28 Juli 2009 jam 17:00
“Aku akan menikah ayah.”
Sebaris kalimat pendek meluncur dari bibir Rasti mampu membuat ku tercengang. Hampir saja aku tak mempercayai pendengaran ku. Aku mengira Rasti tak pernah mau menikah. Dia selalu kesal setiap kali aku menyinggung masalah usianya yang tahun ini ia memasuki ambang 34.
“Kau benar-benar ingin menikah Rasti? Siapa laki-laki itu anakku?”
“ Temanku sewaktu sekolah SMU dulu ayah. Aku meminta persetujuan dari ayah dahulu. Minggu depan aku akan membawanya ke rumah. Apa ayah setuju?”
“Ayah pasti setuju nak, namun segala sesuatunya harus kita fikirkan dan rundingkan dengan keluarga besar kita Rasti.
Rasti tersenyum kecut.
“Apa memang harus meminta pendapat mereka ayah? Selama ini mereka tidak pernah mau tahu dengan kehidupan kita. Kenapa mereka harus di libatkan dalam pernikahan ku ini?”
Aku menggelengkan kepala. Aku mengerti kebencian Rasti pada kedua kakak perempuanku. Sejak istriku meninggal karena gagal ginjal, mereka tidak pernah memperdulikan kami. Tidak pernah pula memberikan pertolongan di saat usahaku jatuh bangkrut karena modal usaha telah habis ku pakai untuk berobat istri hingga ke Singapura. Bahkan, saat hari rayapun mereka enggan berbagi maaf dan mengacuhkan kedatangan ku dan Rasti saat bertandang. Semestinya, mereka perduli dengan aku adik bungsunya dan anak ku, sebagai satu-satunya keluarga kami.
Kenyataannya, kedua kakak ku itu sibuk dengan keluarganya masing-masing. Aku bersusah payah membangun usahaku. Jatuh bangun dan berkeringat darah. Dari berhutang dengan lintah darat, hingga menjual satu-satunya rumah kami. Hingga kini usaha ku kembali maju. Dan Alhamdulillah aku bisa menguliahkan Rasti ke negeri kincir angin. Itulah sebabnya Rasti bertekad untuk tidak memperdulikan bibi-bibinya.
Selesai kuliah, ia langsung memasukkan lamaran pekerjaan ke berbagai kantor dan perusahaan asing. Ia tidak mau bergantung padaku. Itulah yang aku kagumi dari anakku. Begitu di terima di salah satu perusahaan minyak internasional Rasti menjadi gila kerja. Prestasinya melonjak dengan cepat. Menurutnya, direktur tempat ia bekerja sangat menyayanginya. Tidak heran dalam hanya beberapa tahun anak perempuanku telah berhasil sekolah keluar negeri untuk mengambil program master dengan biaya perusahaan. Dan sepulangnya dari menggondol gelar master, ia di percayai memangku jabatan General Manager.
“Sejahat apapun bibi-bibimu tetap saja mereka kakak-kakak ayah Rasti. Kita tidak bisa melaksanakan pesta pernikahan tanpa mereka. Sudahlah nak, simpan kebencian mu itu. Semua ini demi dirimu juga.” ujarku melembutkan hati anakku itu.
Rasti mengangkat bahunya. Dia memang malas sekali berdebat denganku, meski dia sebenarnya selalu menang jika bicara dengaku.
“O ya ayah, namanya sama dengan ayah.”
“Martin?”
Rasti mengangguk cepat. Aku bisa melihat mata anakku berbinar. Begitulah orang yang sedang jatuh cinta. Dulu aku tidak pernah merasakan jatuh cinta. Keluargaku tidak membiarkan ku untuk bermain-main dengan cinta, alasannya aku adalah anak laki-laki satu-satunya. Dan aku harus menjadi tulang punggung keluarga dengan melanjutkan usaha perkebunan kelapa yang sudah di wariskan dari jaman buyut kami. Aku dan istriku di wajibkan mempunyai anak laki-laki untuk meneruskan tradisi keluarga itu. Namun ternyata aku malah mempunyai seorang anak perempuan. Mungkin karena hal itulah aku dan anakku Rasti seperti di buang keluarga.
Lalu masalah lain timbul setelah anakku dewasa. Kakak-kakaku mulai menyodor-nyodorkan jodoh untuk rasti. Alasan mereka jodoh yang mereka cari adalah orang yang benar-benar pantas untu menjadi penerus keluarga kami, yang menurut Rasti itu terlalu berlebihan. Dan bisa ditebak reaksi Rasti sangat-sangat dingin. Dulu, mereka tidak perduli nasib kami, kenapa setelah kami sukses mereka baru mau tahu apa urusan kami?
Jaman dulu orang tua bisa memaksakan kehendak pada anaknya, namun sekarang bukan jaman Siti Nurbaya, itu kata Rasti. Anak perempuanku itu terlalu pintar , sehingga aku kehilangan cara untuk memintanya segera menikah. Semakin di desak semakin malah semakin berontak. Bahkan Rasti mengancam tidak mau pulang ke rumah, jika aku terus mendesaknya.
Lama juga aku tidak lagi mendesaknya dan tak lagi mengungkit masalah pernikahan dengan anak gadisku yang keras kepala itu.
Melihat Rasti yang bersikukuh tidak mau segera menikah timbul gunjingan bahwa anakku punya kelainan seksual. Rasti di kira Lesbian oleh keluarga besar kami. Mereka sibuk mengira-ngira bahwa anakku cenderung menyukai perempuan, gara-gara Rasti sering pulang ke rumah mengajak teman sekantornya, Rani dan menginap di rumah kami. Meski tidak percaya, namun kenyataannya anakku Rasti tidak kunjung berumah tangga, jangankan menikah, punya pacar saja dia tidak.
“Martin, kau bawalah si Rasti untuk berobat ke psikiater, jangan-jangan ia memiliki kelainan seksual, apa kau tak mau melihat anakmu berumah tangga? Bila tidak segera kau tanggulangi , jangan harap kau bisa melihat anakmu memiliki suami.”
Saat kuutarakan maksud ku pada Rasti, dia marah-marah dan anak perempuan ku satu-satunya itu merasa terlecehkan, dan ia menuduhku tidak percaya pada Allah.
“Ayah, kita ini orang beragama, percaya pada takdir Allah, kalau memang sudah waktunya aku menikah, pasti akan di berikan jodoh itu padaku, ayah selalu mengatakan pada ku bahwa rezeki dan jodoh itu sudah di atur oleh-Nya?”
Ucapan Rasti membuatku merinding dan merasa teramat kecil. Maksudnya memang bukan untuk mengguruiku, tetapi tetap saja yang mengatakan hal tersebut Rasti, anakku semata wayang.
Aku bersyukur ya Allah, akhirnya anakku, anak perempuanku satu-satunya, belahan hati simpiran jantung, akan mengakhiri masa-masa pergunjingan orang, masa-masa kesendiriannya. Hampir saja aku putus asa, karena tak mampu mengubah pendiriannya untuk mencari lelaki yang sesuai dengan harapannya.
Rasti menepati janji membawa calon suaminya ke rumah kami. Begitu sebuah mobil berhenti di depan rumahku, aku melihat kakak-kakakku menaikkan alisnya. Mereka begitu ingin tau bagaimana calon suami Rasti. Saat Rasti muncul bersama seseorang , kedua kakakku itupun mulai memasang wajah sok menilai. Ah, begitulah kakak-kakakku.
Lelaki itu memang tidak tampan, namun terlihat sangat berpendidikan. Sikapnya sangat sopan, membuatku tidak merasa kecil berbicara dengannya. Walau baru pertama kali bertemu, aku sudah menyukai Martin, dan aku yakin sekali bahwa lelaki itu memang lelaki yang tepat buat Rasti. Namun saat Martin mengatakan akan membawa rombongan keluarganya untuk melamar, aku melihat kedua kakakku keberatan. Rupanya mereka tidak sependapat dengan aku, mereka tidak menyukai Martin, dengan alasan belum siap kedua kakakku memintaku pada Martin untuk minta sedikit waktu untuk berfikir. Tidak boleh tergesa-gesa memutuskan. Baru sekali bertemu, itu alasan mereka.
“Kami harus menyiapkan segala-galanya, saya harus membicarakan ini dengan keluarga besar kami yang lain dan nanti kami akan mengambil keputusan kapan nak Martin dapat melamar Rasti.”
“Kami sepakat tidak mau mengulur-ulur waktu ayah. Cukuplah masa perkenalan kami yang telah bertahun-tahun. Bukankah begitu Martin?” Rasti melirik Martin yang duduk di sampingnya.
“Mana bisa begitu Rasti, apa kata keluarga yang lain jika kau tidak memperkenalkan calon suamimu kepada mereka?” bantah kakak pertamaku dengan cepat.
“Rasti benar bibi. Kami ingin menikah secepatnya. Perkenalan dengan keluarga besar yang lain kan bisa menyusul setelah kami menikah.”
Tanpa basa-basi lagi kedua kakakku itu buru-buru meninggalkan rumah kami dengan menggerutu. Kalau bukan karena mereka adalah kedua kakakku, aku tak sudi mendengarkan kata-kata mereka. Sama seperti Rasti aku juga muak dengan sikap mereka. Demi pernikahan anakku aku harus menyingkirkan perasaan muak itu.
“Apa calon suami si Rasti itu adalah lelaki berpendidikan dan jelas asal usulnya Martin?” Tanya kakak sepupuku Rusli.
Aku tersenyum kecut. Kedua kakakku itu memang penyebar berita, dengan cepat sekali berita tersebar keseluruh keluarga besar kami. Tidak ada berita yang lewat begitu saja dari telinga-telinga yang lapar. Suara jarum jatuh di dalam rumah kami saja pun bisa terdengar bunyinya sampai ke keluarga terjauh sekalipun.
“Iya, namanya Martin, ia bersekolah di Amerika, hanya saja ia berasal dari keluarga sederhana. Ia dapat melanjutkan pendidikan karena ia mendapat bea siswa. Keluarganya berencana akan datang melamar dalam waktu dekat. Bagaimana menurut kalian?”
“Aku tidak setuju. Bagaimana ia mau membuat pesta yang besar? Kalau ia berasal dari keluarga sederhana. Bisa mendapat malu keluarga kita nanti jika resepsi pernikahan hanya biasa-biasa saja, lagi pula apa kau tidak malu, bermenantukan laki-laki miskin seperti dia?”
“Tapi ia lelaki yang berkemauan keras, ia juga mempunyai pekerjaan yang bagus.” selaku.
“Memangnya berkemauan keras saja sudah cukup untuk membangun sebuah rumah tangga? Lagi pula ku dengar si Rasti dan calon suaminya tidak mau mendatangi kerumah kami untuk berkenalan, dasar tidak tau sopan santun berkeluarga.”
Ucapan Rusli membuat wajahku memerah. Dia mengatakan anakku tidak tau adat dan sopan santun berkeluarga. Padahal anakku susah payah ku didik menjadi terpelajar dan beretika.
“Jadi harus bagaimana?”
“Pinta mereka untuk mengunjungi kami satu persatu. Yah, walaupun akan memakan waktu yang lama karena keluarga besar kita tidak hanya di pulau Kalimantan, bahakan sampai ke Sumatra. Tapi itu merupakan tradisi keluarga, Martin, aku dulu waktu mau menikah yang bukan dengan perjodohan juga demikian kan? Lain hal jika keluarga yang mencarikan calon.”
Mendengar ucapan sepupuku itu aku tersenyum getir. Apa yang dikatakan oleh Rusli itu memang benar adanya, dalam tradisi keluarga kami, siapa yang menikah bukan karena perjodohan keluarga, jika ingin menikah dan di terima dengan baik oleh keluarga memang harus menjalani tradisi mengunjungi dan memperkenalkan si calon kepada semua keluarga dekat. Yang jaraknya dekat tidak sulit, namun yang terpisah pulau itu yang berat. Karena memakan banyak waktu, dan juga biaya. Untunglah dulu aku dan istriku menikah karena di jodohkan.
Jadi tidak heran Rasti yang telah mengetahui tradisi keluarga kami merasa keberatan untuk pergi mengunjungi keluarga memperkenalkan si calon suami. Bagaimana pula ia akan meninggalkan pekerjaannya di kantor dan juga perkerjaan Martin?
Rasti hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika aku mengatakan semua hal yang sudah di rencanakan dengan keluarga besar.
“Sudah kubilang ayah, kami tidak mau menunda-nunda pernikahan kami. Terlebih harus pergi mengunjungi sanak saudara. Memakan waktu lama Ayah "
“Paling lama hanya lima atau enam bulan Rasti. Ayah rasa waktu itu tidak lama, ayah akan menanggung sebagian besar biaya pernikahan kalian anakku…”
“Tapi, mana ada waktu kami untuk cuti ayah, belum lagi mengurus persiapan untuk resepsi pernikahan dan urusan pencatatan di catatan sipil, tidak ada waktu ayah, sedangkan umurku semakin bertambah. Sudahlah Yah, tidak usah terlalu menuruti kata-kata keluarga dan tradisi yang konyol itu. Nanti malah ayah bisa jatuh sakit karena terlalu berat berfikir.”
Rasti merebahkan kepalanya di pangkuanku, aku membelai dengan penuh kasih sayang kepalanya yang berambut legam.
“Ayah cuma punya anak semata wayang saja, dan ayah mau melihatmu meneruskan dan tidak melanggar tradisi yang telah berlaku berpuluh-puluh tahun, anakku. Jangan biarkan kita di buang keluarga untuk kedua kalinya.”
“Ayah…”
“Kabulkan sekali ini saja. Bukankah selama ini, ayah tidak pernah memaksamu untuk melakukan sesuatu yang tidak kau sukai,” bujukku seraya mencium ubun-ubun kepalanya.
Rasti menghela nafas. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Tanpa terasa enam bulan sudah berlalu. Semenjak Rasti pamit. Bila tak salah menghitung, kurasa sudah hampir sepuluh bulan . Sejak tiga bulan terakhir Rasti tidak pernah lagi pulang kerumah. Mungkin ia kesal karena aku terlalu menurutkan kata-kata keluarga yang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan pernikahannya.
Setiap kali aku menelepon ke rumah, ke kantor ataupun ke ponselnya, Rasti tidak pernah ada atau mau mengangkat telepon dariku. Aku tidak berani mencarinya ke Jakarta.Rasti marah jika aku datang tanpa memberinya kabar terlebih dahulu.
Sebulan ini aku berfikir, mengapa aku begitu bodoh mau terhasut oleh keluarga besar kami yang selama ini tidak pernah mau tahu bagaimana beratnya kehidupan yang kami jalani, begitu juga kedua kakakku, aku mau saja menuruti kata-kata mereka yang tak pernah peduli apa yang kami jalani. Sekarang, tiba-tiba saja mereka mau memasuki kehidupan aku dan anakku. Betapa bodohnya aku masih mau memakai tradisi konyol keluarga kami, padahal, anakku, sudah di ambang pernikahan. Aku menyesal. Sangat merasa kecil.
Aku sudah mempersiapkan segalanya, aku berubah fikiran. Biarlah fikirku, aku saja yang mengurus pernikahan anakku, biarlah aku dibuang sekali lagi oleh keluarga, tak apa. Aku telah membeli sejumlah perhiasan emas kemarin untuk Rasti. Aku juga telah memesan gedung dan catering. Perancang pakaian sudah ku panggil kemarin untuk menyiapkan sketsa yang cocok untuk anakku Rasti. Aku juga telah menyewa even organizer terbaik untuk mempersiapkan pesta anakku. Tinggal menunggu Rasti datang dan meminta keluarga Martin datang melamar sekaligus menetapkan tanggal. Walaupun tindakan ku ini mendapatkan cibiran dan tatapan sinis dari kedua kakakku.
Kedatangan Rasti membuatku teramat tidak sabar. Sesekali aku melongok ke jalanan lewat jendela . Aku juga selalu memegang ponsel, dan berjaga-jaga di dekat telepon rumah, siapa tahu Rasti menelepon dan memberitahukan akan pulang.
Penantianku akhirnya tidak sia-sia. Suatu petang, Rasti pulang dengan membawa sebuah koper. Mungkin dia sudah membeli pernak-pernik untuk pesta pernikahan nanti.
“Kau membuat ayah berjamur menunggumu nak, “ gerutuku seraya membantunya membawa koper.
“Aku sibuk, Yah.” Sahutnya tanpa memandangku.
“Apa kesibukanmu di kantor lebih penting dari pesta pernikahan?”
Rasti menatapku tercengang. Aku tersenyum melihat reaksinya. Mungkin dia tidak menduga aku akan mengatakan sesuatu yang selalu di tunggunya. Aku menggamit lengannya dan mengajaknya duduk di kamarnya, aku menceritakan apa yang telah aku lakukan dan memperlihatkan apa yang telah aku persiapkan untuk pernikahannya.
“Kau menyukai semuanya sayang?”
Rasti menghenyakkan pantatnya di atas tempat tidur. Sesaat aku menangkap kemurungan di wajahnya. Aku segera duduk di samping Rasti dan perlahan memaksanya melihat ke wajahku.
“Kenapa Rasti, kamu tidak suka dengan apa yang ayah persiapkan? Kalau tidak suka kau boleh menggantinya nak.”
“Bukan begitu ayah. Aku suka pilihan ayah, tapi….”
“Tapi apa?” potongku cepat.
Rasti berdiri dan mendekati jendela kamar. Aku memandang punggungnya yang sedang membelakangiku.
“Aku batal menikah dengan Martin ayah. Orang tuanya kesal dan merasa teremehkan oleh sikap kita. Mereka mengira ayah sengaja mengulur-ulur waktu pernikahan itu, karena mereka orang biasa. Mereka juga menyangka kita telah menolak Martin dengan halus. Minggu ini Martin akan menikahi gadis lain…”
Dadaku perih seperti di tusuk-tusuk pisau tajam. Tiba-tiba aku tidak dapat bernafas, mataku berkunang-kunang dan tubuhku menjadi sangat ringan. Aku masih mendengar Rasti memanggil-manggil namaku.
Singkawang, 27 juli 2009
Komentar Publish FB :
Sufriady Saleh, Herry Herdinata, Sayuri Yosiana dan 4 lainnya menyukai ini.
Bagas Dwi Bawono
dadaku ikut menyesak...terawang meringan....
nice Ida....
28 Juli jam 17:19 • Hapus
Hanna Fransisca
Bahagianya aku menemukan Ida yang kukenal. Pembuka cerpen lari ke tokoh 'ayah'. Dan ayah yang menceritakan kehidupan putrinya. Ida selalu punya cara tersendiri dalam bertutur cerita. Unik. Aku suka, Da. Tinggal dipadatkan. Jadi deh. Atau kejutan yang lebih dasyat. Tadinya aku sangat berharap ada sedikit permainan dalam cerpen ini dengan nama Martin... Baca Selengkapnya itu. Hiks... Ok deh! Karena dah senja, aku harus pulang ke rumah. Asyik nikmati ceritamu. Kutunggu lagi cerpen lainnya. Ayo, aku selalu percaya potensi dan bakatmu yang satu ini. Salam cerpen, Ida. Muuuuaaah. Aku ingin Ida tersenyum selalu. Oke?
28 Juli jam 17:52 • Hapus
Anita Rachmad
konflik keluarga memang selalu menarik dikisahkan. tidak ada habisnya. termasuk kisah bujang lapuk yang di buru kawin oleh keluarga, menjadi ironis tersendiri di tengah model hidup gaya baru perempuan yg mandiri. i am single and i am happy ! begitu katanya.
apa pun idemu ida nursanti basuni yang cantik, cerpenmu kali ini mengalir indah meski kurang ada konflik yang meruncing, padahal kesemptan berkonflik itu nyata muncul di cerpenmu.
peluk cium dari malang ^_^
28 Juli jam 19:04 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
thanx, buat, mas bagas, mb.hanna, mb. anita : komentar kalian membuat aku serasa hidup kembali, padahal beberapa jam yang lalu aku terkapar mati...............
28 Juli jam 19:41 • Hapus
Anita Rachmad
ha ? mati ? kejam nian izroil ! mematikan zat yang belum ingin mati
^_^
28 Juli jam 19:43 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
hehehhehehe, bukan tubuh ku yang serasa mati mb, tapi jiwaku,
28 Juli jam 19:46 • Hapus
Anita Rachmad
duuh...sedihnya. jangan dong ! nanti aku lho.....nanti aku nangis lhooo........hik..hik..huaaaaa
28 Juli jam 19:57 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
gpp mb...menangislah......ga da yang liat ini
hehehhehehe
28 Juli jam 19:59 • Hapus
Sayuri Yosiana
wow akhir yg tragis ya...menarik banget kisahnya.
29 Juli jam 2:35 • Hapus
Herry Herdinata
kadang2 kita hrs menanggng apa yg dilakukan orng tua,tapi bgaimanapun jg mereka adalh orang tua kita yg memberi kita kehidupn.tidk ada orang tua yg tidak syang sama anaknya,bgaimanapun jg kehidupan kita tlh diatur oleh thn yg maha esa,apapun jalannya itulah yg terbaik bagi kita.kehidupan ini tidak berakhir smp disini,seperti kta kwek li na:ranting yg patah akan tumbuh tunas yg baru,yg penting semangt jngn menyerah.semangat lg ya,,,
29 Juli jam 9:27 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
@sayuri : thanx.......
@herry: makasih, semangat
29 Juli jam 13:28 • Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
besok pagi kubaca ya ida: panjang. dan menarik. ada sesuatu yang akan mengejutkan rasanya dari cara memulai cerita itu: semacam tragedi. baru kubaca di star nya saja. asik.
30 Juli jam 21:05 • Hapus
Ida Nursanti Basuni
hehhehehe, bang hudan aja udah penuh kejutan, apalagi komentar bang hudan
wuihhh aku tunggu lho bang hudan
30 Juli jam 21:35 • Hapus
Sufriady Saleh
panjang, tapi berharga tuk dibaca berulang. Aku pernah mengenal rasti dalam sosok seorang lelaki.
10 Agustus jam 3:16 • Hapu
Kamis, 17 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar