbit.
Pasti byk pecinta karya sasta yg terpesona.
25 Juli jam 10:41 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
wah...
@bang hud, thanxxx banget
@ko2 iwan : apakah cerpen ne sangat mendayu2????
ario :????????
agus : maksud mengapa oh mengapa itu apa????... Baca Selengkapnya
bayu : bung bayu terlalu berlebihan saya masih amatiran ne membuat karya, masih harussss banyak belajar, takutnya ntar malah malu2in penulis yang lain lagi
25 Juli jam 16:09 • Hapus

Kika Syafii
Halo Mei Hwa.
07 September jam 0:00 • Hapus

A Pan Di
teringat kata yang biasa didengar, kalau sudah jodoh takkan ke mana. tapi... kalau jodoh sesama perempuan, jadi susah ngebutnya.
07 September jam 0:21 • Hapus

Zulfaisal Putera
Ida, itu fotomu bareng Mbak Hanna, ya?
Benar-benar asli cantiknya orang Ketapang.
Soal Mei Hwa-mu, memikat.
Cerpen cerpen dengan lokalitas yang kuat pasti menarik. Apalagi disajikan dengan konflik yang menarik dan dramatis.
07 September jam 2:48 • Hapus

Hanna Fransisca
Wuih, ada Kang Agus SR.

***Bang Zul, itu bukan fotoku, tapi adikku yang terlanjur nempel dengan Ida yang baik itu. Tak berarti mereka itu lesbian seperti yang diceritakan Ida. Wkwkwkwkw.

Narasi Ida asyik. Mempertahankan tokoh aku sampai akhir, bahawa aku di situ juga seorang perempuan. Siiiip!
07 September jam 9:12 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
wkwkwkwkwkkwkwk........jangan lihat fotonya ya....ga ada sangkut paut dengan isinya itu yang pasti.....
bang zul, bukan asal ketapang bang, tapi pastinya asal Singkawang

mb hanna yang manis dan baik banget tentunya....hikhikhik...saya mah berfoto ama kembaran mb hanna....hehehehhehe, makasih mb...cerpen ne aku perbaiki kembali kemaren, seperti yang mb pernah sarankan....
iya ada Mas Agus SR....heheheh, kaget waktu beliau mau mengunjungi note aku yang sederhana.....makasih mas Agus SR.....
07 September jam 14:10 • Hapus

Anita Rachmad
lho..ida.....kok di tag lagi ya..
ini kan sudah pernah. he..he..he....
tapi yg dulu kayaknya blm ada fotomu yg keren itu deh. ^_^
07 September jam 23:04 • Hapus

Purwono Nugroho Adhi
romansa cinta,
dalam jejaknya yang berbeda,
ketika sepasang perempuan,
merajaut ralitas,
dalam diskriminasinya yang kodratkah?
08 September jam 12:23 • Hapus

Fira Rachmat
Melayang daku menghayati ceritamu dinda...apik banget pictnya apalagi cantik nian oi...makasih ya say...salam
09 September jam 21:57 • Hapus

LELAKI TUA

LELAKI TUA

25 Juli 2009 jam 17:09

Lelaki tua itu baru sembuh dari sakit tapi masuk rumah sakit lagi. Wajahnya pucat pasi dan sepi. Namun anak-anaknya tak perduli.

Mereka masih menyimpan bara dalam hati. Lelaki itu telah memilih jalannya sendiri. Memilih menikah lagi, dengan seorang perempuan muda yang sudah di anggap adik sendiri, dengan kondisi sang istri yang masih butuh di lindungi di hari tua. Anak-anaknya berusaha menasehati, tak mudah menikah lagi, apalagi dengan kondisi tubuhnya sudah sulit di ajak kompromi. Kepala enam hampir menyambangi, lebih baik menikmati hidup dengan sang istri yang terus setia mendampingi.

Tetapi laki-laki itu tak betah tak tak merasakan hangat tubuh betina. Merasa tak ada yang memperhatikan. Di rumah sang istri tak betah di rumah. Dari pagi hingga malam hari dan pagi hari lagi ssang istri jarang di rumah. Tanpa ada anak-anaknya yang perduli. Semakin hari ia merasa Cuma si Wati yang menemani dan memperhatikan nuraninya sebagai seorang laki-laki. Ia merasa mempunyai arti berada di samping Wati, bukan di sisi sang istri yang sibuk sendiri. Kondisi inilah yang membuatnya bersikeras hati, untuk tetap mengawini Wati angkat sendiri. Ternyata, anak-anaknya terlebih sang istri tak bisa dan tak mau mengerti.

Mereka tetap menganggap ayah mereka bejat dan mau menang sendiri.
Menurut mereka apa kata orang nanti, kalau ayah mereka kawin lagi, sementara ibu mereka masih hidup dan segar bugar. Apa kata orang nanti, kalau yang di kawini ayah adik angkat mereka sendiri. Orang pasti akan menggunjingkan keluarga mereka, kalau ayah akan kawin lagi, sementara sang putra bungsu masih sendiri dan belum beristri. Lelaki itu tetap berkeras hati. Baginya, istrinya sudah tidak perduli lagi, selalu saja bertengkar di peraduan setelah ia seharian pergi namun tak membawa hasil yang cukup untuk memenuhi hasrat sang istri yang tak pernah mau kompromi. Ia sudah tak betah tak di urusi.
Anak-anaknya sudah punya kehidupan sendiri-sendiri.

Walau beberapa dari putrinya terhempas dan gagal di tengah perjalanan rumah tangga mereka. Ia tak mau merepotkan dan khawatir di anggap selalu merecoki hidup anak-anaknya. Sementara sang istri yang hoby bermain dengan mistik tak kunjung berubah. Jadi, menikah lagi adalah sebuah solusi. Ia sudah mantapkan hati. Sebelum mati, ia ingin berbagi hati. Ia ingin kembali di cintai. Ia ingin seorang wanita mengisi hari-harinya sebelum mati.

Ia berharap, anak-anaknya mau mengerti dan mau memahami. Walaupun ia akan mengawini anak angkatnya sendiri. Namun ternyata anak-anaknya tetap tak mau mengerti.

Anak-anak dan istrinya menganggap laki-laki itu mau enak sendiri. Sejak ada rencana pernikahan ini, si bungsu marah sejadi-jadinya. Ia hampir memukuli ayahnya sendiri. Ia merasa sangat malu. Masa bapaknya mau mengawini adik angkatnya sendiri. Berusia sembilan belas tahun pula. Ia juga merasa terlangkahi. Ia di usia memasuki kepala tiga belum menikah, malah bapaknya mau kawin lagi. Ia amat marah dan hampir tak perduli pada perasaan ibunya kini.

Putri sulung lelaki itu lain lagi. Ia cenderung hampir tak peduli. Bukan karena tak mau peduli, tapi karma tak mau terecoki. Ia hanya mewanti-wanti sang ayah, pernikahan itu jangan sampai menggerogoti ketenangan keluarganya yang sudah terbina selama ini. Ayahnya, berjanji apapun yang terjadi nanti akan ia hadapi sendiri. “Dengan hati yang bulat dan tak terus menerus dilecuti rasa dendam dan sakit hati kita akan kuat menjalani semua rintangan dan ricuh di hati.” Ujar sang ayah menasehati. Namun anak-anaknya tak kunjung mau memahami.

Anak-anak mereka tak mampu menyelami obsesi dan isi hati sang lelaki tua yang mengantarkannya pada kehidupan duniawi ini. Setidaknya mereka berfikir si ayah seharusnya memikirkan perasaan ibu kandung mereka yang telah mendampingi hidup si lelaki tua selama 50 tahun hidup berkeluarga, dalam asam manis dan getirnya kehidupan. Bukan malah di tinggal kawin lagi.

Hari pernikahan yang dinanti berlangsung sederhana sekali. Namun yang mengejutkan, sang ibu bersedia menikahkan sang suami dengan anak angkat mereka sendri. Sang putra bungsu semakin geram tak terkira. Namun nasi telah menjadi bubur, tak bisa di tanak lagi. Tak ada ucap selamat dari anak-anak mereka. Sang lelaki berusaha menyelami dan memahami situasi ini. Mungkin, katanya dalam hati, ini sebuah solusi. Setidaknya mencegah konfrontasi antara anak-anaknya dan perempuan yang ia nikahi. Berat sekali.

Namun semua tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Sebulan hidup bersama sang istri mulai tak enak hati. Melihat sang suami bercengkerama dan bermesra di depan mata.
Akhirnya perang pun terjadi. Dan si lelaki tua memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah, pergi membawa sang istri muda sejauh-jauhnya dari anak-anak dan sang istri tua yang mengamuk. Tapi inilah situasi yang harus ia nikmati. Konsekuensi yang harus bisa ia terima dengan lapang hati. Dan ia cukup berbesar hati. Ia telah berusaha memahami situasi. Walau rasa sakit menyelip di hati, ia tetap coba berkompromi dengan kondisi.

Walau ia telah gagal menjadi ayah yang sejati dan sekaligus suami yang bisa mencintai dan membimbing sang istri yang telah berpuluh tahun ia nikahi. Enam bulan setelah menikah lagi dan meninggalkan rumah lelaki tua itu jatuh di kamar mandi. Seluruh tubuhnya terasa nyeri.

Dokter mengatakan ia hipertensi. Darahnya naik tinggi tak terkendali. Stroke hampir menghampiri. Untung ia cepat di tangani dan di obati. Kalau tidak mungkin ia sudah mati. Ia sempat sekarat lima hari lamanya. Tak seorang pun ia kenali lagi, termasuk pula sang istri muda yang ia ajak melarikan diri. Di saat ingin menikmati bulan madu dan saat jauh dan hidup tenang dari sang istri tua, malah ia jatuh di kamar mandi dan terkapar begini. Untung saja ia belum mati.

Untung saja si lelaki masih bisa bersyukur pada sang ilahi yang menciptakan hidup dan mati, bahwa ia masih di berkahi kesempatan menikmati hidup sekali lagi. Mungkin ini dosanya pada sang istri dan putra bungsunya yang ia langkahi. Ia berjanji akan meminta maaf pada sang istri, walaupun ia sepenuhnya merasa tidak bersalah, ia juga berjanji akan mencari dan mengirimkan surat pada sang putra bungsu Elang, bahwa ia minta di relakan menikah lagi dengan alasan yang logis dan bisa di terima hati.

Akan ia titipkan pada seorang sahabat lamanya agar ia bisa memberikan surat tersebut pada si buah hati.
Setelah menulis surat pada sang putra bungsu ia merasa seakan hidup dan bernafas kembali di bumi. Apapun yang akan terjadi ia harus bertahan hidup, dan akan memohon maaf dari sang istri.

Baginya, ini merupakan sebuah perjuangan yang harus ia tempuh dengan hati ikhlas. Setelah tiga minggu di rumah sakit, sang lelaki tua di izinkan kembali pulang, dengan catatan ia harus memperbaiki pola istirahat dan konsumsi makanannya. Rekan-rekan bisnisnya datang menengok kondisinya. Mereka bersenda gurau mencandai. Sudah bau tanah tak insyaf pula malah mengawini perawan ranum dari kebun sendiri. Mendapat candaan seperti ini ia sempat pula bermuram hati. Namun ia dapat menerima akhirnya dengan kelapangan hati. Akhirnya ia tak jadi sakit hati.

Fikirannya tertuju hanya pada sang istri yang telah lama ia tinggal pergi, dan sang putra bungsu yang keras hati. Rasa sesal menggerogoti hati dan fikirannya. Mungkin ini sebuah kutukan dan sang istri dan si buah hati simpiran jantung kepada suami dan ayah yang telah nekad kawin lagi dan melarikan diri bersama sang istri yang ranum. Mungkin ini yang di namakan zaman edan dan bumi menjadi teramat tua dan keriput. Sang ayah yang keji dan cuma mementingkan hasrat birahi.

Lelaki tua semakin larut dalam sesal dan menyalahkan diri sendiri. Hatinya semakin perih saat sang istri mengutuk dan tak mau menoleh lagi memberi ampun pada sang suami yang sungguh tak tau diri. Saat ia terkapar di rumah sakit sang istri dan putra yang keras hati tak kunjung menghampiri. Rasa bersalah meracuni hati dan diri sang lelaki tua di ambang senja. Darahnya kembali naik tinggi. Seminggu sepulang dari rumah sakit ia ambruk kembali.

Ia kejang-kejang dan tidak bisa bernafas. Lagi-lagi ia harus di bawa ke rumah sakit. Peralatan rumah sakit dan jarum infuse menjadi transmisi antara hidup dan matinya sang lelaki tua yang dulunya penuh dengan birahi, kini tergolek lemas tak ada yang peduli. Emosi yang melanda telah menggerogoti hati, jantung, paru-paru dan seluruh organ di tubuh si lelaki. Paru-parunya hitam teracuni sesal dan tangis yang tak terdeteksi.

Lelaki tua di ambang senja tak bisa bergerak lagi, bahkan untuk mengangkat jari-jari. Yang dulu amat perkasa sehingga bisa kawin lagi dan lari meninggalkan sang istri yang juga di ambang usia. Nyawanya seakan tinggal menghitung menit. Sepertinya malaikat maut sudah hendak datang menyambangi dan mengajak pergi. Sang istri muda hanya bisa meratapi bulan madu tak bisa di nikmati dan akan sebentar lagi status baru akan mendekati sesuai hitungan sang pencabut nyawa yang mempunyai kuasa atas hidup dan mati manusia. Tak bisa ia pungkiri hanya enam bulan ia menikmati menjadi seorang istri, status janda mulai menyambangi.

Si lelaki tua di hinggapi ketakutan yang teramat sangat. Ketakutan akan mati. Diam-diam ia berdoa meratap dalam hati, memohon kepada sang pemilik hidup untuk memberikan sedikit kesempatan untuk bertobat.

Ia berjanji, jikalau diberi kesempatan, ia akan menyelesaikan persoalan duniawi yang membelitnya antara ia dan sang istri tua, dan anak bungsunya yang keras hati. Memperbaiki hubungan silaturahim anatara ia dan sang istri, dan antara ia dan si putra bungsu. Di dalam keadaan antar hidup dan matinya ia tetap sabar dan setia menunggu kedatangan istri dan putra bungsu yang keras hati yang telah tega ia campakkan karena nafsu birahi.

Sang istri yang sudah lama ingin memaafkan datang dengan wajah sedih bukan buatan. Setelah sempat terombang ambing dalam lara hati, ia bermaksud pergi ke sebuah kota asing yang jauh dari suami yang mengkhianati.

Ia ingin bersembunyi dari tatapan anak-anak mereka, terutama putra bungsu mereka, Elang. Selain untuk meredam emosi dan menahan diri serta mengobati hati. Ia hampir saja bertekad untuk tidak kembali lagi, meski anak-anaknya tak putus asa mencari sang ibu yang telah putus hati.
Ketika transit di bandara, anak tertuanya menghubungi. Ayah masuk rumah sakit lagi. Kondisi antara hidup dan mati. Sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Cuma keajaiban yang membuat ia bisa bertahan hingga kini. Sebaiknya ibu kembali.

Sedangkan si putra bungsu yang keras hati telah mengucap sumpah dalam hati dan di depan kekasih hati, ia tak akan menemui ayah walau ia mati di telan bumi sekalipun. Namun sang kakak terus saja membujuk untuk pulang, siapa tahu ayah tak ada umur lagi. Sebelum ayah pergi kita harus bisa mengikhlaskan salah dan khilafnya. Jangan sampai kita menyesal nanti. Kita harus berbesar hati.

Semula sang putra bungsu tetap tak mau peduli. Tekadnya sudah mantap. Ia tak akan mau datang melihat walau sang ayah telah mati.
Namun setelah ia, merenungi kata-kata sang kekasih hati, ia hayati, kata-kata sang kekasih terasa kian meresap di kalbu." Memang tidak peduli, keras hati, penuh birahi dan mau menang sendiri, tapi, sebagai buah hati simpiran jantung, kita memang harus tetap berbakti, apalagi kau satu-satunya anak lelaki yang ia milik." Terasa melecuti hati dan sanubari sang putra bungsu.

Tiba-tiba ia berlari mengambil kunci mobil dan memacunya kencang-kencang, ia tak ingin kehilangan ayah yang walaupun bejat dan penuh birahi, namun sangat ia cintai. Karna ayah ia melihat dunia. Ia menyesali diri kenapa larut dalam emosi yang tak penting dan memusuhi darah daging sendiri.
Begitu juga sang istri, ia langsung menaiki penerbangan pertama menuju ke kota tempat ia dulu memadu kasih berpuluh tahun dengan sang suamii yang ia anggap tak berhati.

Mata lelaki tua itu sudah redup sekali. Seluruh tubuh ia rasa seakan mati. Ia tidak bisa apa-apa, walaupun hanya mengedipkan sebelah mata. Ia hanya bisa merasakan putra bungsu berada di samping kiri dan menatapnya dengan tatapan yang dia tak tau tatapan benci atau sedih. Di sisi kanan ia merasakan sang istri tua duduk sambil memegang sapu tangan yang telah basah di banjiri air mata. Ia sudah kehabisan tenaga untuk sekedar menyapa mereka, rasa sedih dan sesal telah meracuni fikirannya. Kekuatan dan ketegaran, serta semua kesombongan di masa mudanya terlucuti sudah saat ini. Ia merasa ini merupakan buah dari pengkhianatannya terhadap anak dan istri tuanya.
Ingin sekali ia menangis, namun itu tak bisa ia lakukan. Ingin sekali dia berteriak pada anak dan istri yang menangisi,

“Maafkan aku si lelaki tua renta yang tak tau diri ini.”

Namun yang ada Cuma semakin sepi.
Komentar Publish FB:

Nani Mariani, Hs Mbelink, Anita Rachmad dan 11 lainnya menyukai ini.

Kwek Li Na
bagus ...seakan-akan nyata dan pernah ada.

semoga bisa menjadi renungan buat kita semua.
jangan sampai menyesal saat ajal tinggal sejengkal.
... Baca Selengkapnya
saya suka caramu bercerita.

salam persahabatan.
25 Juli jam 20:35 • Hapus

Jurnal Sastratuhan Hudan
ini juga. prosawan sih.
26 Juli jam 8:18 • Hapus

Arif Gumantia
cerita yang membuat pembaca setia membaca sampai akhir kalimat...
26 Juli jam 16:00 • Hapus

Hanna Fransisca
Aku suka terharu kalau membaca ulang cerpen ini., Da. Jiwamu hidup dalam cerpen ini. Salam semangat tukmu, Ida maniiis.
26 Juli jam 17:25 • Hapus

Topan Asri
Emh... saya hanya seorang pengagum karya sastra... hah... cukuplah mereka yg prof itu yg menilainya... slamat ya ida nursanti basuni... semangat!!!
26 Juli jam 17:59 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
@kwek li na: salam persahabatan juga, wah jadi tersanjung dengan pujian dari mb....
@hudan : prosawan???? heheheh ada2 aja bang hudan
@thanx arief, heheheh cm lagi kangen ayahku saja saat membuat cerpen ne
@mb.hanna : aku kangen ma mb ne....selalu ajari aku untuk semangat ya mb....
@topan : semangat!!!!!!
26 Juli jam 18:09 • Hapus

Kika Syafii
Darah lebih kental daripada Air.
06 September jam 23:59 • Hapus

Zulfaisal Putera
Konflik rumah tangga, suami dan istri, perempuan lain, dan lingkungannya menjadi objek menarik untuk dieksplorasi. Tokoh lelaki tua yang Kamu ceritakan adalah realita hidup dalam sebuah keluarga batih yang sudah ada sejak dulu.
Cerpen narasimu ini asyik. Namun, akan lebih asyik jika ada muatan diaog yang lebih menghidupkan.

Tabik!
07 September jam 2:52 • Hapus

Shu Shan Wang
Cerita benar trasa nyata..
Ida lu mank hebat mencari ide cerita..
07 September jam 4:54 • Hapus

Shu Shan Wang
Cerita benar trasa nyata..
Ida lu mank hebat mencari ide cerita..
07 September jam 4:55 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
makasih kika buat apresiasinya....
bang zul, makasih sudah mau mengunjungi note seoarang yang baru mau belajar menulis ini bang....akan saya perhatikan usul abang...
shu...best friend of me...thanx.....thanx banget...lu juga bisa menulis dengan baik kok...
07 September jam 14:42 • Hapus

Purwono Nugroho Adhi
akhir sebuah pilihan,
ketika senja dirundung kepiluan,
entahkah fajar semerbak lagi
08 September jam 12:19 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
terima kasih mas adhi mau mengunjungi note saya ini...
sajak yang indah mas adhi....
08 September jam 21:29 • Hapus

Sayuri Yosiana
selalu asyik mengikuti cerita2mu Ida. karena kamu mengambilnya dari kehidupan sehari2 yg ada disekitar kita . lebh familiar . lanjut my lady ! chayooo ^_^
09 September jam 8:23 • Hapus

Anita Rachmad
waah....aku kok baru tau kalau diriku di tag utk baca cerpen keren ini ya ? soalnya di wall-ku tak nampak. tak apalah, fesbuk juga buatan manusia.

keren da. apik cerpen mu iki ! cerita ttg keluarga yang akrab dan pasti dialami beberapa keluarga.
09 September jam 12:05 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
Sayuri Yosiana ; maskasih sayuri....sudah mau mengikuti note aku sampai sekarang...

Anita Rachmad : piye to mb....hehheheheh
makasih lho mb....
09 September jam 12:14 • Hapus

Nani Mariani
kisah yg manarik dan bisa menjadi pedoman hidup para lelaki.., dan juga perempuan/isteri, dan ternyata diri lelaki itu semakin tua semakin mau disayangsayangi yaa., smile..
namun, apapun itu, darah lebih kental daripada tinta..,
manis say.., salam
09 September jam 18:06 • Hapus

Fira Rachmat
Ceritamu slalu enak tuk di nikmati dindaku sayang... makasih udah berbagi denganku yah, salam.
09 September jam 22:02 • Hapus

MATA KUCING

25 Juli 2009 jam 17:47

Aku benci melihat matanya, seperti mata seorang maling yang mengincar korban yang akan di bantainya. Kau akan melihat bayangan kelaparan di dalam mata itu, Rani. Mata yang buas untuk seorang laki-laki yang tampak selalu percaya diri dan terlalu bernafsu. Dan, mata itulah, sepasang mata yang membuatku benci menatapnya.

Siang dengan matahari yang terik menyengat kulit lenganku yang telanjang tanpa jaket jeans yang biasa kukenakan. Saat itu dia tengah menatapku dengan lapar, Rani. Membuatku terkejut. Diantara orang-orang yang lalu lalang dia terus menatapku, lekat. Dan saat itu, sepasang matanya yang lapar mengerjap, aku lalu teringat pada seekor kucing lapar di emperan toko emas tadi siang.

“Wah, dia pasti seorang maniak seks, aku yakin….”

Yah, tentu saja, dia merayuku. Aku mengatakan padanya, bahwa ia bajingan seks yang lapar. Ia membalas, mengatakan betapa semua ini, termasuk tatapan lapar matanya yang menelanjangi tubuhku, bukan semata-mata urusan ranjang. Memang, aku juga sering berganti pacar, malah sesering makan nasi tiap hari.

“Dan yang ini, akan kau jadikan teman makan juga?”

Aduh, Rani. Sudah kukatakan, aku tak suka matanya. Selalu saja mata itu mengingatkanku pada mata kucing yang kelaparan di emper toko atau mata maling yang mengincar korban. Menatap matanya, menjadi kengerian tersendiri buatku. Seperti ketika kamu merasa takut pergi kencing sendirian waktu kanak-kanak. Itulah, yang membuatku ingin ambil langkah seribu ketika berada di dekatnya. Aku juga tidak suka mendengar ia bicara. Terkadang, terdengar sepeti musik di film horror.

“Hahahhahaha…….laki-laki yang sangat-sangat menakutkan.”

Pasti. Ia selalu mengucapkan rayuan, yang paling gombal malah. Itu membuatku ketawa ngakak. Ia malah tidak canggung-canggung memelukku, walau akhirnya kutepiskan dengan kasar. Aku ingat, betapa jari tangannya yang besar-besar itu merangkul pundakku. Aku berani bertaruh, Rani. Kalau bercinta dengannya ia pasti mengeluarkan suara lenguhan keras. Saat orgasme ia pasti mendengus seperti banteng kalah perang. Aku juga yakin Rani, bercinta dengannya seperti bercinta dengan Harimau. Atau Drakula. Dan kau pasti tau, aku, tak akan pernah menyukainya. Mungkin karena dia amat menakutkan. Bersamanya aku merasa berada di lubang ular. Dan kupikir, pacarku yang sebelum-sebelumnya tidak ada yang sebegitu menakutkan seperti dia.

“Waduh…..”

"Mungkin, dia terlahir dari seorang kuntilanak".

“Aduh, kau jangan asal bicara.”

Bila aku sedang sendirian, dia dan bayangannya seperti ketukan pada pintu apartemenku di tengah malam. Membuatku mengkeret ketakutan. Lalu kuingat sorot mata maling di matanya yang membuatku ingin muntah. Dia bukan laki-laki yang kamu sering lihat di opera sabun. Yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekedar mendapatkan senyumannya. Sungguh, penampilannya lebih mirip pelayan toko yang habis di maki-maki majikannya. Dengan celana yang tak sesuai warnanya dengan kemeja yang ia kenakan. Berkumis tipis, tak rapi lagi. Dia tinggi besar untuk laki-laki Asia. Keringatnya meruapkan aroma yang tak jelas. Karena menurutku ia juga bukan laki-laki yang jelas.

“Ia tak pantas jadi pacarmu kukira.”

Tepat. Ia lebih mirip sebuah sepatu yang berdebu dan tak pernah di pakai. Memang karena tak suka, terlebih matanya yang lapar membuatmu tak ingin menyentuhnya. Tapi, entahlah, kenapa ia bisa seperti itu.

“Anggap saja ini sebuah selingan. Dan ini cerita asmara yang paling memuakkan, hahahahahahha……”
Kau harus tau Rani, terkadang kisah cinta bisa saja memuakkan, yah mesti tidak sememuakkan kasus pembunuhan atau perkosaan misalnya. Sampai saat ini aku sendiri masih heran, kenapa dia bisa sememuakkan itu buatku. Apa karena dia pria gendut yang bermata lapar?!

“Apa kau tak harus pulang malam ini?”

“Pulang ke mana?”

Aduh Rani, kalau kau lihat kucing dengan mata lapar di emper toko emas itu tadi siang, aku selalu merasa dia tengah mengawasi dan menelanjangi pikiranku. Setiap melihat kucing bermata lapar, aku jadi ingin muntah.

“Kau benar-benar tak suka dengan kucing?”

“Sangat.”

“Aku tak suka maling.”

“Tentu saja Sai, semua orang benci maling. Terutama Tuhan.”

“Aku benci tatapanmu, memuakkan.”

Ah, kenapa selalu ingin muntah jika membicarakannya. Padahal, pada saat-saat umur sekarang ini aku sangat mendambakan pasangan hidup bermata teduh. Bukan bermata maling seperti dia. Itulah alasan yang tepat aku menginginkan dia enyah dari pandangan ku, atau bahkan hidupku pula.

Aku ingin dia tau, betapa kucing yang bermata lapar itu tak sama indahnya dengan ikan mas koki yang bermata belo’.
Kenapa aku benci mata kucing yang lapar, atau mata maling yang mengincar mangsanya. Itu karena aku selalu teringat dengan laki-laki yang aku harus panggil ayah. Terpaksa kupanggil ayah. Ibu selalu mengatakan padaku, Sailendra kau harus waspada dengan mahluk yang bernama laki-laki. Dulu aku selalu bertanya-tanya kenapa aku harus hati-hati.

Selalu dengan mata yang layu, ibu bercerita bagaimana ayah meninggalkan kami hanya untuk seorang perempuan penjual nafsu. Aku masih berumur dua tahun saat itu. Ibu memohon-mohon sambil mencium kaki ayah, agar dia tidak meninggalkan kami dalam keadaan tidak tau hendak kemana. Sebulan lamanya aku dan ibu terlunta-lunta di pinggir jalan sebelum akhirnya ibu bekerja di pabrik kertas. Ibu tidak pernah mau menikah lagi, baginya laki-laki itu seumpama kucing yang lapar, akan terus memburu mangsanya hingga dapat, namun setelah ia mendapatkannya, ia akan pergi jauh.

Tak perduli tulang belulang mangsanya berserakan di tepi jalan.
Aku benci matanya, karena matanya mirip kucing dan tentu saja mirip orang yang terpaksa harus ku panggil ayah. Aku ingin sekali ia mengerti kenapa aq begitu membenci dia dan matanya. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku dengan mata kucingnya yang lapar mengincar seekor itik.

“Kau lihat, lihat kucing hitam di emper toko itu?!”

“Kenapa?”

Mata kucing itu mata yang lapar, mata maling.”

Ini adalah pertemuan yang kesekian tidak aku inginkan, namun aku tak kuasa menolak atau bahkan menghentikan pertemuan ini. Dia memelukku dengan jarinya yang besar-besar. Seperti jari-jari buruh kasar. Bahkan tepisan tanganku yang kasar tak jua mampu memindahkan tangannya yang terlanjur hinggap di tubuhku. Dari jendela apartemenku di lantai 7, langit malam tampak kelam, dan kian kelam saja, di tengah cahaya lampu kota yang semarak. Aku jadi teringat cerita ibuku, bahwa ayah memeluk perempuan itu dikala ibu terlelap di kamar rumah kami yang sempit dan berbau. Rasanya, sampai matipun aku tak akan melupakan hal itu. Aku membayangkan aku membunuh laki-laki yang sedang memelukku dengan penuh birahi itu, dengan pisau dapu yang biasa kusimpan di laci dapur. Pikiran itu muncul tiba-tiba saja dari kegelapan fikiranku dan kemudian terbang berhamburan memenuhi langit…..

“Kamu kenapa?” Ia menatapku dengan mata malingnya yang entah kenapa bisa membuatku bungkam malam itu.

Ia tiba-tiba melepaskan pelukannya dengan jengah, ia masih saja tidak bisa mengerti kenapa aku begitu membenci matanya. Aku bangkit, meraih jaket dan kunci mobilnya di atas meja. Aku berjalan menuju pintu apartemenku. Kurasakan tatapan matanya yang ganjil dari balik punggungku. Kutepiskan lengannya yang hendak memelukku lagi. Bisu.

Aku memang menginginkan kebisuan ini. Dan ingin semua berlangsung tanpa kata yang hanya akan membuat aku marah dan muak,
Seperti suara lonceng gereja yang teredam oleh angin, ponselku berbunyi memecah sunyi yang terbanting. Aku bergegas meraih ponselku tanpa suara. Ku lihat ia memandang ke luar jendela. Sampai akhirnya aku membukakan pintu apartemenku dan menyodorkan jaket dan kunci mobil padanya.
“Kau mesti pergi, Hans…” Kubuat suaraku sedatar mungkin. “Aku lelah dan muak melihatmu, pulanglah, anak dan istri menunggumu di rumah.”

Dia menatapku dengan tatapan mata yang belum pernah sama sekali ku lihat. Bukan tatapan seekor kucing yang lapar, juga bukan mata seorang maling pasar. Tapi tatapan pedih seorang pesakitan yang tau bahwa esok pagi akan mati. Dentang lonceng jam perlahan-lahan hilang di telan angin bulan September yang dingin. Cahaya lampu kota perlahan susut kemudian aus. Desah nafasnya meruap basah di telingaku. Kesunyian yang renyai mulai merayap. Dan dingin, mulai menusuk bagai pisau tak bermata.

Yah, Rani. Kini kau tau kan mengapa aku begitu membenci matanya, mata kucing yang lapar. Aku memang perempuan paling menyedihkan yang mungkin pernah kau tau di bumi ini. Karena, sekali aku jatuh cinta Rani, aku jatuh cinta pada laki-laki bermata kucing, persis seperti cerita ibuku.

Singkawang, 13 maret 2009
00:43 wib

Komentar Publish FB:

Anita Rachmad, Imron Tohari, Suhunan Situmorang dan 3 lainnya menyukai ini.
Bayu Soponyono
Bayu Soponyono
Cerpen yg huebat bro !
Emg dunia skrg hanya demi kata "PUAS" sdh tidak bakal peduli lg dg apapun yg membuat kt maju.
Semua karena budaya egoisme yg tlah merasuk dlm tiap pori2.
25 Juli jam 18:02 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
hehhehehe, syukurlah ada respons dari bung bayu
cerpen ne ku buat karena gerah dengan segala macam kebobrokan hidup yang ada
25 Juli jam 18:08 · Hapus
Ricky Idaman
Ricky Idaman
hey ida apa judul cerpen itu bagi dunk...!
25 Juli jam 18:47 · Hapus
Ricky Idaman
Ricky Idaman
hey ida apa judul cerpen itu bagi dunk...!
25 Juli jam 18:47 · Hapus
Ricky Idaman
Ricky Idaman
hey ida apa judul cerpen itu bagi dunk...!
25 Juli jam 18:47 · Hapus
Imron Tohari
Imron Tohari
cerpen yang bagus.

salam lifespirit!
25 Juli jam 20:58 · Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
Jurnal Sastratuhan Hudan
ih keren sekali
26 Juli jam 8:17 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Hohoho, ini dia cerpen yang kubilang liar imajinya. Topan mana ya? Apakah dia merasa tersindir hingga tak ada komennya? Huahahaha...

Keren, Da. Kutunggu cerpen baru, Da. Cobalah lebih fokus ke satu titik, pasti jauh lebih bagus. Ai, rindunya aku padamu.
26 Juli jam 17:23 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
@bung bayu : thanx for koment
@ ricky : kan ada judulnya di ats pak
@imron tohari : sebenernya bukan hanya pujian saya ingin sebuah kritikan
@bang hudan : hiks3xxx
@mb.hanna : hehehehhe miss u too mb, karna mb lho saya semangat menulis
26 Juli jam 18:03 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
Hip... Hip... Horeeee
26 Juli jam 18:23 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
hip hip mhoreeeeeeeeeeeeeeee juga
26 Juli jam 18:26 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
aih....matamata kucing ! menakutkan ya idanursanti cantik??? ho..ho.....pandanglah mata kucing itu dng dua bola matamu yg indah! dia pasti terbiritbirit ! ^_^
27 Juli jam 16:22 · Hapus
Sufriady Saleh
Sufriady Saleh
Endingnya, dalam konotasi positif, liar seperti mata kucing (atau) garong.
10 Agustus jam 3:29 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Light and tasty....nyam nyam nyam...
06 September jam 22:58 · Hapus

Pernikahan Rasti

28 Juli 2009 jam 17:00

“Aku akan menikah ayah.”

Sebaris kalimat pendek meluncur dari bibir Rasti mampu membuat ku tercengang. Hampir saja aku tak mempercayai pendengaran ku. Aku mengira Rasti tak pernah mau menikah. Dia selalu kesal setiap kali aku menyinggung masalah usianya yang tahun ini ia memasuki ambang 34.

“Kau benar-benar ingin menikah Rasti? Siapa laki-laki itu anakku?”

“ Temanku sewaktu sekolah SMU dulu ayah. Aku meminta persetujuan dari ayah dahulu. Minggu depan aku akan membawanya ke rumah. Apa ayah setuju?”

“Ayah pasti setuju nak, namun segala sesuatunya harus kita fikirkan dan rundingkan dengan keluarga besar kita Rasti.

Rasti tersenyum kecut.

“Apa memang harus meminta pendapat mereka ayah? Selama ini mereka tidak pernah mau tahu dengan kehidupan kita. Kenapa mereka harus di libatkan dalam pernikahan ku ini?”

Aku menggelengkan kepala. Aku mengerti kebencian Rasti pada kedua kakak perempuanku. Sejak istriku meninggal karena gagal ginjal, mereka tidak pernah memperdulikan kami. Tidak pernah pula memberikan pertolongan di saat usahaku jatuh bangkrut karena modal usaha telah habis ku pakai untuk berobat istri hingga ke Singapura. Bahkan, saat hari rayapun mereka enggan berbagi maaf dan mengacuhkan kedatangan ku dan Rasti saat bertandang. Semestinya, mereka perduli dengan aku adik bungsunya dan anak ku, sebagai satu-satunya keluarga kami.

Kenyataannya, kedua kakak ku itu sibuk dengan keluarganya masing-masing. Aku bersusah payah membangun usahaku. Jatuh bangun dan berkeringat darah. Dari berhutang dengan lintah darat, hingga menjual satu-satunya rumah kami. Hingga kini usaha ku kembali maju. Dan Alhamdulillah aku bisa menguliahkan Rasti ke negeri kincir angin. Itulah sebabnya Rasti bertekad untuk tidak memperdulikan bibi-bibinya.

Selesai kuliah, ia langsung memasukkan lamaran pekerjaan ke berbagai kantor dan perusahaan asing. Ia tidak mau bergantung padaku. Itulah yang aku kagumi dari anakku. Begitu di terima di salah satu perusahaan minyak internasional Rasti menjadi gila kerja. Prestasinya melonjak dengan cepat. Menurutnya, direktur tempat ia bekerja sangat menyayanginya. Tidak heran dalam hanya beberapa tahun anak perempuanku telah berhasil sekolah keluar negeri untuk mengambil program master dengan biaya perusahaan. Dan sepulangnya dari menggondol gelar master, ia di percayai memangku jabatan General Manager.

“Sejahat apapun bibi-bibimu tetap saja mereka kakak-kakak ayah Rasti. Kita tidak bisa melaksanakan pesta pernikahan tanpa mereka. Sudahlah nak, simpan kebencian mu itu. Semua ini demi dirimu juga.” ujarku melembutkan hati anakku itu.
Rasti mengangkat bahunya. Dia memang malas sekali berdebat denganku, meski dia sebenarnya selalu menang jika bicara dengaku.

“O ya ayah, namanya sama dengan ayah.”

“Martin?”

Rasti mengangguk cepat. Aku bisa melihat mata anakku berbinar. Begitulah orang yang sedang jatuh cinta. Dulu aku tidak pernah merasakan jatuh cinta. Keluargaku tidak membiarkan ku untuk bermain-main dengan cinta, alasannya aku adalah anak laki-laki satu-satunya. Dan aku harus menjadi tulang punggung keluarga dengan melanjutkan usaha perkebunan kelapa yang sudah di wariskan dari jaman buyut kami. Aku dan istriku di wajibkan mempunyai anak laki-laki untuk meneruskan tradisi keluarga itu. Namun ternyata aku malah mempunyai seorang anak perempuan. Mungkin karena hal itulah aku dan anakku Rasti seperti di buang keluarga.

Lalu masalah lain timbul setelah anakku dewasa. Kakak-kakaku mulai menyodor-nyodorkan jodoh untuk rasti. Alasan mereka jodoh yang mereka cari adalah orang yang benar-benar pantas untu menjadi penerus keluarga kami, yang menurut Rasti itu terlalu berlebihan. Dan bisa ditebak reaksi Rasti sangat-sangat dingin. Dulu, mereka tidak perduli nasib kami, kenapa setelah kami sukses mereka baru mau tahu apa urusan kami?

Jaman dulu orang tua bisa memaksakan kehendak pada anaknya, namun sekarang bukan jaman Siti Nurbaya, itu kata Rasti. Anak perempuanku itu terlalu pintar , sehingga aku kehilangan cara untuk memintanya segera menikah. Semakin di desak semakin malah semakin berontak. Bahkan Rasti mengancam tidak mau pulang ke rumah, jika aku terus mendesaknya.

Lama juga aku tidak lagi mendesaknya dan tak lagi mengungkit masalah pernikahan dengan anak gadisku yang keras kepala itu.

Melihat Rasti yang bersikukuh tidak mau segera menikah timbul gunjingan bahwa anakku punya kelainan seksual. Rasti di kira Lesbian oleh keluarga besar kami. Mereka sibuk mengira-ngira bahwa anakku cenderung menyukai perempuan, gara-gara Rasti sering pulang ke rumah mengajak teman sekantornya, Rani dan menginap di rumah kami. Meski tidak percaya, namun kenyataannya anakku Rasti tidak kunjung berumah tangga, jangankan menikah, punya pacar saja dia tidak.

“Martin, kau bawalah si Rasti untuk berobat ke psikiater, jangan-jangan ia memiliki kelainan seksual, apa kau tak mau melihat anakmu berumah tangga? Bila tidak segera kau tanggulangi , jangan harap kau bisa melihat anakmu memiliki suami.”

Saat kuutarakan maksud ku pada Rasti, dia marah-marah dan anak perempuan ku satu-satunya itu merasa terlecehkan, dan ia menuduhku tidak percaya pada Allah.

“Ayah, kita ini orang beragama, percaya pada takdir Allah, kalau memang sudah waktunya aku menikah, pasti akan di berikan jodoh itu padaku, ayah selalu mengatakan pada ku bahwa rezeki dan jodoh itu sudah di atur oleh-Nya?”

Ucapan Rasti membuatku merinding dan merasa teramat kecil. Maksudnya memang bukan untuk mengguruiku, tetapi tetap saja yang mengatakan hal tersebut Rasti, anakku semata wayang.
Aku bersyukur ya Allah, akhirnya anakku, anak perempuanku satu-satunya, belahan hati simpiran jantung, akan mengakhiri masa-masa pergunjingan orang, masa-masa kesendiriannya. Hampir saja aku putus asa, karena tak mampu mengubah pendiriannya untuk mencari lelaki yang sesuai dengan harapannya.

Rasti menepati janji membawa calon suaminya ke rumah kami. Begitu sebuah mobil berhenti di depan rumahku, aku melihat kakak-kakakku menaikkan alisnya. Mereka begitu ingin tau bagaimana calon suami Rasti. Saat Rasti muncul bersama seseorang , kedua kakakku itupun mulai memasang wajah sok menilai. Ah, begitulah kakak-kakakku.

Lelaki itu memang tidak tampan, namun terlihat sangat berpendidikan. Sikapnya sangat sopan, membuatku tidak merasa kecil berbicara dengannya. Walau baru pertama kali bertemu, aku sudah menyukai Martin, dan aku yakin sekali bahwa lelaki itu memang lelaki yang tepat buat Rasti. Namun saat Martin mengatakan akan membawa rombongan keluarganya untuk melamar, aku melihat kedua kakakku keberatan. Rupanya mereka tidak sependapat dengan aku, mereka tidak menyukai Martin, dengan alasan belum siap kedua kakakku memintaku pada Martin untuk minta sedikit waktu untuk berfikir. Tidak boleh tergesa-gesa memutuskan. Baru sekali bertemu, itu alasan mereka.

“Kami harus menyiapkan segala-galanya, saya harus membicarakan ini dengan keluarga besar kami yang lain dan nanti kami akan mengambil keputusan kapan nak Martin dapat melamar Rasti.”

“Kami sepakat tidak mau mengulur-ulur waktu ayah. Cukuplah masa perkenalan kami yang telah bertahun-tahun. Bukankah begitu Martin?” Rasti melirik Martin yang duduk di sampingnya.

“Mana bisa begitu Rasti, apa kata keluarga yang lain jika kau tidak memperkenalkan calon suamimu kepada mereka?” bantah kakak pertamaku dengan cepat.

“Rasti benar bibi. Kami ingin menikah secepatnya. Perkenalan dengan keluarga besar yang lain kan bisa menyusul setelah kami menikah.”

Tanpa basa-basi lagi kedua kakakku itu buru-buru meninggalkan rumah kami dengan menggerutu. Kalau bukan karena mereka adalah kedua kakakku, aku tak sudi mendengarkan kata-kata mereka. Sama seperti Rasti aku juga muak dengan sikap mereka. Demi pernikahan anakku aku harus menyingkirkan perasaan muak itu.

“Apa calon suami si Rasti itu adalah lelaki berpendidikan dan jelas asal usulnya Martin?” Tanya kakak sepupuku Rusli.

Aku tersenyum kecut. Kedua kakakku itu memang penyebar berita, dengan cepat sekali berita tersebar keseluruh keluarga besar kami. Tidak ada berita yang lewat begitu saja dari telinga-telinga yang lapar. Suara jarum jatuh di dalam rumah kami saja pun bisa terdengar bunyinya sampai ke keluarga terjauh sekalipun.

“Iya, namanya Martin, ia bersekolah di Amerika, hanya saja ia berasal dari keluarga sederhana. Ia dapat melanjutkan pendidikan karena ia mendapat bea siswa. Keluarganya berencana akan datang melamar dalam waktu dekat. Bagaimana menurut kalian?”

“Aku tidak setuju. Bagaimana ia mau membuat pesta yang besar? Kalau ia berasal dari keluarga sederhana. Bisa mendapat malu keluarga kita nanti jika resepsi pernikahan hanya biasa-biasa saja, lagi pula apa kau tidak malu, bermenantukan laki-laki miskin seperti dia?”

“Tapi ia lelaki yang berkemauan keras, ia juga mempunyai pekerjaan yang bagus.” selaku.

“Memangnya berkemauan keras saja sudah cukup untuk membangun sebuah rumah tangga? Lagi pula ku dengar si Rasti dan calon suaminya tidak mau mendatangi kerumah kami untuk berkenalan, dasar tidak tau sopan santun berkeluarga.”

Ucapan Rusli membuat wajahku memerah. Dia mengatakan anakku tidak tau adat dan sopan santun berkeluarga. Padahal anakku susah payah ku didik menjadi terpelajar dan beretika.

“Jadi harus bagaimana?”


“Pinta mereka untuk mengunjungi kami satu persatu. Yah, walaupun akan memakan waktu yang lama karena keluarga besar kita tidak hanya di pulau Kalimantan, bahakan sampai ke Sumatra. Tapi itu merupakan tradisi keluarga, Martin, aku dulu waktu mau menikah yang bukan dengan perjodohan juga demikian kan? Lain hal jika keluarga yang mencarikan calon.”

Mendengar ucapan sepupuku itu aku tersenyum getir. Apa yang dikatakan oleh Rusli itu memang benar adanya, dalam tradisi keluarga kami, siapa yang menikah bukan karena perjodohan keluarga, jika ingin menikah dan di terima dengan baik oleh keluarga memang harus menjalani tradisi mengunjungi dan memperkenalkan si calon kepada semua keluarga dekat. Yang jaraknya dekat tidak sulit, namun yang terpisah pulau itu yang berat. Karena memakan banyak waktu, dan juga biaya. Untunglah dulu aku dan istriku menikah karena di jodohkan.

Jadi tidak heran Rasti yang telah mengetahui tradisi keluarga kami merasa keberatan untuk pergi mengunjungi keluarga memperkenalkan si calon suami. Bagaimana pula ia akan meninggalkan pekerjaannya di kantor dan juga perkerjaan Martin?
Rasti hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika aku mengatakan semua hal yang sudah di rencanakan dengan keluarga besar.

“Sudah kubilang ayah, kami tidak mau menunda-nunda pernikahan kami. Terlebih harus pergi mengunjungi sanak saudara. Memakan waktu lama Ayah "

“Paling lama hanya lima atau enam bulan Rasti. Ayah rasa waktu itu tidak lama, ayah akan menanggung sebagian besar biaya pernikahan kalian anakku…”

“Tapi, mana ada waktu kami untuk cuti ayah, belum lagi mengurus persiapan untuk resepsi pernikahan dan urusan pencatatan di catatan sipil, tidak ada waktu ayah, sedangkan umurku semakin bertambah. Sudahlah Yah, tidak usah terlalu menuruti kata-kata keluarga dan tradisi yang konyol itu. Nanti malah ayah bisa jatuh sakit karena terlalu berat berfikir.”

Rasti merebahkan kepalanya di pangkuanku, aku membelai dengan penuh kasih sayang kepalanya yang berambut legam.

“Ayah cuma punya anak semata wayang saja, dan ayah mau melihatmu meneruskan dan tidak melanggar tradisi yang telah berlaku berpuluh-puluh tahun, anakku. Jangan biarkan kita di buang keluarga untuk kedua kalinya.”

“Ayah…”

“Kabulkan sekali ini saja. Bukankah selama ini, ayah tidak pernah memaksamu untuk melakukan sesuatu yang tidak kau sukai,” bujukku seraya mencium ubun-ubun kepalanya.

Rasti menghela nafas. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Tanpa terasa enam bulan sudah berlalu. Semenjak Rasti pamit. Bila tak salah menghitung, kurasa sudah hampir sepuluh bulan . Sejak tiga bulan terakhir Rasti tidak pernah lagi pulang kerumah. Mungkin ia kesal karena aku terlalu menurutkan kata-kata keluarga yang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan pernikahannya.

Setiap kali aku menelepon ke rumah, ke kantor ataupun ke ponselnya, Rasti tidak pernah ada atau mau mengangkat telepon dariku. Aku tidak berani mencarinya ke Jakarta.Rasti marah jika aku datang tanpa memberinya kabar terlebih dahulu.

Sebulan ini aku berfikir, mengapa aku begitu bodoh mau terhasut oleh keluarga besar kami yang selama ini tidak pernah mau tahu bagaimana beratnya kehidupan yang kami jalani, begitu juga kedua kakakku, aku mau saja menuruti kata-kata mereka yang tak pernah peduli apa yang kami jalani. Sekarang, tiba-tiba saja mereka mau memasuki kehidupan aku dan anakku. Betapa bodohnya aku masih mau memakai tradisi konyol keluarga kami, padahal, anakku, sudah di ambang pernikahan. Aku menyesal. Sangat merasa kecil.

Aku sudah mempersiapkan segalanya, aku berubah fikiran. Biarlah fikirku, aku saja yang mengurus pernikahan anakku, biarlah aku dibuang sekali lagi oleh keluarga, tak apa. Aku telah membeli sejumlah perhiasan emas kemarin untuk Rasti. Aku juga telah memesan gedung dan catering. Perancang pakaian sudah ku panggil kemarin untuk menyiapkan sketsa yang cocok untuk anakku Rasti. Aku juga telah menyewa even organizer terbaik untuk mempersiapkan pesta anakku. Tinggal menunggu Rasti datang dan meminta keluarga Martin datang melamar sekaligus menetapkan tanggal. Walaupun tindakan ku ini mendapatkan cibiran dan tatapan sinis dari kedua kakakku.

Kedatangan Rasti membuatku teramat tidak sabar. Sesekali aku melongok ke jalanan lewat jendela . Aku juga selalu memegang ponsel, dan berjaga-jaga di dekat telepon rumah, siapa tahu Rasti menelepon dan memberitahukan akan pulang.
Penantianku akhirnya tidak sia-sia. Suatu petang, Rasti pulang dengan membawa sebuah koper. Mungkin dia sudah membeli pernak-pernik untuk pesta pernikahan nanti.

“Kau membuat ayah berjamur menunggumu nak, “ gerutuku seraya membantunya membawa koper.

“Aku sibuk, Yah.” Sahutnya tanpa memandangku.

“Apa kesibukanmu di kantor lebih penting dari pesta pernikahan?”

Rasti menatapku tercengang. Aku tersenyum melihat reaksinya. Mungkin dia tidak menduga aku akan mengatakan sesuatu yang selalu di tunggunya. Aku menggamit lengannya dan mengajaknya duduk di kamarnya, aku menceritakan apa yang telah aku lakukan dan memperlihatkan apa yang telah aku persiapkan untuk pernikahannya.

“Kau menyukai semuanya sayang?”

Rasti menghenyakkan pantatnya di atas tempat tidur. Sesaat aku menangkap kemurungan di wajahnya. Aku segera duduk di samping Rasti dan perlahan memaksanya melihat ke wajahku.

“Kenapa Rasti, kamu tidak suka dengan apa yang ayah persiapkan? Kalau tidak suka kau boleh menggantinya nak.”

“Bukan begitu ayah. Aku suka pilihan ayah, tapi….”

“Tapi apa?” potongku cepat.

Rasti berdiri dan mendekati jendela kamar. Aku memandang punggungnya yang sedang membelakangiku.

“Aku batal menikah dengan Martin ayah. Orang tuanya kesal dan merasa teremehkan oleh sikap kita. Mereka mengira ayah sengaja mengulur-ulur waktu pernikahan itu, karena mereka orang biasa. Mereka juga menyangka kita telah menolak Martin dengan halus. Minggu ini Martin akan menikahi gadis lain…”
Dadaku perih seperti di tusuk-tusuk pisau tajam. Tiba-tiba aku tidak dapat bernafas, mataku berkunang-kunang dan tubuhku menjadi sangat ringan. Aku masih mendengar Rasti memanggil-manggil namaku.

Singkawang, 27 juli 2009


Komentar Publish FB :


Sufriady Saleh, Herry Herdinata, Sayuri Yosiana dan 4 lainnya menyukai ini.

Bagas Dwi Bawono
dadaku ikut menyesak...terawang meringan....
nice Ida....
28 Juli jam 17:19 • Hapus

Hanna Fransisca
Bahagianya aku menemukan Ida yang kukenal. Pembuka cerpen lari ke tokoh 'ayah'. Dan ayah yang menceritakan kehidupan putrinya. Ida selalu punya cara tersendiri dalam bertutur cerita. Unik. Aku suka, Da. Tinggal dipadatkan. Jadi deh. Atau kejutan yang lebih dasyat. Tadinya aku sangat berharap ada sedikit permainan dalam cerpen ini dengan nama Martin... Baca Selengkapnya itu. Hiks... Ok deh! Karena dah senja, aku harus pulang ke rumah. Asyik nikmati ceritamu. Kutunggu lagi cerpen lainnya. Ayo, aku selalu percaya potensi dan bakatmu yang satu ini. Salam cerpen, Ida. Muuuuaaah. Aku ingin Ida tersenyum selalu. Oke?
28 Juli jam 17:52 • Hapus

Anita Rachmad
konflik keluarga memang selalu menarik dikisahkan. tidak ada habisnya. termasuk kisah bujang lapuk yang di buru kawin oleh keluarga, menjadi ironis tersendiri di tengah model hidup gaya baru perempuan yg mandiri. i am single and i am happy ! begitu katanya.
apa pun idemu ida nursanti basuni yang cantik, cerpenmu kali ini mengalir indah meski kurang ada konflik yang meruncing, padahal kesemptan berkonflik itu nyata muncul di cerpenmu.
peluk cium dari malang ^_^
28 Juli jam 19:04 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
thanx, buat, mas bagas, mb.hanna, mb. anita : komentar kalian membuat aku serasa hidup kembali, padahal beberapa jam yang lalu aku terkapar mati...............
28 Juli jam 19:41 • Hapus

Anita Rachmad
ha ? mati ? kejam nian izroil ! mematikan zat yang belum ingin mati

^_^
28 Juli jam 19:43 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
hehehhehehe, bukan tubuh ku yang serasa mati mb, tapi jiwaku,
28 Juli jam 19:46 • Hapus

Anita Rachmad
duuh...sedihnya. jangan dong ! nanti aku lho.....nanti aku nangis lhooo........hik..hik..huaaaaa
28 Juli jam 19:57 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
gpp mb...menangislah......ga da yang liat ini
hehehhehehe
28 Juli jam 19:59 • Hapus

Sayuri Yosiana
wow akhir yg tragis ya...menarik banget kisahnya.
29 Juli jam 2:35 • Hapus

Herry Herdinata
kadang2 kita hrs menanggng apa yg dilakukan orng tua,tapi bgaimanapun jg mereka adalh orang tua kita yg memberi kita kehidupn.tidk ada orang tua yg tidak syang sama anaknya,bgaimanapun jg kehidupan kita tlh diatur oleh thn yg maha esa,apapun jalannya itulah yg terbaik bagi kita.kehidupan ini tidak berakhir smp disini,seperti kta kwek li na:ranting yg patah akan tumbuh tunas yg baru,yg penting semangt jngn menyerah.semangat lg ya,,,
29 Juli jam 9:27 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
@sayuri : thanx.......
@herry: makasih, semangat
29 Juli jam 13:28 • Hapus

Jurnal Sastratuhan Hudan
besok pagi kubaca ya ida: panjang. dan menarik. ada sesuatu yang akan mengejutkan rasanya dari cara memulai cerita itu: semacam tragedi. baru kubaca di star nya saja. asik.
30 Juli jam 21:05 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
hehhehehe, bang hudan aja udah penuh kejutan, apalagi komentar bang hudan
wuihhh aku tunggu lho bang hudan
30 Juli jam 21:35 • Hapus

Sufriady Saleh
panjang, tapi berharga tuk dibaca berulang. Aku pernah mengenal rasti dalam sosok seorang lelaki.
10 Agustus jam 3:16 • Hapu

ne cerpen favorite aku....Hidup TKW

Sunday, September 18, 2005
Seharusnya Berjudul Celana Dalam

Cerpen Etik Juwita

Sundari sedang memasukkan baju-baju kotor ke mesin cuci ketika suara lantang majikan perempuannya menggema dari arah kamar tidur utama.

"Cundaliiii!!" jerit itu terdengar lagi. Sundari terkesiap, gugup. Sundari tahu benar, ketika namanya disebut lengkap begitu sesuatu yang luar biasa pasti sedang terjadi. Tiga bulan tinggal bersama keluarga asing yang menjadi majikannya, sudah membuatnya mulai mengerti kebiasaan tuan dan nyonyanya.

Sundari mencoba mengingat-ingat, apa kira-kira yang telah diperbuatnya pagi ini atau kemarin malam. Sundari yakin tidak ada yang tidak wajar. Memang, sejak kepulangannya dari Amerika kemarin sore, Mam tak habis-habisnya menekuk wajah. Sepertinya ia menyesal telah pulang. Tuan pergi ke China, berangkat dua jam sebelum Mam kembali. Sundari buru-buru memindahkan semua baju dari dalam keranjang ke mesin cuci. Tapi, belum sempat ia menuangkan deterjen, suara majikannya terdengar dekat. Menyembul dari pintu dapur, "Cundaliiii!!" Sundari menoleh, dan tanpa diperintah lagi mengikuti langkah majikannya. Dag dig dug jantungnya berirama bingar.

"Look!!" jari lentik majikannya menunjuk laci pakaian dalamnya yang terbuka. Sundari mendekat, mengamati setiap pernik di dalamnya. Rapi, tidak ada yang salah letak. Beberapa saat Sundari cuma tertegun. Sampai majikannya dengan menggunakan sisir mencoba mengangkat sesuatu (celana dalam!). Sundari tetap tidak mengerti.

"It’s your panty, isn’t it?" berkata begitu Mam melotot ke arahnya sambil menunjukkan celana dalam yang dirapikanya beberapa hari lalu. Waktu itu Sundari sempat tersenyum geli, berpikir, mungkin Tuan sedang kangen sama Mam hingga perlu mengeluarkan celana dalamnya yang paling bagus --yang ini Sundari belum pernah lihat sebelumnya, lalu menjemurnya di balkon. Saat merapikannya, Sundari merasa tidak perlu bertanya pada Tuan soal celana dalam itu. Tidak sopan, pikirnya. Tapi, menghadapi sikap nyonyanya yang seolah telah lupa sama sekali dengan barang milik pribadinya, kontan Sundari jadi salah tingkah.

"Nnn... no.. no Mam. My panty is big-big one," kata Sundari akhirnya. Mendengar jawaban Sundari, Mam mengerutkan dahi hingga alisnya yang bergaris tajam saling bertaut. Wajahnya semakin kelihatan judes. Matanya yang sipit mulai kelihatan merah dan berair. Mam mulai menangis. Sundari semakin salah tingkah. Ia ingin mengatakan pada Nyonya, mungkin sebaiknya Nyonya menelepon dan menanyakan pada Tuan soal celana dalam yang diributkannya itu. Tapi, segera diurungkannya. Dengan bahasa Inggris patah-patah sambung, bagaimana mungkin ia akan mampu menjelaskan pada Nyonya? Sundari diam dalam kebingungan. Ia hanya menuruti langkah majikannya saja ketika ia bergegas menuju kamar Sundari. Sambil sesenggukan Nyonya membuka laci pakaian Sundari. Foto usang Parjo meringis di depan sepeda motor tetangga, terlihat. Sundari tersipu. Mam mengamati isi laci Sundari agak lama, dan dengan tangis yang semakin menjadi ia menenteng celana dalam murahan berukuran XL milik Sundari. Tangisnya semakin keras, meraung-raung.

Sehari itu, Nyonya mengurung diri di dalam kamar. Bahkan, ketika makan siang pun Nyonya menolak keluar. Sundari berusaha santai dengan mengerjakan rutinitasnya. Saat Nyonya memanggilnya untuk membantu memasukkan baju-bajunya ke dalam tas besar, Sundari tidak merasakan keganjilan apa pun. Besoknya, Nyonya pergi bersama tas besarnya setelah berpesan kepada Sundari untuk tidak pergi ke mana-mana. Sundari yang memang terbiasa tak pergi keluar rumah, cuma mengangguk-angguk.

Sundari mulai mampu meraba apa yang terjadi. Dulu, dua bulan lalu, Nyonya pernah marah besar kepada Tuan. Gara-garanya, Tuan terlambat pulang. Padahal, Nyonya menunggunya untuk makan malam bersama. Sampai larut malam keduanya masih riuh adu argumen. Hingga tiba-tiba, Tuan menggedor pintu kamarnya dan menyuruhnya mengambilkan peralatan P3K. Esoknya, Sundari melihat pergelangan tangan kiri Nyonya diperban. Mungkin Nyonya mencoba bunuh diri. Nyonya memang orang yang cemburuan.

Sepekan setelah kepergian Nyonya, ketika persediaan makan mendekati habis, Nyonya pulang bersama seseorang dari agen penyalur tenaga kerja yang memasokkan Sundari ke majikannya di Hong Kong.

"Cundali, kamu punya majikan mau celai. Kamu punya kelja tidak ada. Kamu dipulangkan," kata Miss Lam berusaha memberi pengertian pada Sundari. Saat itu Sundari hanya ingat Kang Parjo, suaminya di dekat sepeda motor tetangga, meringis. Padahal Sundari ingin menangis.

***

"Indonesia, hamaiya?" sapa seseorang dari arah samping Sundari, ketika ia sedang mengamati lalu-lintas orang di ruang tunggu Bandara Chek Lap Kok.
"Ya."
"Dipulangkan meh?" tanyanya lagi. Sundari merasa agak gerah dengan pertanyaan itu. Tapi mencoba tenang.
"Kok tahu?" katanya balik bertanya.
"Rambutnya pendek dan bawaannya sedikit ma!"

Sundari tersenyum getir. Lalu perempuan yang menyapanya itu pun duduk di sampingnya. Berbincang-bincang dengan bahasa negeri sendiri --meski Sundari merasa bahasa perempuan itu agak dibuat-buat-- Sundari merasa akan kembali ke dunianya. Tiga bulan ia harus memelajari bahasa asing patah-patah bercampur bahasa isyarat. Menelan bulat-bulat dan berusaha memahami budaya yang jelas berbeda dengannya. Berpikir itu hanyalah bagian yang harus dijalaninya untuk mewujudkan mimpi punya kehidupan yang lebih layak. Mungkin seperti Budha yang mesti menjalani Samsara sebelum mencapai Nirwana. Apalagi bila ia ingat kebiasaan majikan yang suka marah, bicara dengan membentak, tertawa ngakak, menangis sejadi-jadinya, serta-merta Sundari merasa lelah. Kelelahan yang jelas menggurat di wajahnya yang bulat.

Lalu Marni, gadis di sebelahnya itu, siapa menyangka ternyata bekerja di flat yang sama dengannya! Satu tingkat di atasnya. Marni juga dipulangkan.

"Namanya majikan ya Mbak, salah bener ya maunya bener. Hamai sin? Ngapain Mbak dipulangkan?" Marni bertanya kepada Sundari.
"Majikanku cerai. Kamu?"

"Karena celana dalam! Jisin! Dasar majikan nggak tahu diuntung! Seenaknya bilang aku cerob..."
"Celana dalam? Jangan-jangan warnanya merah muda?" potong Sundari.
"Haiya, haiya!"
"Ada renda-renda di samping kanan dan kirinya ya?"
"Haiya!!"
"Kecil, mereknya Sexygirl?"
"Haiwo!! TIM CHI CEK? Kok tahu?"

Sundari bengong, teringat ia akan celana dalam merah muda yang telah berubah jadi guntingan kain kecil tak beraturan di kamar majikannya. Nyonya bilang, "Jangan dibuang, biar Tuan tahu."

Mengingat nasibnya, nasib Marni, juga nasib majikannya, Sundari tersenyum tanpa sadar. Seseorang dengan kulit sewarna periuk gosong, di sebelah kiri pintu masuk, menyambut senyumnya. Sundari mengalihkan pandang cepat-cepat kepada Marni, "Ceritanya singkat. Nanti aku ceritakan di dalam pesawat," katanya, karena pengeras suara itu sudah meneriakkan pengumuman bahwa pesawat menuju Surabaya akan segera lepas landas.

Marni cuma mengangguk sambil melongo.***

Hong Kong, 24 April 2005

Catatan:
- Etik Juwita adalah salah seorang buruh migran di Hongkong yang kini merintis menjadi cerpenis. Cerpen ini salah satu karya terbarunya, yang Kamis (15/9) lalu dibacakannya bersama cerpenis buruh migran lainnya, Denok Rokhmatika di Galeri Surabaya. Etik yang asal Blitar, baru pulang dari Hongkong, 13 September lalu, setelah empat tahun bekerja menjadi TKW di negeri itu. Dia berencana melanjutkan studinya di perguruan tinggi.
- My panty is big-big one = My panties are bigger than his one.
- jisin: gila
- hai wo: o, begitu!




catt:
semoga yang membacanya juga menyukai cerpen ini seperti aku menyukainya...
hidup TKW

Komentar publish:

Anda, Sandra Palupi, Fira Rachmat, Frans. Nadeak, dan 10 orang lainnya menyukai ini.

Topan Asri
Ntar ku baca dulu y Ida.... besok br q coment stelah "bergelut" ma cerpen ini... ciayo... ^_^
17 Agustus jam 23:14 • Hapus

Kika Syafii
Seperti inilah sastra hendaknya. Hidup TKW!
17 Agustus jam 23:17 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
thanx to
@topan : janji ya komentar besok...
@kika syafii : yup....tulisan ini membuat aku tak terasa sudah membacanya habis...namun kesannnya kuat sekali
hidup TKW
17 Agustus jam 23:18 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
thanx buat jempol ungilnya ya mb kwek lina
17 Agustus jam 23:21 • Hapus

Kwek Li Na
bagus cerita.

nasib tkw kadang malah mirip barang di pasar malam. kandang di pandang sebelah mata. kadang kehujanan, kadang panas oleh keadaan.
terimakasih telah berbagi kisah ini.
17 Agustus jam 23:23 • Hapus

Kika Syafii
Rata-rata penulis, menuliskan pengalamannya. Maka ceritanya pun akan mengartikan siapa dirinya. Begitu juga dengan penulis lainnya, terkadang penulis tidak menyadari bahwa tulisannya itu mengartikan dirinya.
17 Agustus jam 23:27 • Hapus

Jeppe Indrawisudha
Sorrrrryyyy... Aku mengendap-endap untuk menumpang baca. Ternyata cerpen ini ciamik! Nggak rugi ngintip-intip deh... Thx! ;)
17 Agustus jam 23:27 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
thanx to :
@Kwek Lina : sama2 mb...aku juga suka baca note mb...
penuh filosofi kehidupan
@terimakasih yang sudah memberikan jempol mungilnya buat note ini
17 Agustus jam 23:28 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
Kika Syafii : bener bung kika, biasanya penulis memang mendapatkan inspirasi dari engalaman hidup...namun biasanya itu lebih bisa di jiwai.....

Jeppe Indrawisudha : hehehehehhe, aku jadi merasa aku yang nuli cerpen ne, padahal bukan...hiks...memang cerpen ne keren..makanya ku nobatkan jadi salah satu cerpen favorite aku
17 Agustus jam 23:33 • Hapus

Sayuri Yosiana
aq jd inget mba Eny kusuma yg juga mantan tkw klo nggak salah di hongkong juga ya, yg dengan cerdasnya sukses mengkaryakan tulisannya lewat sebuah buku yg judulnya Anda Luar Biasa.Dan menjd best seller. kebetulan aq punya. Banyak orang tak percy seorg Eny yg hanya tamatan SMA dan hanya buruh di negeri org, bisa menulis dgn sangat baik dan bhs yg smart. Bravo TKW! tak selamanya nasibmu berakhir dgn mengenaskan ternyt. salut. makasih ida dah share.
17 Agustus jam 23:34 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
terimakasih buat jempol mungilnya.....buat yang ngerasa memberikan jempol...
hehehehhehe
17 Agustus jam 23:34 • Hapus

Rosyid E. Abby
Hidup TKW!!! Meski sekilas kubaca, betul2 karya cerpen yg meneyentuh...
17 Agustus jam 23:35 • Hapus

Jeppe Indrawisudha
Penulisnya ada di fb gak ya? Kalau baca cerpen ini nampak betul penulisnya sangat berbakat. Idenya terpaparkan hebat dalam setiap kalimat dengan alur yang apik. Setiap dialog pun terasa mendekatkan kita pada situasi sebenarnya. Dan lebih hebatnya lagi, dia mampu memparodikan situasi tertekan yang dialami banyak TKW. Hebat!
17 Agustus jam 23:36 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
hehehehhehe, makasih juga buat yuri...
hemmm, TKW sekarang ga bisa di pandang remeh....
karena di negeri orang mereka belajar banyak hal yang tidak didapat di negeri sendiri
17 Agustus jam 23:36 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
Jeppe Indrawisudha : aku ga tau neh ada apa ga penulisnya di FB kebetulan aku iseng buka-buka google, nemu deh cerpen ini...

Rosyid E. Abby : yah, ternyata seorang TKW pahlawan devisa mampu membuat sebuah cerpen yang apik....

Ali Fanie : thanx ali...
17 Agustus jam 23:46 • Hapus

Ping Homeric
hahaha.... TOP!!! :D trims tlah berbagi!! :D
17 Agustus jam 23:48 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
heheheheh, thanx juga ping....
17 Agustus jam 23:56 • Hapus

Kajitow Elkayeni
saya suka cerpen ini nona ida. penulisnya berbakat, saya yakin dalam waktu dekat namanya akan sering saya dengar. semoga...
18 Agustus jam 0:58 • Hapus

Faradina Izdhihary
apiik mbak
18 Agustus jam 1:03 • Hapus

Shu Shan Wang
Hmm..kisah Tkw ny g pkir akn kyk berita d TV,dsiksa gt..
Trnyta ending lucu..
Keren wui..
18 Agustus jam 4:57 • Hapus

Imam Setiaji Ronoatmojo
..@Ida : terus berkarya, senang membacanya, hal2 mengenai perempuan sangat banyak untuk digali..
18 Agustus jam 5:27 • Hapus

Dewi Maharani
hidup TKW !
18 Agustus jam 6:17 • Hapus

Jurnal Sastratuhan Hudan
ida nursanti basuni ini berbakat besar tidak hanya di puisi tapi rupanya di cerpen juga. seperti yura, anita, kwek lina, dan dewi maharani juga.

banyak benar orang bertalenta hebat sekarang, atau apa aku yang telah mundur dalam penulisan ya. kukira memang mereka berbakat besar.

tapi eh berbakat besar itu, pun adalah passion untuk menggali tepian hidup sampai ke kiri atau kanan jauhnya yang paling jauh ya. hingga ia menghasilkan sepak pojok yang baik, di mana kelak sang waktu akan mengeksekusinya dengan sekali ceplosan saja: goal - novel, cerpen atau puisi.... Baca Selengkapnya

kesana yuk ida hihi lelah ah serius serius mulu mending hehe haha aja ya hihi
18 Agustus jam 7:34 • Hapus

Hanna Fransisca
Tentu aku suka cerita ini, Ida manis. Tapi tidak kuberi tanda suka alias jempol sebab bukan ditulis Ida. Kehidupan TKW sudah banyak ditulis oleh TKW itu sendiri. Bahkan beberapa buku kumcernya sudah beredar di toko-toko buku. TKW Hongkong banyak mendapat pelatihan dari FLP(Forum Lingkar Pena). Seorang TKW lain, Eny Kusuma(ada facebooknya) malah ... Baca Selengkapnyamenulis buku motivasi ANDA LUAR BIASA dan kabarnya saat ini sedang belajar untuk publik speaking.
Cerita di atas adalah pengalaman. Aku salut. Tapi akan jauh lebih salut kalau yang menulis itu Ida.
Salam!
18 Agustus jam 7:44 • Hapus

Loektamadji A Poerwaka
Aku senyum saja ya Suni... Om Hudan udah panjang lebar berkomentar... juga yang lain lainnya... Itu pak Imam bahkan mengatakan mengenai wanita (saya menyukai kata wanita bukan perempuan) sangat banyak untuk digali...he he he.. melambungkan angan kedalam bumi..
18 Agustus jam 10:52 • Hapus

Anita Rachmad
iya da. kukira ini cerpen made in ida. tapi boleh lah, jika menginspirasi daku dan dikau serta kita semua.
nah..kapan2 ida yg manis dan cantik ini bikin cerpen tema tkw atau Amoi da ! he..he...(sok tau aku)

gimana ? gimana ? duuuh....foto profilnya rek ! sweeegweeer tenan !
18 Agustus jam 13:14 • Hapus

Frans. Nadeak
he... he....
Cerita yang menarik...
harus tetap menulis seperti ini.. :-)
ha.. ha.. ha...
18 Agustus jam 17:42 • Hapus

Fira Rachmat
Pokoke mantap abis...soalnya aku belum pernah baca sih. Jadi baru tahu sekarang...bagus kisahnya...makasih ya Ida. salam.
18 Agustus jam 23:27 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
Faradina Izdhihary : makasih mb...tapi ne bukan aku yang nulis...
Shu Shan : capek juga khan baca yang sedih2 mulu
Imam Setiaji Ronoatmojo : emangnya sumur di gali.....kalau hal-hal tentang perempuan emang tiada batas...karena status mulianya seorang perempuan yang menjadi ibu....
itulah kenapa perempuan sangat istimewa...
Dewi Maharani : hehehehhe hidupn TKW....... Baca Selengkapnya
Jurnal Sastratuhan Hudan
: terima kasih bang hudan sudah mau mengomentari nota saya yang jelek ini...saya merasa sangat bersalah jika di katakan kiarya ini adalah karya saya yang nota bene adalah karya orang lain...hiks....ternyata tuhan hudan tak membaca ya......hiks...jadi sedih...
Hanna Fransisca : mb ku yang cerdas...tepat sekali ne bukan aku yang bikin..tunggulah...aku akan bercerita tentang sesuatu yang dahsyat mengenai perempuan...
Loektamadji A Poerwaka : iya bapak...wanitakan bukan sumur yang bisa di gali...tapi wanita \adalah manusia yang melahirkan dan orang yang sangat mulia....
18 Agustus jam 23:54 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
Anita Rachmad : hehehehhe, insya Allah mb ku yang cerdas...
Frans. Nadeak : tapi sekali lagi...ne bukan karya saya....
Maghfira Mimi
: sama-sama mb firaku yang cantik dan baik...
18 Agustus jam 23:56 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
Kajitow Elkayeni : terimakasih juga telah mau meluangkan waktu singgah di note saya
18 Agustus jam 23:57 • Hapus

Purwono Nugroho Adhi
potret realitas,
antara cerita dan sebuah celana,
antara kejenakaan dan kegalauan,
antara "celana dalam" dan "dalamnya celana",
ada derita diantara "lubang asa",... Baca Selengkapnya
ketika celana berenda di ruang narendra,
cerita berenda untuk pejuang jelata
19 Agustus jam 11:24 • Hapus

Sandra Palupi
Ida,...aku suka seleramu. hormatku untuk si penulis.. hari ini aku belajar tak hanya soal karya, tapi juga soal kehidupan. kehdupan yg dikenalkan Etik Juwita, melalui hatimu, Ida.
salut untuk semuanya!
19 Agustus jam 14:18 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
thanx to mas adhi dan mb sandra....
waduh jadi spechless
20 Agustus jam 15:35 • Hapus