Sunday, September 18, 2005
Seharusnya Berjudul Celana Dalam
Cerpen Etik Juwita
Sundari sedang memasukkan baju-baju kotor ke mesin cuci ketika suara lantang majikan perempuannya menggema dari arah kamar tidur utama.
"Cundaliiii!!" jerit itu terdengar lagi. Sundari terkesiap, gugup. Sundari tahu benar, ketika namanya disebut lengkap begitu sesuatu yang luar biasa pasti sedang terjadi. Tiga bulan tinggal bersama keluarga asing yang menjadi majikannya, sudah membuatnya mulai mengerti kebiasaan tuan dan nyonyanya.
Sundari mencoba mengingat-ingat, apa kira-kira yang telah diperbuatnya pagi ini atau kemarin malam. Sundari yakin tidak ada yang tidak wajar. Memang, sejak kepulangannya dari Amerika kemarin sore, Mam tak habis-habisnya menekuk wajah. Sepertinya ia menyesal telah pulang. Tuan pergi ke China, berangkat dua jam sebelum Mam kembali. Sundari buru-buru memindahkan semua baju dari dalam keranjang ke mesin cuci. Tapi, belum sempat ia menuangkan deterjen, suara majikannya terdengar dekat. Menyembul dari pintu dapur, "Cundaliiii!!" Sundari menoleh, dan tanpa diperintah lagi mengikuti langkah majikannya. Dag dig dug jantungnya berirama bingar.
"Look!!" jari lentik majikannya menunjuk laci pakaian dalamnya yang terbuka. Sundari mendekat, mengamati setiap pernik di dalamnya. Rapi, tidak ada yang salah letak. Beberapa saat Sundari cuma tertegun. Sampai majikannya dengan menggunakan sisir mencoba mengangkat sesuatu (celana dalam!). Sundari tetap tidak mengerti.
"It’s your panty, isn’t it?" berkata begitu Mam melotot ke arahnya sambil menunjukkan celana dalam yang dirapikanya beberapa hari lalu. Waktu itu Sundari sempat tersenyum geli, berpikir, mungkin Tuan sedang kangen sama Mam hingga perlu mengeluarkan celana dalamnya yang paling bagus --yang ini Sundari belum pernah lihat sebelumnya, lalu menjemurnya di balkon. Saat merapikannya, Sundari merasa tidak perlu bertanya pada Tuan soal celana dalam itu. Tidak sopan, pikirnya. Tapi, menghadapi sikap nyonyanya yang seolah telah lupa sama sekali dengan barang milik pribadinya, kontan Sundari jadi salah tingkah.
"Nnn... no.. no Mam. My panty is big-big one," kata Sundari akhirnya. Mendengar jawaban Sundari, Mam mengerutkan dahi hingga alisnya yang bergaris tajam saling bertaut. Wajahnya semakin kelihatan judes. Matanya yang sipit mulai kelihatan merah dan berair. Mam mulai menangis. Sundari semakin salah tingkah. Ia ingin mengatakan pada Nyonya, mungkin sebaiknya Nyonya menelepon dan menanyakan pada Tuan soal celana dalam yang diributkannya itu. Tapi, segera diurungkannya. Dengan bahasa Inggris patah-patah sambung, bagaimana mungkin ia akan mampu menjelaskan pada Nyonya? Sundari diam dalam kebingungan. Ia hanya menuruti langkah majikannya saja ketika ia bergegas menuju kamar Sundari. Sambil sesenggukan Nyonya membuka laci pakaian Sundari. Foto usang Parjo meringis di depan sepeda motor tetangga, terlihat. Sundari tersipu. Mam mengamati isi laci Sundari agak lama, dan dengan tangis yang semakin menjadi ia menenteng celana dalam murahan berukuran XL milik Sundari. Tangisnya semakin keras, meraung-raung.
Sehari itu, Nyonya mengurung diri di dalam kamar. Bahkan, ketika makan siang pun Nyonya menolak keluar. Sundari berusaha santai dengan mengerjakan rutinitasnya. Saat Nyonya memanggilnya untuk membantu memasukkan baju-bajunya ke dalam tas besar, Sundari tidak merasakan keganjilan apa pun. Besoknya, Nyonya pergi bersama tas besarnya setelah berpesan kepada Sundari untuk tidak pergi ke mana-mana. Sundari yang memang terbiasa tak pergi keluar rumah, cuma mengangguk-angguk.
Sundari mulai mampu meraba apa yang terjadi. Dulu, dua bulan lalu, Nyonya pernah marah besar kepada Tuan. Gara-garanya, Tuan terlambat pulang. Padahal, Nyonya menunggunya untuk makan malam bersama. Sampai larut malam keduanya masih riuh adu argumen. Hingga tiba-tiba, Tuan menggedor pintu kamarnya dan menyuruhnya mengambilkan peralatan P3K. Esoknya, Sundari melihat pergelangan tangan kiri Nyonya diperban. Mungkin Nyonya mencoba bunuh diri. Nyonya memang orang yang cemburuan.
Sepekan setelah kepergian Nyonya, ketika persediaan makan mendekati habis, Nyonya pulang bersama seseorang dari agen penyalur tenaga kerja yang memasokkan Sundari ke majikannya di Hong Kong.
"Cundali, kamu punya majikan mau celai. Kamu punya kelja tidak ada. Kamu dipulangkan," kata Miss Lam berusaha memberi pengertian pada Sundari. Saat itu Sundari hanya ingat Kang Parjo, suaminya di dekat sepeda motor tetangga, meringis. Padahal Sundari ingin menangis.
***
"Indonesia, hamaiya?" sapa seseorang dari arah samping Sundari, ketika ia sedang mengamati lalu-lintas orang di ruang tunggu Bandara Chek Lap Kok.
"Ya."
"Dipulangkan meh?" tanyanya lagi. Sundari merasa agak gerah dengan pertanyaan itu. Tapi mencoba tenang.
"Kok tahu?" katanya balik bertanya.
"Rambutnya pendek dan bawaannya sedikit ma!"
Sundari tersenyum getir. Lalu perempuan yang menyapanya itu pun duduk di sampingnya. Berbincang-bincang dengan bahasa negeri sendiri --meski Sundari merasa bahasa perempuan itu agak dibuat-buat-- Sundari merasa akan kembali ke dunianya. Tiga bulan ia harus memelajari bahasa asing patah-patah bercampur bahasa isyarat. Menelan bulat-bulat dan berusaha memahami budaya yang jelas berbeda dengannya. Berpikir itu hanyalah bagian yang harus dijalaninya untuk mewujudkan mimpi punya kehidupan yang lebih layak. Mungkin seperti Budha yang mesti menjalani Samsara sebelum mencapai Nirwana. Apalagi bila ia ingat kebiasaan majikan yang suka marah, bicara dengan membentak, tertawa ngakak, menangis sejadi-jadinya, serta-merta Sundari merasa lelah. Kelelahan yang jelas menggurat di wajahnya yang bulat.
Lalu Marni, gadis di sebelahnya itu, siapa menyangka ternyata bekerja di flat yang sama dengannya! Satu tingkat di atasnya. Marni juga dipulangkan.
"Namanya majikan ya Mbak, salah bener ya maunya bener. Hamai sin? Ngapain Mbak dipulangkan?" Marni bertanya kepada Sundari.
"Majikanku cerai. Kamu?"
"Karena celana dalam! Jisin! Dasar majikan nggak tahu diuntung! Seenaknya bilang aku cerob..."
"Celana dalam? Jangan-jangan warnanya merah muda?" potong Sundari.
"Haiya, haiya!"
"Ada renda-renda di samping kanan dan kirinya ya?"
"Haiya!!"
"Kecil, mereknya Sexygirl?"
"Haiwo!! TIM CHI CEK? Kok tahu?"
Sundari bengong, teringat ia akan celana dalam merah muda yang telah berubah jadi guntingan kain kecil tak beraturan di kamar majikannya. Nyonya bilang, "Jangan dibuang, biar Tuan tahu."
Mengingat nasibnya, nasib Marni, juga nasib majikannya, Sundari tersenyum tanpa sadar. Seseorang dengan kulit sewarna periuk gosong, di sebelah kiri pintu masuk, menyambut senyumnya. Sundari mengalihkan pandang cepat-cepat kepada Marni, "Ceritanya singkat. Nanti aku ceritakan di dalam pesawat," katanya, karena pengeras suara itu sudah meneriakkan pengumuman bahwa pesawat menuju Surabaya akan segera lepas landas.
Marni cuma mengangguk sambil melongo.***
Hong Kong, 24 April 2005
Catatan:
- Etik Juwita adalah salah seorang buruh migran di Hongkong yang kini merintis menjadi cerpenis. Cerpen ini salah satu karya terbarunya, yang Kamis (15/9) lalu dibacakannya bersama cerpenis buruh migran lainnya, Denok Rokhmatika di Galeri Surabaya. Etik yang asal Blitar, baru pulang dari Hongkong, 13 September lalu, setelah empat tahun bekerja menjadi TKW di negeri itu. Dia berencana melanjutkan studinya di perguruan tinggi.
- My panty is big-big one = My panties are bigger than his one.
- jisin: gila
- hai wo: o, begitu!
catt:
semoga yang membacanya juga menyukai cerpen ini seperti aku menyukainya...
hidup TKW
Komentar publish:
Anda, Sandra Palupi, Fira Rachmat, Frans. Nadeak, dan 10 orang lainnya menyukai ini.
Topan Asri
Ntar ku baca dulu y Ida.... besok br q coment stelah "bergelut" ma cerpen ini... ciayo... ^_^
17 Agustus jam 23:14 • Hapus
Kika Syafii
Seperti inilah sastra hendaknya. Hidup TKW!
17 Agustus jam 23:17 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
thanx to
@topan : janji ya komentar besok...
@kika syafii : yup....tulisan ini membuat aku tak terasa sudah membacanya habis...namun kesannnya kuat sekali
hidup TKW
17 Agustus jam 23:18 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
thanx buat jempol ungilnya ya mb kwek lina
17 Agustus jam 23:21 • Hapus
Kwek Li Na
bagus cerita.
nasib tkw kadang malah mirip barang di pasar malam. kandang di pandang sebelah mata. kadang kehujanan, kadang panas oleh keadaan.
terimakasih telah berbagi kisah ini.
17 Agustus jam 23:23 • Hapus
Kika Syafii
Rata-rata penulis, menuliskan pengalamannya. Maka ceritanya pun akan mengartikan siapa dirinya. Begitu juga dengan penulis lainnya, terkadang penulis tidak menyadari bahwa tulisannya itu mengartikan dirinya.
17 Agustus jam 23:27 • Hapus
Jeppe Indrawisudha
Sorrrrryyyy... Aku mengendap-endap untuk menumpang baca. Ternyata cerpen ini ciamik! Nggak rugi ngintip-intip deh... Thx! ;)
17 Agustus jam 23:27 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
thanx to :
@Kwek Lina : sama2 mb...aku juga suka baca note mb...
penuh filosofi kehidupan
@terimakasih yang sudah memberikan jempol mungilnya buat note ini
17 Agustus jam 23:28 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
Kika Syafii : bener bung kika, biasanya penulis memang mendapatkan inspirasi dari engalaman hidup...namun biasanya itu lebih bisa di jiwai.....
Jeppe Indrawisudha : hehehehehhe, aku jadi merasa aku yang nuli cerpen ne, padahal bukan...hiks...memang cerpen ne keren..makanya ku nobatkan jadi salah satu cerpen favorite aku
17 Agustus jam 23:33 • Hapus
Sayuri Yosiana
aq jd inget mba Eny kusuma yg juga mantan tkw klo nggak salah di hongkong juga ya, yg dengan cerdasnya sukses mengkaryakan tulisannya lewat sebuah buku yg judulnya Anda Luar Biasa.Dan menjd best seller. kebetulan aq punya. Banyak orang tak percy seorg Eny yg hanya tamatan SMA dan hanya buruh di negeri org, bisa menulis dgn sangat baik dan bhs yg smart. Bravo TKW! tak selamanya nasibmu berakhir dgn mengenaskan ternyt. salut. makasih ida dah share.
17 Agustus jam 23:34 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
terimakasih buat jempol mungilnya.....buat yang ngerasa memberikan jempol...
hehehehhehe
17 Agustus jam 23:34 • Hapus
Rosyid E. Abby
Hidup TKW!!! Meski sekilas kubaca, betul2 karya cerpen yg meneyentuh...
17 Agustus jam 23:35 • Hapus
Jeppe Indrawisudha
Penulisnya ada di fb gak ya? Kalau baca cerpen ini nampak betul penulisnya sangat berbakat. Idenya terpaparkan hebat dalam setiap kalimat dengan alur yang apik. Setiap dialog pun terasa mendekatkan kita pada situasi sebenarnya. Dan lebih hebatnya lagi, dia mampu memparodikan situasi tertekan yang dialami banyak TKW. Hebat!
17 Agustus jam 23:36 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
hehehehhehe, makasih juga buat yuri...
hemmm, TKW sekarang ga bisa di pandang remeh....
karena di negeri orang mereka belajar banyak hal yang tidak didapat di negeri sendiri
17 Agustus jam 23:36 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
Jeppe Indrawisudha : aku ga tau neh ada apa ga penulisnya di FB kebetulan aku iseng buka-buka google, nemu deh cerpen ini...
Rosyid E. Abby : yah, ternyata seorang TKW pahlawan devisa mampu membuat sebuah cerpen yang apik....
Ali Fanie : thanx ali...
17 Agustus jam 23:46 • Hapus
Ping Homeric
hahaha.... TOP!!! :D trims tlah berbagi!! :D
17 Agustus jam 23:48 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
heheheheh, thanx juga ping....
17 Agustus jam 23:56 • Hapus
Kajitow Elkayeni
saya suka cerpen ini nona ida. penulisnya berbakat, saya yakin dalam waktu dekat namanya akan sering saya dengar. semoga...
18 Agustus jam 0:58 • Hapus
Faradina Izdhihary
apiik mbak
18 Agustus jam 1:03 • Hapus
Shu Shan Wang
Hmm..kisah Tkw ny g pkir akn kyk berita d TV,dsiksa gt..
Trnyta ending lucu..
Keren wui..
18 Agustus jam 4:57 • Hapus
Imam Setiaji Ronoatmojo
..@Ida : terus berkarya, senang membacanya, hal2 mengenai perempuan sangat banyak untuk digali..
18 Agustus jam 5:27 • Hapus
Dewi Maharani
hidup TKW !
18 Agustus jam 6:17 • Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
ida nursanti basuni ini berbakat besar tidak hanya di puisi tapi rupanya di cerpen juga. seperti yura, anita, kwek lina, dan dewi maharani juga.
banyak benar orang bertalenta hebat sekarang, atau apa aku yang telah mundur dalam penulisan ya. kukira memang mereka berbakat besar.
tapi eh berbakat besar itu, pun adalah passion untuk menggali tepian hidup sampai ke kiri atau kanan jauhnya yang paling jauh ya. hingga ia menghasilkan sepak pojok yang baik, di mana kelak sang waktu akan mengeksekusinya dengan sekali ceplosan saja: goal - novel, cerpen atau puisi.... Baca Selengkapnya
kesana yuk ida hihi lelah ah serius serius mulu mending hehe haha aja ya hihi
18 Agustus jam 7:34 • Hapus
Hanna Fransisca
Tentu aku suka cerita ini, Ida manis. Tapi tidak kuberi tanda suka alias jempol sebab bukan ditulis Ida. Kehidupan TKW sudah banyak ditulis oleh TKW itu sendiri. Bahkan beberapa buku kumcernya sudah beredar di toko-toko buku. TKW Hongkong banyak mendapat pelatihan dari FLP(Forum Lingkar Pena). Seorang TKW lain, Eny Kusuma(ada facebooknya) malah ... Baca Selengkapnyamenulis buku motivasi ANDA LUAR BIASA dan kabarnya saat ini sedang belajar untuk publik speaking.
Cerita di atas adalah pengalaman. Aku salut. Tapi akan jauh lebih salut kalau yang menulis itu Ida.
Salam!
18 Agustus jam 7:44 • Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Aku senyum saja ya Suni... Om Hudan udah panjang lebar berkomentar... juga yang lain lainnya... Itu pak Imam bahkan mengatakan mengenai wanita (saya menyukai kata wanita bukan perempuan) sangat banyak untuk digali...he he he.. melambungkan angan kedalam bumi..
18 Agustus jam 10:52 • Hapus
Anita Rachmad
iya da. kukira ini cerpen made in ida. tapi boleh lah, jika menginspirasi daku dan dikau serta kita semua.
nah..kapan2 ida yg manis dan cantik ini bikin cerpen tema tkw atau Amoi da ! he..he...(sok tau aku)
gimana ? gimana ? duuuh....foto profilnya rek ! sweeegweeer tenan !
18 Agustus jam 13:14 • Hapus
Frans. Nadeak
he... he....
Cerita yang menarik...
harus tetap menulis seperti ini.. :-)
ha.. ha.. ha...
18 Agustus jam 17:42 • Hapus
Fira Rachmat
Pokoke mantap abis...soalnya aku belum pernah baca sih. Jadi baru tahu sekarang...bagus kisahnya...makasih ya Ida. salam.
18 Agustus jam 23:27 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
Faradina Izdhihary : makasih mb...tapi ne bukan aku yang nulis...
Shu Shan : capek juga khan baca yang sedih2 mulu
Imam Setiaji Ronoatmojo : emangnya sumur di gali.....kalau hal-hal tentang perempuan emang tiada batas...karena status mulianya seorang perempuan yang menjadi ibu....
itulah kenapa perempuan sangat istimewa...
Dewi Maharani : hehehehhe hidupn TKW....... Baca Selengkapnya
Jurnal Sastratuhan Hudan
: terima kasih bang hudan sudah mau mengomentari nota saya yang jelek ini...saya merasa sangat bersalah jika di katakan kiarya ini adalah karya saya yang nota bene adalah karya orang lain...hiks....ternyata tuhan hudan tak membaca ya......hiks...jadi sedih...
Hanna Fransisca : mb ku yang cerdas...tepat sekali ne bukan aku yang bikin..tunggulah...aku akan bercerita tentang sesuatu yang dahsyat mengenai perempuan...
Loektamadji A Poerwaka : iya bapak...wanitakan bukan sumur yang bisa di gali...tapi wanita \adalah manusia yang melahirkan dan orang yang sangat mulia....
18 Agustus jam 23:54 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
Anita Rachmad : hehehehhe, insya Allah mb ku yang cerdas...
Frans. Nadeak : tapi sekali lagi...ne bukan karya saya....
Maghfira Mimi
: sama-sama mb firaku yang cantik dan baik...
18 Agustus jam 23:56 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
Kajitow Elkayeni : terimakasih juga telah mau meluangkan waktu singgah di note saya
18 Agustus jam 23:57 • Hapus
Purwono Nugroho Adhi
potret realitas,
antara cerita dan sebuah celana,
antara kejenakaan dan kegalauan,
antara "celana dalam" dan "dalamnya celana",
ada derita diantara "lubang asa",... Baca Selengkapnya
ketika celana berenda di ruang narendra,
cerita berenda untuk pejuang jelata
19 Agustus jam 11:24 • Hapus
Sandra Palupi
Ida,...aku suka seleramu. hormatku untuk si penulis.. hari ini aku belajar tak hanya soal karya, tapi juga soal kehidupan. kehdupan yg dikenalkan Etik Juwita, melalui hatimu, Ida.
salut untuk semuanya!
19 Agustus jam 14:18 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
thanx to mas adhi dan mb sandra....
waduh jadi spechless
20 Agustus jam 15:35 • Hapus
Kamis, 17 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar