Kamis, 17 September 2009

MATA KUCING

25 Juli 2009 jam 17:47

Aku benci melihat matanya, seperti mata seorang maling yang mengincar korban yang akan di bantainya. Kau akan melihat bayangan kelaparan di dalam mata itu, Rani. Mata yang buas untuk seorang laki-laki yang tampak selalu percaya diri dan terlalu bernafsu. Dan, mata itulah, sepasang mata yang membuatku benci menatapnya.

Siang dengan matahari yang terik menyengat kulit lenganku yang telanjang tanpa jaket jeans yang biasa kukenakan. Saat itu dia tengah menatapku dengan lapar, Rani. Membuatku terkejut. Diantara orang-orang yang lalu lalang dia terus menatapku, lekat. Dan saat itu, sepasang matanya yang lapar mengerjap, aku lalu teringat pada seekor kucing lapar di emperan toko emas tadi siang.

“Wah, dia pasti seorang maniak seks, aku yakin….”

Yah, tentu saja, dia merayuku. Aku mengatakan padanya, bahwa ia bajingan seks yang lapar. Ia membalas, mengatakan betapa semua ini, termasuk tatapan lapar matanya yang menelanjangi tubuhku, bukan semata-mata urusan ranjang. Memang, aku juga sering berganti pacar, malah sesering makan nasi tiap hari.

“Dan yang ini, akan kau jadikan teman makan juga?”

Aduh, Rani. Sudah kukatakan, aku tak suka matanya. Selalu saja mata itu mengingatkanku pada mata kucing yang kelaparan di emper toko atau mata maling yang mengincar korban. Menatap matanya, menjadi kengerian tersendiri buatku. Seperti ketika kamu merasa takut pergi kencing sendirian waktu kanak-kanak. Itulah, yang membuatku ingin ambil langkah seribu ketika berada di dekatnya. Aku juga tidak suka mendengar ia bicara. Terkadang, terdengar sepeti musik di film horror.

“Hahahhahaha…….laki-laki yang sangat-sangat menakutkan.”

Pasti. Ia selalu mengucapkan rayuan, yang paling gombal malah. Itu membuatku ketawa ngakak. Ia malah tidak canggung-canggung memelukku, walau akhirnya kutepiskan dengan kasar. Aku ingat, betapa jari tangannya yang besar-besar itu merangkul pundakku. Aku berani bertaruh, Rani. Kalau bercinta dengannya ia pasti mengeluarkan suara lenguhan keras. Saat orgasme ia pasti mendengus seperti banteng kalah perang. Aku juga yakin Rani, bercinta dengannya seperti bercinta dengan Harimau. Atau Drakula. Dan kau pasti tau, aku, tak akan pernah menyukainya. Mungkin karena dia amat menakutkan. Bersamanya aku merasa berada di lubang ular. Dan kupikir, pacarku yang sebelum-sebelumnya tidak ada yang sebegitu menakutkan seperti dia.

“Waduh…..”

"Mungkin, dia terlahir dari seorang kuntilanak".

“Aduh, kau jangan asal bicara.”

Bila aku sedang sendirian, dia dan bayangannya seperti ketukan pada pintu apartemenku di tengah malam. Membuatku mengkeret ketakutan. Lalu kuingat sorot mata maling di matanya yang membuatku ingin muntah. Dia bukan laki-laki yang kamu sering lihat di opera sabun. Yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekedar mendapatkan senyumannya. Sungguh, penampilannya lebih mirip pelayan toko yang habis di maki-maki majikannya. Dengan celana yang tak sesuai warnanya dengan kemeja yang ia kenakan. Berkumis tipis, tak rapi lagi. Dia tinggi besar untuk laki-laki Asia. Keringatnya meruapkan aroma yang tak jelas. Karena menurutku ia juga bukan laki-laki yang jelas.

“Ia tak pantas jadi pacarmu kukira.”

Tepat. Ia lebih mirip sebuah sepatu yang berdebu dan tak pernah di pakai. Memang karena tak suka, terlebih matanya yang lapar membuatmu tak ingin menyentuhnya. Tapi, entahlah, kenapa ia bisa seperti itu.

“Anggap saja ini sebuah selingan. Dan ini cerita asmara yang paling memuakkan, hahahahahahha……”
Kau harus tau Rani, terkadang kisah cinta bisa saja memuakkan, yah mesti tidak sememuakkan kasus pembunuhan atau perkosaan misalnya. Sampai saat ini aku sendiri masih heran, kenapa dia bisa sememuakkan itu buatku. Apa karena dia pria gendut yang bermata lapar?!

“Apa kau tak harus pulang malam ini?”

“Pulang ke mana?”

Aduh Rani, kalau kau lihat kucing dengan mata lapar di emper toko emas itu tadi siang, aku selalu merasa dia tengah mengawasi dan menelanjangi pikiranku. Setiap melihat kucing bermata lapar, aku jadi ingin muntah.

“Kau benar-benar tak suka dengan kucing?”

“Sangat.”

“Aku tak suka maling.”

“Tentu saja Sai, semua orang benci maling. Terutama Tuhan.”

“Aku benci tatapanmu, memuakkan.”

Ah, kenapa selalu ingin muntah jika membicarakannya. Padahal, pada saat-saat umur sekarang ini aku sangat mendambakan pasangan hidup bermata teduh. Bukan bermata maling seperti dia. Itulah alasan yang tepat aku menginginkan dia enyah dari pandangan ku, atau bahkan hidupku pula.

Aku ingin dia tau, betapa kucing yang bermata lapar itu tak sama indahnya dengan ikan mas koki yang bermata belo’.
Kenapa aku benci mata kucing yang lapar, atau mata maling yang mengincar mangsanya. Itu karena aku selalu teringat dengan laki-laki yang aku harus panggil ayah. Terpaksa kupanggil ayah. Ibu selalu mengatakan padaku, Sailendra kau harus waspada dengan mahluk yang bernama laki-laki. Dulu aku selalu bertanya-tanya kenapa aku harus hati-hati.

Selalu dengan mata yang layu, ibu bercerita bagaimana ayah meninggalkan kami hanya untuk seorang perempuan penjual nafsu. Aku masih berumur dua tahun saat itu. Ibu memohon-mohon sambil mencium kaki ayah, agar dia tidak meninggalkan kami dalam keadaan tidak tau hendak kemana. Sebulan lamanya aku dan ibu terlunta-lunta di pinggir jalan sebelum akhirnya ibu bekerja di pabrik kertas. Ibu tidak pernah mau menikah lagi, baginya laki-laki itu seumpama kucing yang lapar, akan terus memburu mangsanya hingga dapat, namun setelah ia mendapatkannya, ia akan pergi jauh.

Tak perduli tulang belulang mangsanya berserakan di tepi jalan.
Aku benci matanya, karena matanya mirip kucing dan tentu saja mirip orang yang terpaksa harus ku panggil ayah. Aku ingin sekali ia mengerti kenapa aq begitu membenci dia dan matanya. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku dengan mata kucingnya yang lapar mengincar seekor itik.

“Kau lihat, lihat kucing hitam di emper toko itu?!”

“Kenapa?”

Mata kucing itu mata yang lapar, mata maling.”

Ini adalah pertemuan yang kesekian tidak aku inginkan, namun aku tak kuasa menolak atau bahkan menghentikan pertemuan ini. Dia memelukku dengan jarinya yang besar-besar. Seperti jari-jari buruh kasar. Bahkan tepisan tanganku yang kasar tak jua mampu memindahkan tangannya yang terlanjur hinggap di tubuhku. Dari jendela apartemenku di lantai 7, langit malam tampak kelam, dan kian kelam saja, di tengah cahaya lampu kota yang semarak. Aku jadi teringat cerita ibuku, bahwa ayah memeluk perempuan itu dikala ibu terlelap di kamar rumah kami yang sempit dan berbau. Rasanya, sampai matipun aku tak akan melupakan hal itu. Aku membayangkan aku membunuh laki-laki yang sedang memelukku dengan penuh birahi itu, dengan pisau dapu yang biasa kusimpan di laci dapur. Pikiran itu muncul tiba-tiba saja dari kegelapan fikiranku dan kemudian terbang berhamburan memenuhi langit…..

“Kamu kenapa?” Ia menatapku dengan mata malingnya yang entah kenapa bisa membuatku bungkam malam itu.

Ia tiba-tiba melepaskan pelukannya dengan jengah, ia masih saja tidak bisa mengerti kenapa aku begitu membenci matanya. Aku bangkit, meraih jaket dan kunci mobilnya di atas meja. Aku berjalan menuju pintu apartemenku. Kurasakan tatapan matanya yang ganjil dari balik punggungku. Kutepiskan lengannya yang hendak memelukku lagi. Bisu.

Aku memang menginginkan kebisuan ini. Dan ingin semua berlangsung tanpa kata yang hanya akan membuat aku marah dan muak,
Seperti suara lonceng gereja yang teredam oleh angin, ponselku berbunyi memecah sunyi yang terbanting. Aku bergegas meraih ponselku tanpa suara. Ku lihat ia memandang ke luar jendela. Sampai akhirnya aku membukakan pintu apartemenku dan menyodorkan jaket dan kunci mobil padanya.
“Kau mesti pergi, Hans…” Kubuat suaraku sedatar mungkin. “Aku lelah dan muak melihatmu, pulanglah, anak dan istri menunggumu di rumah.”

Dia menatapku dengan tatapan mata yang belum pernah sama sekali ku lihat. Bukan tatapan seekor kucing yang lapar, juga bukan mata seorang maling pasar. Tapi tatapan pedih seorang pesakitan yang tau bahwa esok pagi akan mati. Dentang lonceng jam perlahan-lahan hilang di telan angin bulan September yang dingin. Cahaya lampu kota perlahan susut kemudian aus. Desah nafasnya meruap basah di telingaku. Kesunyian yang renyai mulai merayap. Dan dingin, mulai menusuk bagai pisau tak bermata.

Yah, Rani. Kini kau tau kan mengapa aku begitu membenci matanya, mata kucing yang lapar. Aku memang perempuan paling menyedihkan yang mungkin pernah kau tau di bumi ini. Karena, sekali aku jatuh cinta Rani, aku jatuh cinta pada laki-laki bermata kucing, persis seperti cerita ibuku.

Singkawang, 13 maret 2009
00:43 wib

Komentar Publish FB:

Anita Rachmad, Imron Tohari, Suhunan Situmorang dan 3 lainnya menyukai ini.
Bayu Soponyono
Bayu Soponyono
Cerpen yg huebat bro !
Emg dunia skrg hanya demi kata "PUAS" sdh tidak bakal peduli lg dg apapun yg membuat kt maju.
Semua karena budaya egoisme yg tlah merasuk dlm tiap pori2.
25 Juli jam 18:02 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
hehhehehe, syukurlah ada respons dari bung bayu
cerpen ne ku buat karena gerah dengan segala macam kebobrokan hidup yang ada
25 Juli jam 18:08 · Hapus
Ricky Idaman
Ricky Idaman
hey ida apa judul cerpen itu bagi dunk...!
25 Juli jam 18:47 · Hapus
Ricky Idaman
Ricky Idaman
hey ida apa judul cerpen itu bagi dunk...!
25 Juli jam 18:47 · Hapus
Ricky Idaman
Ricky Idaman
hey ida apa judul cerpen itu bagi dunk...!
25 Juli jam 18:47 · Hapus
Imron Tohari
Imron Tohari
cerpen yang bagus.

salam lifespirit!
25 Juli jam 20:58 · Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
Jurnal Sastratuhan Hudan
ih keren sekali
26 Juli jam 8:17 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Hohoho, ini dia cerpen yang kubilang liar imajinya. Topan mana ya? Apakah dia merasa tersindir hingga tak ada komennya? Huahahaha...

Keren, Da. Kutunggu cerpen baru, Da. Cobalah lebih fokus ke satu titik, pasti jauh lebih bagus. Ai, rindunya aku padamu.
26 Juli jam 17:23 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
@bung bayu : thanx for koment
@ ricky : kan ada judulnya di ats pak
@imron tohari : sebenernya bukan hanya pujian saya ingin sebuah kritikan
@bang hudan : hiks3xxx
@mb.hanna : hehehehhe miss u too mb, karna mb lho saya semangat menulis
26 Juli jam 18:03 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
Hip... Hip... Horeeee
26 Juli jam 18:23 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
hip hip mhoreeeeeeeeeeeeeeee juga
26 Juli jam 18:26 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
aih....matamata kucing ! menakutkan ya idanursanti cantik??? ho..ho.....pandanglah mata kucing itu dng dua bola matamu yg indah! dia pasti terbiritbirit ! ^_^
27 Juli jam 16:22 · Hapus
Sufriady Saleh
Sufriady Saleh
Endingnya, dalam konotasi positif, liar seperti mata kucing (atau) garong.
10 Agustus jam 3:29 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Light and tasty....nyam nyam nyam...
06 September jam 22:58 · Hapus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar