Kamis, 17 September 2009

LELAKI TUA

LELAKI TUA

25 Juli 2009 jam 17:09

Lelaki tua itu baru sembuh dari sakit tapi masuk rumah sakit lagi. Wajahnya pucat pasi dan sepi. Namun anak-anaknya tak perduli.

Mereka masih menyimpan bara dalam hati. Lelaki itu telah memilih jalannya sendiri. Memilih menikah lagi, dengan seorang perempuan muda yang sudah di anggap adik sendiri, dengan kondisi sang istri yang masih butuh di lindungi di hari tua. Anak-anaknya berusaha menasehati, tak mudah menikah lagi, apalagi dengan kondisi tubuhnya sudah sulit di ajak kompromi. Kepala enam hampir menyambangi, lebih baik menikmati hidup dengan sang istri yang terus setia mendampingi.

Tetapi laki-laki itu tak betah tak tak merasakan hangat tubuh betina. Merasa tak ada yang memperhatikan. Di rumah sang istri tak betah di rumah. Dari pagi hingga malam hari dan pagi hari lagi ssang istri jarang di rumah. Tanpa ada anak-anaknya yang perduli. Semakin hari ia merasa Cuma si Wati yang menemani dan memperhatikan nuraninya sebagai seorang laki-laki. Ia merasa mempunyai arti berada di samping Wati, bukan di sisi sang istri yang sibuk sendiri. Kondisi inilah yang membuatnya bersikeras hati, untuk tetap mengawini Wati angkat sendiri. Ternyata, anak-anaknya terlebih sang istri tak bisa dan tak mau mengerti.

Mereka tetap menganggap ayah mereka bejat dan mau menang sendiri.
Menurut mereka apa kata orang nanti, kalau ayah mereka kawin lagi, sementara ibu mereka masih hidup dan segar bugar. Apa kata orang nanti, kalau yang di kawini ayah adik angkat mereka sendiri. Orang pasti akan menggunjingkan keluarga mereka, kalau ayah akan kawin lagi, sementara sang putra bungsu masih sendiri dan belum beristri. Lelaki itu tetap berkeras hati. Baginya, istrinya sudah tidak perduli lagi, selalu saja bertengkar di peraduan setelah ia seharian pergi namun tak membawa hasil yang cukup untuk memenuhi hasrat sang istri yang tak pernah mau kompromi. Ia sudah tak betah tak di urusi.
Anak-anaknya sudah punya kehidupan sendiri-sendiri.

Walau beberapa dari putrinya terhempas dan gagal di tengah perjalanan rumah tangga mereka. Ia tak mau merepotkan dan khawatir di anggap selalu merecoki hidup anak-anaknya. Sementara sang istri yang hoby bermain dengan mistik tak kunjung berubah. Jadi, menikah lagi adalah sebuah solusi. Ia sudah mantapkan hati. Sebelum mati, ia ingin berbagi hati. Ia ingin kembali di cintai. Ia ingin seorang wanita mengisi hari-harinya sebelum mati.

Ia berharap, anak-anaknya mau mengerti dan mau memahami. Walaupun ia akan mengawini anak angkatnya sendiri. Namun ternyata anak-anaknya tetap tak mau mengerti.

Anak-anak dan istrinya menganggap laki-laki itu mau enak sendiri. Sejak ada rencana pernikahan ini, si bungsu marah sejadi-jadinya. Ia hampir memukuli ayahnya sendiri. Ia merasa sangat malu. Masa bapaknya mau mengawini adik angkatnya sendiri. Berusia sembilan belas tahun pula. Ia juga merasa terlangkahi. Ia di usia memasuki kepala tiga belum menikah, malah bapaknya mau kawin lagi. Ia amat marah dan hampir tak perduli pada perasaan ibunya kini.

Putri sulung lelaki itu lain lagi. Ia cenderung hampir tak peduli. Bukan karena tak mau peduli, tapi karma tak mau terecoki. Ia hanya mewanti-wanti sang ayah, pernikahan itu jangan sampai menggerogoti ketenangan keluarganya yang sudah terbina selama ini. Ayahnya, berjanji apapun yang terjadi nanti akan ia hadapi sendiri. “Dengan hati yang bulat dan tak terus menerus dilecuti rasa dendam dan sakit hati kita akan kuat menjalani semua rintangan dan ricuh di hati.” Ujar sang ayah menasehati. Namun anak-anaknya tak kunjung mau memahami.

Anak-anak mereka tak mampu menyelami obsesi dan isi hati sang lelaki tua yang mengantarkannya pada kehidupan duniawi ini. Setidaknya mereka berfikir si ayah seharusnya memikirkan perasaan ibu kandung mereka yang telah mendampingi hidup si lelaki tua selama 50 tahun hidup berkeluarga, dalam asam manis dan getirnya kehidupan. Bukan malah di tinggal kawin lagi.

Hari pernikahan yang dinanti berlangsung sederhana sekali. Namun yang mengejutkan, sang ibu bersedia menikahkan sang suami dengan anak angkat mereka sendri. Sang putra bungsu semakin geram tak terkira. Namun nasi telah menjadi bubur, tak bisa di tanak lagi. Tak ada ucap selamat dari anak-anak mereka. Sang lelaki berusaha menyelami dan memahami situasi ini. Mungkin, katanya dalam hati, ini sebuah solusi. Setidaknya mencegah konfrontasi antara anak-anaknya dan perempuan yang ia nikahi. Berat sekali.

Namun semua tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Sebulan hidup bersama sang istri mulai tak enak hati. Melihat sang suami bercengkerama dan bermesra di depan mata.
Akhirnya perang pun terjadi. Dan si lelaki tua memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah, pergi membawa sang istri muda sejauh-jauhnya dari anak-anak dan sang istri tua yang mengamuk. Tapi inilah situasi yang harus ia nikmati. Konsekuensi yang harus bisa ia terima dengan lapang hati. Dan ia cukup berbesar hati. Ia telah berusaha memahami situasi. Walau rasa sakit menyelip di hati, ia tetap coba berkompromi dengan kondisi.

Walau ia telah gagal menjadi ayah yang sejati dan sekaligus suami yang bisa mencintai dan membimbing sang istri yang telah berpuluh tahun ia nikahi. Enam bulan setelah menikah lagi dan meninggalkan rumah lelaki tua itu jatuh di kamar mandi. Seluruh tubuhnya terasa nyeri.

Dokter mengatakan ia hipertensi. Darahnya naik tinggi tak terkendali. Stroke hampir menghampiri. Untung ia cepat di tangani dan di obati. Kalau tidak mungkin ia sudah mati. Ia sempat sekarat lima hari lamanya. Tak seorang pun ia kenali lagi, termasuk pula sang istri muda yang ia ajak melarikan diri. Di saat ingin menikmati bulan madu dan saat jauh dan hidup tenang dari sang istri tua, malah ia jatuh di kamar mandi dan terkapar begini. Untung saja ia belum mati.

Untung saja si lelaki masih bisa bersyukur pada sang ilahi yang menciptakan hidup dan mati, bahwa ia masih di berkahi kesempatan menikmati hidup sekali lagi. Mungkin ini dosanya pada sang istri dan putra bungsunya yang ia langkahi. Ia berjanji akan meminta maaf pada sang istri, walaupun ia sepenuhnya merasa tidak bersalah, ia juga berjanji akan mencari dan mengirimkan surat pada sang putra bungsu Elang, bahwa ia minta di relakan menikah lagi dengan alasan yang logis dan bisa di terima hati.

Akan ia titipkan pada seorang sahabat lamanya agar ia bisa memberikan surat tersebut pada si buah hati.
Setelah menulis surat pada sang putra bungsu ia merasa seakan hidup dan bernafas kembali di bumi. Apapun yang akan terjadi ia harus bertahan hidup, dan akan memohon maaf dari sang istri.

Baginya, ini merupakan sebuah perjuangan yang harus ia tempuh dengan hati ikhlas. Setelah tiga minggu di rumah sakit, sang lelaki tua di izinkan kembali pulang, dengan catatan ia harus memperbaiki pola istirahat dan konsumsi makanannya. Rekan-rekan bisnisnya datang menengok kondisinya. Mereka bersenda gurau mencandai. Sudah bau tanah tak insyaf pula malah mengawini perawan ranum dari kebun sendiri. Mendapat candaan seperti ini ia sempat pula bermuram hati. Namun ia dapat menerima akhirnya dengan kelapangan hati. Akhirnya ia tak jadi sakit hati.

Fikirannya tertuju hanya pada sang istri yang telah lama ia tinggal pergi, dan sang putra bungsu yang keras hati. Rasa sesal menggerogoti hati dan fikirannya. Mungkin ini sebuah kutukan dan sang istri dan si buah hati simpiran jantung kepada suami dan ayah yang telah nekad kawin lagi dan melarikan diri bersama sang istri yang ranum. Mungkin ini yang di namakan zaman edan dan bumi menjadi teramat tua dan keriput. Sang ayah yang keji dan cuma mementingkan hasrat birahi.

Lelaki tua semakin larut dalam sesal dan menyalahkan diri sendiri. Hatinya semakin perih saat sang istri mengutuk dan tak mau menoleh lagi memberi ampun pada sang suami yang sungguh tak tau diri. Saat ia terkapar di rumah sakit sang istri dan putra yang keras hati tak kunjung menghampiri. Rasa bersalah meracuni hati dan diri sang lelaki tua di ambang senja. Darahnya kembali naik tinggi. Seminggu sepulang dari rumah sakit ia ambruk kembali.

Ia kejang-kejang dan tidak bisa bernafas. Lagi-lagi ia harus di bawa ke rumah sakit. Peralatan rumah sakit dan jarum infuse menjadi transmisi antara hidup dan matinya sang lelaki tua yang dulunya penuh dengan birahi, kini tergolek lemas tak ada yang peduli. Emosi yang melanda telah menggerogoti hati, jantung, paru-paru dan seluruh organ di tubuh si lelaki. Paru-parunya hitam teracuni sesal dan tangis yang tak terdeteksi.

Lelaki tua di ambang senja tak bisa bergerak lagi, bahkan untuk mengangkat jari-jari. Yang dulu amat perkasa sehingga bisa kawin lagi dan lari meninggalkan sang istri yang juga di ambang usia. Nyawanya seakan tinggal menghitung menit. Sepertinya malaikat maut sudah hendak datang menyambangi dan mengajak pergi. Sang istri muda hanya bisa meratapi bulan madu tak bisa di nikmati dan akan sebentar lagi status baru akan mendekati sesuai hitungan sang pencabut nyawa yang mempunyai kuasa atas hidup dan mati manusia. Tak bisa ia pungkiri hanya enam bulan ia menikmati menjadi seorang istri, status janda mulai menyambangi.

Si lelaki tua di hinggapi ketakutan yang teramat sangat. Ketakutan akan mati. Diam-diam ia berdoa meratap dalam hati, memohon kepada sang pemilik hidup untuk memberikan sedikit kesempatan untuk bertobat.

Ia berjanji, jikalau diberi kesempatan, ia akan menyelesaikan persoalan duniawi yang membelitnya antara ia dan sang istri tua, dan anak bungsunya yang keras hati. Memperbaiki hubungan silaturahim anatara ia dan sang istri, dan antara ia dan si putra bungsu. Di dalam keadaan antar hidup dan matinya ia tetap sabar dan setia menunggu kedatangan istri dan putra bungsu yang keras hati yang telah tega ia campakkan karena nafsu birahi.

Sang istri yang sudah lama ingin memaafkan datang dengan wajah sedih bukan buatan. Setelah sempat terombang ambing dalam lara hati, ia bermaksud pergi ke sebuah kota asing yang jauh dari suami yang mengkhianati.

Ia ingin bersembunyi dari tatapan anak-anak mereka, terutama putra bungsu mereka, Elang. Selain untuk meredam emosi dan menahan diri serta mengobati hati. Ia hampir saja bertekad untuk tidak kembali lagi, meski anak-anaknya tak putus asa mencari sang ibu yang telah putus hati.
Ketika transit di bandara, anak tertuanya menghubungi. Ayah masuk rumah sakit lagi. Kondisi antara hidup dan mati. Sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Cuma keajaiban yang membuat ia bisa bertahan hingga kini. Sebaiknya ibu kembali.

Sedangkan si putra bungsu yang keras hati telah mengucap sumpah dalam hati dan di depan kekasih hati, ia tak akan menemui ayah walau ia mati di telan bumi sekalipun. Namun sang kakak terus saja membujuk untuk pulang, siapa tahu ayah tak ada umur lagi. Sebelum ayah pergi kita harus bisa mengikhlaskan salah dan khilafnya. Jangan sampai kita menyesal nanti. Kita harus berbesar hati.

Semula sang putra bungsu tetap tak mau peduli. Tekadnya sudah mantap. Ia tak akan mau datang melihat walau sang ayah telah mati.
Namun setelah ia, merenungi kata-kata sang kekasih hati, ia hayati, kata-kata sang kekasih terasa kian meresap di kalbu." Memang tidak peduli, keras hati, penuh birahi dan mau menang sendiri, tapi, sebagai buah hati simpiran jantung, kita memang harus tetap berbakti, apalagi kau satu-satunya anak lelaki yang ia milik." Terasa melecuti hati dan sanubari sang putra bungsu.

Tiba-tiba ia berlari mengambil kunci mobil dan memacunya kencang-kencang, ia tak ingin kehilangan ayah yang walaupun bejat dan penuh birahi, namun sangat ia cintai. Karna ayah ia melihat dunia. Ia menyesali diri kenapa larut dalam emosi yang tak penting dan memusuhi darah daging sendiri.
Begitu juga sang istri, ia langsung menaiki penerbangan pertama menuju ke kota tempat ia dulu memadu kasih berpuluh tahun dengan sang suamii yang ia anggap tak berhati.

Mata lelaki tua itu sudah redup sekali. Seluruh tubuh ia rasa seakan mati. Ia tidak bisa apa-apa, walaupun hanya mengedipkan sebelah mata. Ia hanya bisa merasakan putra bungsu berada di samping kiri dan menatapnya dengan tatapan yang dia tak tau tatapan benci atau sedih. Di sisi kanan ia merasakan sang istri tua duduk sambil memegang sapu tangan yang telah basah di banjiri air mata. Ia sudah kehabisan tenaga untuk sekedar menyapa mereka, rasa sedih dan sesal telah meracuni fikirannya. Kekuatan dan ketegaran, serta semua kesombongan di masa mudanya terlucuti sudah saat ini. Ia merasa ini merupakan buah dari pengkhianatannya terhadap anak dan istri tuanya.
Ingin sekali ia menangis, namun itu tak bisa ia lakukan. Ingin sekali dia berteriak pada anak dan istri yang menangisi,

“Maafkan aku si lelaki tua renta yang tak tau diri ini.”

Namun yang ada Cuma semakin sepi.
Komentar Publish FB:

Nani Mariani, Hs Mbelink, Anita Rachmad dan 11 lainnya menyukai ini.

Kwek Li Na
bagus ...seakan-akan nyata dan pernah ada.

semoga bisa menjadi renungan buat kita semua.
jangan sampai menyesal saat ajal tinggal sejengkal.
... Baca Selengkapnya
saya suka caramu bercerita.

salam persahabatan.
25 Juli jam 20:35 • Hapus

Jurnal Sastratuhan Hudan
ini juga. prosawan sih.
26 Juli jam 8:18 • Hapus

Arif Gumantia
cerita yang membuat pembaca setia membaca sampai akhir kalimat...
26 Juli jam 16:00 • Hapus

Hanna Fransisca
Aku suka terharu kalau membaca ulang cerpen ini., Da. Jiwamu hidup dalam cerpen ini. Salam semangat tukmu, Ida maniiis.
26 Juli jam 17:25 • Hapus

Topan Asri
Emh... saya hanya seorang pengagum karya sastra... hah... cukuplah mereka yg prof itu yg menilainya... slamat ya ida nursanti basuni... semangat!!!
26 Juli jam 17:59 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
@kwek li na: salam persahabatan juga, wah jadi tersanjung dengan pujian dari mb....
@hudan : prosawan???? heheheh ada2 aja bang hudan
@thanx arief, heheheh cm lagi kangen ayahku saja saat membuat cerpen ne
@mb.hanna : aku kangen ma mb ne....selalu ajari aku untuk semangat ya mb....
@topan : semangat!!!!!!
26 Juli jam 18:09 • Hapus

Kika Syafii
Darah lebih kental daripada Air.
06 September jam 23:59 • Hapus

Zulfaisal Putera
Konflik rumah tangga, suami dan istri, perempuan lain, dan lingkungannya menjadi objek menarik untuk dieksplorasi. Tokoh lelaki tua yang Kamu ceritakan adalah realita hidup dalam sebuah keluarga batih yang sudah ada sejak dulu.
Cerpen narasimu ini asyik. Namun, akan lebih asyik jika ada muatan diaog yang lebih menghidupkan.

Tabik!
07 September jam 2:52 • Hapus

Shu Shan Wang
Cerita benar trasa nyata..
Ida lu mank hebat mencari ide cerita..
07 September jam 4:54 • Hapus

Shu Shan Wang
Cerita benar trasa nyata..
Ida lu mank hebat mencari ide cerita..
07 September jam 4:55 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
makasih kika buat apresiasinya....
bang zul, makasih sudah mau mengunjungi note seoarang yang baru mau belajar menulis ini bang....akan saya perhatikan usul abang...
shu...best friend of me...thanx.....thanx banget...lu juga bisa menulis dengan baik kok...
07 September jam 14:42 • Hapus

Purwono Nugroho Adhi
akhir sebuah pilihan,
ketika senja dirundung kepiluan,
entahkah fajar semerbak lagi
08 September jam 12:19 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
terima kasih mas adhi mau mengunjungi note saya ini...
sajak yang indah mas adhi....
08 September jam 21:29 • Hapus

Sayuri Yosiana
selalu asyik mengikuti cerita2mu Ida. karena kamu mengambilnya dari kehidupan sehari2 yg ada disekitar kita . lebh familiar . lanjut my lady ! chayooo ^_^
09 September jam 8:23 • Hapus

Anita Rachmad
waah....aku kok baru tau kalau diriku di tag utk baca cerpen keren ini ya ? soalnya di wall-ku tak nampak. tak apalah, fesbuk juga buatan manusia.

keren da. apik cerpen mu iki ! cerita ttg keluarga yang akrab dan pasti dialami beberapa keluarga.
09 September jam 12:05 • Hapus

Ida Nursanti Basuni
Sayuri Yosiana ; maskasih sayuri....sudah mau mengikuti note aku sampai sekarang...

Anita Rachmad : piye to mb....hehheheheh
makasih lho mb....
09 September jam 12:14 • Hapus

Nani Mariani
kisah yg manarik dan bisa menjadi pedoman hidup para lelaki.., dan juga perempuan/isteri, dan ternyata diri lelaki itu semakin tua semakin mau disayangsayangi yaa., smile..
namun, apapun itu, darah lebih kental daripada tinta..,
manis say.., salam
09 September jam 18:06 • Hapus

Fira Rachmat
Ceritamu slalu enak tuk di nikmati dindaku sayang... makasih udah berbagi denganku yah, salam.
09 September jam 22:02 • Hapus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar