" MEI HWA"
24 Juli 2009 jam 17:07
“Sayangku, mengharapkan kehadiranmu di sini sama saja dengan mengharapkan abu dari tungku yang tak pernah menyala. Tapi, sayang, entah kenapa masih saja aku bersetia menunggumu walau itu aku rasakan sia-sia. Masih saja sesak dada ku karena denyut rindu. Masih saja jemari tanganku yang rapuh ini menulis surat untukmu, meski ku tau kau tak akan pernah membalasnya. Ya, masih saja terkenang tentang sekeping waktu yang telah lewat, saat-saat kau menyembul dalam hidupku dan pergi melesat bagai aNak panah. Kadang-kadang aku juga terkenang saat kau tertidur pulas dalam dekapanku.”
“Kau pasti akan kembali bukan? Tapi, jangan sampai kau melesat tanpa jejak.”
“Aku berjanji Mei, aku pasti menerbangkan sehelai jejak”
“Aku tunggu”
Tiga orang pria sudah meninggalkan aku, tiga orang pria yang masing-masing telah hancur dalam ingatan. Dengan paksa ku pecahkan ingatan-ingatan itu dan pada setiap prosesi penghancuran itu mengeluarkan keringat darah sebesar biji jagung. Menanggung rasa sakit tak terperikan, namun hasrat untuk melupakan memang terlampau besar dari kemampuan. Aku terbanting, terhempas, terinjak, lumat. Aku gadaikan sepetak hatiku hanya untuk sebuah serpihan kenangan. Samapai akhirnya aku bertemu kamu. Dan kini kau pergi juga. Melesat, bagai aNak panah. Aku tau melupakan mu pasti lebih berat dari pada melupakan tiga lelaki lain yang telah lewat. Karena melupakanmu itu ibarat memanah bintang di langit. Tak akan pernah sampai apalagi tepat sasaran.
“Aku pasti kembali Mei, aku bukan aNak panah, aku pasti jadi lelaki, aku lelaki.”
Sekarang hatiku kian lengang. Hanya kau yang tersisa di hatiku. Sejak setahun lalu, saat kau memutuskan untuk merantau di Malaysia, aku tau keputusan itu salah. Kau pasti sudah lupa dengan janjimu untuk menjadi seorang laki-laki. Kau tak ingin jadi perempuan yang kodratnya mencuci, memasak, dan mengurus aNak. Kau tak rela di-perempuan-kan. Kau sudah lupa pada janjimu untuk terus menjagaku. Malaysia telah merubahmu, jarak telah mengaburkan pandanganku padamu, waktu telah melenyapkan ingatan janjumu padaku. Kini, sehelai jejakpun tak jua sampai darimu. Aku bersendiri di sini. Tanpa kamu. Tanpa jejakmu. Hanya kenanganmu. Aku perawan tua yang kesepian.
“Apa kau lelah menungguku?”
Perempuan itu, Mei Hwa, seorang gadis yang lemah lembut dan sangat perasa. Ia tinggal di rumah warisan orang tuanya yang besar dan mewah. Ia yatim piatu, orang tuanya meninggalkannya sejak ia berumur 17 tahun, namun ia tidak pernah kekurangan. Warisan yang ia terima tidak akan habis sampai tujuh turunan.
Mei bermata sipit, dengan lengkungan alis yang indah, dan mata sendu yang selalu menenangkanku dari amarah. Bibir merah yang selalu saja tampak basah walau tanpa dioles pemerah bibir. Ia gadis dengan rambut panjang, legam, dan menawan. Mei, perempuan yang indah. Namun, Mei tidak hanya indah, tidak hanya cantik. Tapi juga seorang gadis baik yang rendah hati. Ia juga cerdas. Namun ia juga perempuan yang kenyang dengan pengalaman hidup. Ia bukan sembarang perempuan. Bukan perempuan kebanyakan. Bukan pula perempuan yang rela menghabiskan uangnya hanya untuk berbelanja barang-barang mewah. Aku terlanjur dekat, aku terlanjur terpikat. Aku sangat tergoda. Aku jatuh cinta pada Mei Hwa. Aku cinta. Pada pertemuan kami yang pertama. Ternyata, Mei menyambut juga cintaku. Ah, indah. Indah ……
Namun, perasaan itu bukan sebuah perasaan yang indah buat orang-orang lain, kami tau itu. Apalah dayaku. Aku hanya seorang lulusan perguruan tinggi swasta yang hingga kini masih belum mendapatkan pekerjaan. Sudah dua tahun aku menganggur. Di jaman yang serba sulit ini, hidupku semakin sulit. Apalagi sekarang aku mulai jatuh cinta. Aku mulai putus asa. Sebelum bertemu Mei, aku mengerjakan pekerjaan apa saja. Asal aku tidak merepotkan orang tua yang sudah usia senja.
Tapi, sekarang aku punya Mei, aku tak ingin di anggap lemah olehnya. Apalagi untuk memutuskan hidup bersama kami harus menentang nasib dan kodrat. Aku telah berjanji pada Mei, aku telah mengucapkan sumpah ku padanya. Aku akan jadi laki-laki. Yah seorang laki-laki.
Makanya aku memutuskan untuk pergi menjadi tenaga kerja asing di Malaysia. Bagiku itu pilihan terakhir dan satu-satunya. Hanya dengan mencari pekerjaan di negeri asing itu aku bisa menunaikan janjiku pada Mei. Bukannya dia tak pernah menawariku pekerjaan di perusahaan warisan ayahnya, aku tak mau. Aku tak mau di cap orang sebagai benalu. Aku ingin orang memandangku sebagai laki-laki. Hingga pantas buat Mei. Walau itu melanggar kodrat dan nasib kami.
“Kenapa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan?”
“Itu berarti Tuhan itu adil”
“Kenapa tidak perempuan dan perempuan saja, atau laki-laki saja”
Aku sangat ingin menjadi lelaki buat Mei, walau aku rasa itu sebuah angan-angan terlarang. Aku ingin hanya aku yang memberikan perhatian penuh pada Mei. Mei tidak perlu mencintaiku, kemarin. Barangkali yang aku butuhkan kemarin hanya Mei yang berada dekat dengan ku. Aku rela melakukan apapun demi Mei Hwa.
Aku ingin pulang ke negeriku, tempat tanah aku lahir, tempat kakiku mula menapak tanah, tempat orang-orang tercinta, juga tempat Mei. Aku menyurati Ibu, aku memohon untuk menikahi Mei. Aku ingin meminta restu dari Ibunda terkasih. Namun Ibu sangat terkejut saat tahu aku akan menikah, aku meminta restu darinya, menikahi Mei.
Ibu mengutukku, ia tidak pernah bermimpi, aku aNak terkasih meminta restu menikahi Mei. Ya, Mei Hwa. Alih-alih mendapat restu, justru yang ku terima caci maki, umpatan dan sumpah serapah dari sang Ibu.
“Ibu tidak melarang kau menikah, tapi bukan dengan Mei Hwa.”
“Jangan kuatir bu, aku tidak akan membuat Ibu malu kalau aku akan menikahi gadis Tiong Hoa.”
“Ibu tak akan malu, tapi bagaimana pertanggung jawaban Ibu dengan Tuhan Nak.”
“Tapi Ibu, “
“Kalau kau menikah dengan perempuan itu, kau akan jadi anak durhaka Nak!”
“Aku tidak akan membuat Ibu kecewa, tak akan membuat Ibu kesepian lagi, aku berjanji bu, tapi ijinkan aku hidup bersama Mei.”
“Tidak, tidak Nak, Ibu tidak mengijinkan kau menikah dan hidup dengan perempuan itu!”
Aku ingin sekali Ibu merestui keinginanku menikahi Mei. Aku heran, kenapa Ibu begitu menentang pernikahan yang aku inginkan ini? Padahal aku mengenal Ibu adalah seorang wanita baik hati dan welas asih. Beliau juga bijaksana, namun kenapa ketika ia menyampaikan lewat surat ia ingin menikahai Mei, Ibunya malah membalas dengan cacian dan makian? Apa yang salah dari Mei? Apa karena ia keturunan berkulit putih dan bermata sipit?
Hari ini, entah bilangan tahun yang keberapa saat aku kembali ke tanah air. Namun aku tidak pulang ke rumah Ibu, ke pangkuannya tempat aku dulu di buai, dinina bobokkan. Aku pulang ke tempat Mei. Namun sampai sekarang aku masih belum bisa menikahi Mei Hwa. Bukan karena aku perempuan. Bukan juga Mei Hwa di ciptakan sebagai seorang perempuan.
“Menunggu kepulangan mu, adalah hal yang selalu aku lakukan. Tak pernah tidak. Namun, di usia yang sudah mendekati perawan tua, entah kenapa masih saja aku bersetia menyia-nyiakan waktu untuk menunggu kau menikahiku. Suatu hal yang memang sangat tidak mungkin. Aku tau walaupun Ibumu telah tak ada di bumi, kau tak ingin jadi anak yang mengkhianati kodrat. Masih saja sesak dadaku menanti dan terus menanti kau menikahiku.”
Singkawang...2008
Komentar Publish FB :
Fira Rachmat, Cepi Sabre, Hanna Fransisca dan 4 lainnya menyukai ini.
Capcuan Classic
susah cari orang yang sangat setia, yang banyak itu sephia. beruntungnya orang yang ditunggu, tapi mendingan cari yang baru. hahahaha
24 Juli jam 17:10 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
huahauahuahauahaua
ga lah, yang ama aja ga habissssssssss
24 Juli jam 17:11 • Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
menanam karen di tengah hujan, sungguh sebuah cerpen yang mempersona, dalam bentuk cerpen yang monolog dengan pikiran yang retak. bagus untuk sebuah perbandingan dengan cerpen yang menjalar sendiri ini.
24 Juli jam 17:15 • Hapus
LaNna Smoothy
`` Wiw.....
24 Juli jam 17:15 • Hapus
Anita Rachmad
waaah....waaaah.......asik asik......
sekadar info: di SUrabaya (jawa timur) ada entertaner dakwah namanya Tan Mei Hwa. cukup terkenal dia karena pengisi tetap di di JTV, disamping karena dia cainis, juga pandai menghibur sambil berdakwah logat suroboyoan yang kasar.
24 Juli jam 17:16 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
bang huda, karen itu apa???
mana ne kritikannya????
tapi terimakasih untuk komentarnya bang hud....
24 Juli jam 17:17 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
hehhehehehe
@mb anita.....saya cuma mencari sebuah nama yang bagus untuk tokoh saya yang sesuai dengan gambaran tokoh wanita cantik di cerpen ne, ga nyangka aja ada nama yang ama cuma beda di Tan aja.
@lanna: thanx yua
24 Juli jam 17:23 • Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
di noteku ada tiap kritik seni yang ada di indonesia. bisa dicari bandingannya. menyebut afrizal tadi sudah cara melihat lain.
24 Juli jam 17:25 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
hehehehhe, thanx ya bang huda....
komentarnya sangat berarti
24 Juli jam 17:27 • Hapus
Imel Octavia
imel share ke imel ya cerpen nya...btw kenapa seh imel mo kirim wall ke gz gk bisa
24 Juli jam 17:38 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
ga tau tuh imel
hehehhehe
24 Juli jam 17:42 • Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
sama sama ida
24 Juli jam 17:46 • Hapus
Iwan Gunawan
lembut serasa mengalir, hingga sesak itu serasa menggelayut pada rasa dengan hati yang jatuh melayang ... oohhh...
24 Juli jam 20:53 • Hapus
Ario Virzha
uyyyy usuuu tang kaye tukang pijit hehheheheheh.......
24 Juli jam 21:59 • Hapus
Agus R. Sarjono
mengapa oh mengapa...
24 Juli jam 22:28 • Hapus
Bayu Soponyono
Anda adalah generasi yg suuaangad hebat.
Dg beberapa cerpen yg anda bwt,suasana "HIDUP" benar2 terasa. Mending skrg ajukan k penerbit.
Pasti byk pecinta karya sasta yg terpesona.
25 Juli jam 10:41 • Hapus
Bayu Soponyono
Anda adalah generasi yg suuaangad hebat.
Dg beberapa cerpen yg anda bwt,suasana "HIDUP" benar2 terasa. Mending skrg ajukan k penerbit.
Pasti byk pecinta karya sasta yg terpesona.
25 Juli jam 10:41 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
wah...
@bang hud, thanxxx banget
@ko2 iwan : apakah cerpen ne sangat mendayu2????
ario :????????
agus : maksud mengapa oh mengapa itu apa????... Baca Selengkapnya
bayu : bung bayu terlalu berlebihan saya masih amatiran ne membuat karya, masih harussss banyak belajar, takutnya ntar malah malu2in penulis yang lain lagi
25 Juli jam 16:09 • Hapus
Kika Syafii
Halo Mei Hwa.
07 September jam 0:00 • Hapus
A Pan Di
teringat kata yang biasa didengar, kalau sudah jodoh takkan ke mana. tapi... kalau jodoh sesama perempuan, jadi susah ngebutnya.
07 September jam 0:21 • Hapus
Zulfaisal Putera
Ida, itu fotomu bareng Mbak Hanna, ya?
Benar-benar asli cantiknya orang Ketapang.
Soal Mei Hwa-mu, memikat.
Cerpen cerpen dengan lokalitas yang kuat pasti menarik. Apalagi disajikan dengan konflik yang menarik dan dramatis.
07 September jam 2:48 • Hapus
Hanna Fransisca
Wuih, ada Kang Agus SR.
***Bang Zul, itu bukan fotoku, tapi adikku yang terlanjur nempel dengan Ida yang baik itu. Tak berarti mereka itu lesbian seperti yang diceritakan Ida. Wkwkwkwkw.
Narasi Ida asyik. Mempertahankan tokoh aku sampai akhir, bahawa aku di situ juga seorang perempuan. Siiiip!
07 September jam 9:12 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
wkwkwkwkwkkwkwk........jangan lihat fotonya ya....ga ada sangkut paut dengan isinya itu yang pasti.....
bang zul, bukan asal ketapang bang, tapi pastinya asal Singkawang
mb hanna yang manis dan baik banget tentunya....hikhikhik...saya mah berfoto ama kembaran mb hanna....hehehehhehe, makasih mb...cerpen ne aku perbaiki kembali kemaren, seperti yang mb pernah sarankan....
iya ada Mas Agus SR....heheheh, kaget waktu beliau mau mengunjungi note aku yang sederhana.....makasih mas Agus SR.....
07 September jam 14:10 • Hapus
Anita Rachmad
lho..ida.....kok di tag lagi ya..
ini kan sudah pernah. he..he..he....
tapi yg dulu kayaknya blm ada fotomu yg keren itu deh. ^_^
07 September jam 23:04 • Hapus
Purwono Nugroho Adhi
romansa cinta,
dalam jejaknya yang berbeda,
ketika sepasang perempuan,
merajaut ralitas,
dalam diskriminasinya yang kodratkah?
08 September jam 12:23 • Hapus
Fira Rachmat
Melayang daku menghayati ceritamu dinda...apik banget pictnya apalagi cantik nian oi...makasih ya say...salam
09 September jam 21:57 • Hapus
Kamis, 17 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar