Kamis, 17 September 2009

Uma'

23 Juli 2009 jam 15:47


Hari itu tiba-tiba saja aku teringat mak, ingat mak yang telah sekian lama aku tinggalkan di rumah itu. Mak yang semenjak aku telah membuka kelopak mata kecilku , yang semenjak itu pula aku telah melihat mak tersenyum.
Hari itu aku bergegas pulang dari kantor dan langsung mengepak seluruh barang-barang yang bisa ku masukkan ke dalam koperku. Yah, aku ingin ketemu mak, entah mengapa tiba-tiba saja wajah tuanya menghantui setiap gerak langkah yang biasanya bisa kuseret dengan ringan. Namun hari itu seret kakiku melemah tiba-tiba, saat ku memandangi sebuah pamflet seorang perempuan memangku anak perempuannya.
Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan, aku tiba di muka sebuah rumah dengan halaman luas bak kebun istana tempo dulu. Banyak pohon-pohon tua di sana, banyak pula bunga aneka warna. Namun halaman itu tampak tak terurus, dengan dedaunan pohon-pohon tua yang berserakan, dan rumput ilalang yang tumbuh bebas dan menari tertiup helaan angin bulan September.
Aku melangkah sangat cepat, setengah berlari aku menaiki tangga rumah yang seperti tak pernah habis. Ku lihat pohon jambu klutuk di samping rumah, tempat aku dan adikku Lila bermain sambil menghitung semut yang berbaris di lengan pohon yang kurus. Aku teringat pula teriakan mak yang meminta kami untuk tidak memanjat terlalu tinggi, mak bilang adik-adiknya dulu pernah menjadi korban pohon jambu klutuk yang berdahan kurus dan berdaun kerempeng.
Lalu kulihatlah wajah tua itu, wajah yang 10 tahun tidak kulihat, hanya karena kemarahan sesaat ku pada mak. Oh, mak, aku berlari memeluknya dan langsung mencium punggung tangannya yang ku lihat sudah keriput termakan usia.
“Kau ke nong?”*
“Aok mak, itok Rayya, anak mak.”*
Dua hari aku di rumah tempat aku menghabiskan masa kanak-kanakku, adikku Lila, begitu aku mengatakan pulang ke rumah mak, dia pun langsung pula menaiki pesawat pertama setelah delapan tahun pula tak menginjakkan kaki kerumah masa kanak-kanak kami, seakan-akan rumah itu tinggal puing kenangan. Padahal masih ada mak di sana.
Dua hari selama aku di sana mak masih saja diam. Murung. Seperti kami tak pernah ada di sana. Seperti kami masih saja lepas seperti anak panah yang tak kunjung jua kembali pada busurnya. mak murung. Aku jadi bingung. Dengan cemas aku mengintip lewat kusen jendela kamarnya yang mulai usang. Aku bingung mengapa mak banyak melamun. Aku khawatir. Sangat khawatir. Ketika beberapa kali ku coba memanggil dan ia tak kunjung menjawab panggilanku, aku mulai ketakutan. Yakin itu pertanda buruk….
“Puluhan taon, mak merawat bapak, merawat kite, mak itu perempuan hebat,” kataku kepada Lila.
“Mak tidak lemah sebagaimana umumnya anggapan orang-orang tentangnya. Juga tentang perempuan. Mak, perempuan perkasa. Bertaon-taon die banting tulang dan tak pernah mengeluh. Membersihkan rumah, mencuci pakaian kite waktu kanak-kanak, menyiapkan makanan, melayani bapak yang sering membentaknya jika ia salah membuatkan minum, belum lagi mendengarkan keluh kesah bapak dan kita anak-anaknya. Apalagi mendengar keluh bapak tentang kegagalan hidup yang tak pernah putus. Tak pernah sekalipun putus asa apalagi menyesal. Semuanya mak terima dengan lapang hati. Ia terima dengan hati ikhlas dan rasa hormat yang tidak pernah berkurang seujung jaripun, terhadap bapak. Meskipun bapak sering sekali menipu. Segala janji di obral bapak sewaktu mereka akan menikah, yah, aku tau itu, tentang rumah, mobil, masa depan yang bahagia dan sukses, walaupun mak tau itu gombal dan semua cuma sebatas rayuan bapak. Ya, bapak dan kita telah banyak menipu mak. Tapi, mak tak pernah menggugat, seperti bapak menggugat harta warisan peninggalan nenek, seperti kite yang minta-minta kasih sayang yang lebih di saat mak sedang terkapar perih menahan ngilu yang teramat di hatinya. Tapi bagi mak, itu semue hanya kenyataan yang harus di terima. Walaupun menyakitkan.”
Lila meringis menahan tawa.
“Kenapa kau tertawa? Ini bukan untuk kau tertawakan, Lila. Aku sedih, tapi mau apalagi, karma semua sudah terjadi. Aku bangga menjadi anak mak.”
“Bagaimana tidak, kau seperti menceritakan hal yang semua orang mengalaminya.”
“Yah, kau tau iye! Mak adalah harta kite.”
“Tapi kau jangan nak seakan-akan menghujat bapak, mak kan selalu melindungi bapak.”
“Kau betul! Mak itu orang suci. Setengah nabi. Tapi itu tidak pernah di lihat bapak. Yang dilihatnya mak suci hanya ketika mak masih perawan. Sekarang mak dah tue. Sudah renta. Memang keinginan mak tetap saja masih menggelora untuk melayani bapak, tetapi pasti jasmaninya tidak kuat lagi. Sekarang mak dah keropos. Bapak dak mao’ melihat mak telanjang lagi di ranjang seperti dulu. Kitepun dah dak bise mengharapkan mak seperti dolo’ age’.”
“Ah, iye kan cume alasan bapak, dan alasan mu juak.”
“Tidak bisa tidak Lila! Kenapa kau mengatakan pula itu alasan aku. Aktivitas mak yang luar biasa dan sambung-menyambung dah buat mak kapak. Mesin yang tua akan di lempar ke gudang dan di jadikan rongsokan. Tak terpakai lagi. Apalagi sudah ada yang baru. Tapi mak kan bukan mesin. Die manusie. Apalagi bapak jenis laki-laki yang memang suka menaiki tubuh perempuan berganti-ganti jenisnya. Sebetulnya, istri adalah ratu rumah tangga. Dan cukup satu saja.”
“Aku sudah mengatakan pada mak, jangan memaksakan diri untuk mengerjakan semuanya seperti dulu. Tapi mak bukannya mak kalau tidak tersenyum dan berkata lembut, dan sangat tidak memperdulikan omongan ku. Dia tak ada waktu untuk bersantai, karna kalau ia diam, rumah berubah menjadi gugusan beku. Fakta! Mak terus saja bekerja, dan terus bergerak. Jadi, Lila, kita harus bertindak. Paksa mak untuk berhenti menyibukkan diri, paksa mak istirahat dan bersenang-senang, paksa mak untuk melupakan bapak. Paksa mak untuk jalan-jalan, menikmati hidup. Seperti orang tua- orang tua lainnya.”

“Maksudmu?”

“Hidup bukan hanya di dalam rumah, di luar sana kehidupan lebih berwarna. Mak harus kita manjakan sekarang. Karena itu, kita harus mengambil alih rumah dari tangan mak, aku akan mencari pembantu sekarang untuk menggantikan tugas-tugas mak selama ini.”
“Salah!”
“Apa?”
Ternyata Lila mempunyai pendapat yang berbeda denganku, dia memintaku untuk duduk dan mendengarkan uneg-unegnya.
“kau dudok dolo’, dangarkan aku baik-baik, sabab ito’ panting inyan.”*
“Kau usah takut Lila, bukan uangmu yang akan bayar pembantu, tapi uangku.”
“Duduk dolo’.”
Aku terpaksa duduk.
“Kau salah kaprah kak.”
“Salah kaprah? Maksudmu?”
“Sudahlah, kakak dangar aja dolok, usah bantah, usah protes, kalau udah paham, barok kau boleh bantah omonganku ito’. Kalau bise. Kalau dak, terima aja yang akan ku tunjukkan ape yang kite ingkare’ selama ito’.”
Dengan perasaan teramat bingung aku terpaksa mendengarkan.
“Jadi coba kita ingat-ingat dengan sejujurnya, bagaimana waktu kita masih remaja dulu. Ketika kita baru saja menanjak masa SMU. Ingatkan?”
“Tentu saja ingat, kita mulai jatuh cinta dan ingin sekali bisa berpacaran. Ingin menikah, ingin mendapatkan pasangan yang bisa menerima seluruh diri masing-masing. Baik itu kelebihan maupun kekurangannya. Bukan untuk pacaran dan menikah setahun lalu bercerai. Memangnya kenapa?”
Lila mendengus,
“Ketika kita remaja dulu, kita teramat egois, betul tidak?”
“Ah, tidak juga.”
“Semua anak muda itu egois! Itu tanda kegairahan hidup.”
“Jadi semua itu normal kan?”
“Kan aku tidak bilang itu tidak normal, kak.”
“Bagus itu, lalu teruskanlah.”
“Menurut ibu, dan yang sering kita lihat dulu, kalau ibu telat masak, apalagi di tambah masakan ibu kurang nikmat, bapak pasti mengamuk dan kita juga ikut-ikutan kan? Bukankah itu namanya egois?.”
“Ya, karena bapak merasakan itu adalah sebuah hal yang wajar adanya. Bapak kan merasa sudah banting tulang mencari duit, jadi apa salahnya dia menuntut untuk makan enak? Itu bukan marah, melainkan hanya pernyataan seseorang yang lapar dan sudah letih.”
“Tunggu dolo’ kak, itu namanya kau membenarkan perilaku bapak yang kasar. Kau kan membenci bapak dengan sangat kak. Apa yang kau peroleh dengan membantu bapak, toh kau akan sama saja seperti emak. Karena emak juga mengerti. Mak paham, sebab bapak yang banting tulang, jadi bapaklah yang harus diistimewakan. Sebab kalau bapak sampai sakit, roda rumah tangga akan berhenti berputar. Seperti kata kakak tadi, ibu adalah ratu rumah tangga, tapi bapak juga adalah motor yang menggerakkan kehidupan rumah tangga. Kalau motor itu berhenti berkerja, kita semua akan habis.
“Oya? Mak berkata begitu?”
“Tidak, itu cuma pnafsiran Lila saja kak. Aku walaupun membenci bapak dengan teramat sangat, tapi aku juga harus jujur terhadap apa saja yang telah ku alami dan kulihat selama ini. Kita juga akan mengalaminya kelak kalau kita sudah berumah tangga. Di samping itu, kita kembali pada mak, tugas mak selama ini, memang bertumpuk. Dulu selain harus mengurusi bapak, ibu juga harus mengusrusi kita berdua. Anaknya. Karena anak ibu cuma dua dan perempuan keduanya, pasti lebih sulit daripada mengurus lima anak laki-laki. Mak pernah mengatakan padaku dulu, kita adalah anak-anak perempuan yang cerewet, lebih cerewet dari bapak. Kurang di perhatikan sedikit saja sudah marah atau di perlakukan tidak adil. Kalau kita diajak diskusi kita pasti lebih memilih menutup mata dan telinga kita ketimbang mendengarkan mak berbicara. Jadi mak, terpaksa ekstra hati-hati dan sabar. Akhirnya kedudukan memang kepencet seperti roti bakar.
Tapi jangan salah kak, manusia kalau kepencet bukannya tambah lembek seperti tanah, terutama perempuan. Umur perempuan menurut riset lebih panjang dari laki-laki, justru itu dikarenakan lebih banyak menderita. Seperti atlit kak, kalau tubuhnya di tempa terus, akan menjadi keras dan liat. Jadi kak, karena mak telah menempuh hidup yang keras dan berat, maka mak menjadi sehat, kuat, dan mempunyai pribadi yang arif dan bijaksana. Batol kan kak?”
Aku hanya mengangguk-angguk tanpa tau kemana arah adikku akan bicara kembali.
“Nah, sekarang seperti yang sudah kita ketahui bersama kak, bapak sudah tua, renta pula. Bapak juga pasti akan menjadi lebih bijaksana, bapak juga sudah mulai sadar, bahwa tindakannya meninggalkan mak selama puluhan tahun adalah salah. Bapak juga mulai ingin mendekati kita lagi, namun kita masih saja tidak mau menerima kehadiran bapak kembali ke rumah kita lagi. Kekehidupan kita. Sedangkan kita, malah meninggalkan ibu sendirian tanpa kabar yang sering, sesering kita makan dan minum tiap hari. Akibatnya parah kak, mak menjadi kehilangan. Kehilangan keseimbangan. Dalam kehilangan dan ketimpangan itu, mak jadi tak punya arah.”
Aku terdiam meresapi makna kata-kata adikku.
“Seperti, daun yang tertiup angin, mak terbang dengan bingung, melayang tanpa tahu arah. Mak juga merasa tak berarti. Merasa kehilangan arti hidup sangat berbahaya kak. Kehilangan itu menyebabkan mak bertanya-tanya buat apa ia hidup, anak dan suami tidak bisa hidup berdampingan dan tak mau mengerti. Apalagi gunanya ia ada. Itu sebuah pertanyaan yang sangat berbahaya. Ya kan kak, mak kesepian.”
“Aku terkejut bukan buatan. Aku tidak pernah berfikir hingga ke tahap itu.”
“Mak bisa bunuh diri atau melakukan sesuatu yang diluar batas kesadarannya kak.”
“Kenapa? Kenapa bisa sampai begitu, tidak mungkin Lila.”
“Kak, percayalah, mak tidak butuh pembantu, tapi mak membutuhkan jiwa baru kak, dan kakak pasti tau jiwa baru itu dari mana asalnya.”
“Jiwa yang baru itu maksudnya apa Lila, kau jangan berteka-teki.”
“Tidak kak”
“Apa yang kau maksud itu adalah kita anak-anaknya?
“Salah satunya kita kak.”
“Bukankah kita sudah ada di sisi emak sekarang? Apa lagi yang kurang?”
“Oya, tentu saja, mak tau itu kak, tapi tetap saja masih ada yang kurang.”
“Kurang? Lila aku sudah berkorban untuk mak, aku sudah rela meninggalkan pekerjaan dan karier ku di sinun, hanya demi menemani mak di sito’, aku juga rela kehilangan Dewa, karena ia tidak bisa meninggalkan keluarganya di Jakarta hanya untuk mengikutiku pindah ke mari. Dan kau masih mengatakan bahwa buat mak itu masih kurang?”
Lila terdiam sejenak
“jadi apa yang kurang?”
“Bapak”
“Apa?”
Aku sangat terkejut sekaligus terkesima, mendengar penuturan adikku semata wayang. Aku tidak habis fikir bagaimana ia bisa mengatakan bahwa yang kurang dalam hidup mak adalah bapak. Masih segar dalam ingatanku waktu itu, aku baru hendak masuk ke perguruan tinggi, saat bapak memutuskan meninggalkan mak dan memilih perempuan lain, perempuan yang lebih muda dan cantik daripada mak, sekaligus lebih kaya dari mak. Bapak juga menuntut harta warisan nenek yang telah di berikan secara ikhlas kepada mak. Lalu kurang apa penderitaan yang kami dan mak lalui hingga ia masih menginginkan bapak kembali padanya?
“Mak menginginkan bapak untuk mengisi ketimpangan hidupnya?
“Aok”
“Mak kan tidak buta, tidak juga kebal, hati apa yang mak punya?”
“Kak, mak itu bukan jenis perempuan pendendam! Iman mak sangat kuat untuk bisa menerima cobaan hidup kak. Dia bukan benci atau pura-pura tidak butuh pada bapak. Dia tau bahwa bapak bersalah dan tidak pantas untuk kita kasihani. Tapi mak percaya kalau bapak pantas di beri kesempatan kedua.”
“Ah.”
“Jangan cuma berkata ah kak.”
“Lila, kamu jangan menjadikan mak sebagai tameng untuk membawa bapak kembali kerumah ini.”
“Siapa kak? Aku tidak bermaksud begitu.”
“Lila, aku mencoba mengajakmu untuk melihat sebuah kebenaran. Bagaimana perasaan mak saat bapak tinggalkan dolo’. Padahal mak sudah begitu setia mengabdi pada bapak. Tapi apa yang mak dapatkan?”
“Kak, coba kau dengarkan dulu aku.”
“Kak, kita harus mempertemukan mak kepada bapak.”
“Kau sudah gila Lila, kau sudah tak waras.”
Aku sangat tak habis fikir dengan apa yang Lila katakan, mempertemukan mak dengan bapak? Aku sangat tidak bisa menerima ide gila itu.
“Kak, ayolah, ini demi kebaikan mak. Secepatnya kak, kita harus bisa mempertemukan mak dengan bapak kembali, sebelum semuanya menjadi terlambat.”
“Kau gila Lila, aku tak mau melakukan itu, bapak sudah sangat menyakiti hati mak, padahal mak sudah berbuat sesempurna mungkin. Tapi tetap saja bapak menyakiti mak dan membuatnya menderita selama puluhan tahun Lila.”
“Kak, apa kau mau melihat mak kembali tersenyum?”
“Tentu saja Lila, aku khawatir melihat dia dua hari ini hanya merenung dan melamun saja. Aku khawatir ada sesuatu yang buruk akan terjadi pada mak. Dan aku tak mau itu sampai terjadi.”
“Makanya kak, kita harus segera mencari bapak dan mempertemukannya dengan mak.”
Aku terdiam, lama, sangat lama.

“Kamek kemari karena ingin ketemu bapak,” Lila membuka percakapan setelah seperempat jam kami hanya terdiam. “Kalau bapak tidak keberatan kami ingin bapak menemui mak.”
Bapak terdiam agak lama, lalu menoleh dan memandang padaku lama.
“Apa bapak mau menemui mak?” Akhirnya aku membuka diri untuk memulai percakapan dengan bapak. Laki-laki yang sangat aku benci. Aku benci ia, walaupun dari spermanya lah aku melihat dunia.
“Bapak tau, bapak telah salah melangkah selama puluhan tahun ini. Kalau kesalahan bapak terlalu berat, bapak mohon untok bise dibarek kesampatan memperbaikinya. Karena meskipun badan bapak berjauhan dengan mak kita’, namun jiwa bapak masih terase dakat dengan mak.”
Bapak terdiam sebentar. Lalu sudut matanya yang masih tajam melihat ke arahku. Lila turut melirik padaku. Aku merasa jengah di pandangi oleh dua pasang mata yang terkesan sangat memohon. Kulihat pelupuk mata bapak bergetar. Bibirnya yang hitam karena racun nikotin ikut pula bergetar, seperti akan mengatakan sesuatu yang sangat berat.
“Dua puloh taon itok, bapak menyesali. Kenape bapak musti membuang mak kita’. Musti membuang kita’. Padahal, dak ade yang kurang dalam hidup kite, padahal cume nafsu bapak yang ade. Tapi kenape musti keluarge yang terkorban. Bapakpun nyassal nong. Sungguh, bapak nyassal. Pun bise mbalik hari, dah bapak balik hari.”
Sepi terasa menguliti tubuhku. Tiba-tiba saja udara di ruangan itu menjadi dingin. Suara detak jarum arlojiku terdengar jelas memecah kesunyian itu. Aku tak kuasa menahan perasaan. Tiba-tiba saja aku tak kuasa menahan tangis. Tak terasa jua bulir-bulir air mata merembeti pipiku yang cekung.
Lila menoleh ke arah bapak, ia juga melihat hal yang sama terjadi pada bapak. Dengan cepat ia membuka tas kulitnya yang berwarna cokelat lalu terburu-buru ia mengeluarkan tissue. Ia mengulurkan selembar padaku, dan selembar pada bapak. Aku lmenghapus air mataku. Kulihat bapak melakukan hal yang sama pula.
Aku berlari menaiki tangga, menuju pintu rumah kami yang masih tertutup rapat. Kuketuk perlahan sambil mengatur nafasku yang masih terasa berat setelah berlari dari pintu pagar halaman menuju pintu depan rumah kami.
“Sudah puluhan taon, taon berganti. Mak dak pernah bertanya mengapa bapak mu meninggalkan mak, tidak pernah bertanya mengapa bapak mu tega meinggalkan semua kenangan tentang kita, tidak pula bertanya kemana segala sesuatu yang sudah terjadi bisa sedemikian capat. Apakah bapakmu akan terus hilang begitu saja. Atau ia akan kembali ke pangkuan mak.”
Aku terkejut mendengar suara mak berkata saat aku membuka pintu depan rumah. Ternyata ia duduk di sofa merah berlengan di depan jendela. Tempat favorit mak menghabiskan sore.
“Tiba-tiba saja tak sengaja terlintas dalam fikiran mak. Baru sekarang mak merasa ada yang hilang. Segala sesuatu yang mak punye seakan-akan dak ade, nong. Bapakmu paggi, dengan bini muda’nye, dan bapakmu berpuloh-puloh taon tidak ade khabar beritenye. Perasaan mak semakin kosong Rayya. Baru setelah kepulangan kau dan Lila kerumah ini, mak menyadari masih ada yang belum kembali. Itu membuat perasaan mak dak tanang. Unto’ pertame kali dalam dua puloh taon umak merasekan kehilangan.”
Aku hanya bisa terdiam. Bahkan ketika Lila datang dengan membawa bapak disisinya, aku tak kuasa bergeming.
“Sudah dua puloh taon berlalu, mengape baru sekarang mak sadar bahwa mak kehilangan. Kehilangan sosok yang membuat semua penderitaan tiada akhir. Sementara mak asyik masyuk dalam kehidupan kite yang hambar. Getir nong.”
Lila tersenyum, aku masih mematung dan bapak mulai pula tersenyum.
“Tapi, sekarang mak tak mau lagi merasakan kehilangan itu nong. Sudah cukup selama dua puloh taon ito’. Selama ini mak asyik masyuk dalam dunia mak. Dan mak lupa merasakan bahwa mak telah kehilangan, umak kehilangan bapakmu sebelum bapakmu menghilang dari hidup kita nong.”
“Mak,”
Lila menggumam sambil berjalan kearah mak. Lalu menggeser kursi kearah mak.
“Bapakmu, Lila, seharusnya mak merawatnya dengan baik, agar ia tau bahwa mak mencintainya sampai kinito’. Mak sedih, mungkin kebanyakan perempuan seperti mak kalian ini.”
Mak tersenyum. Aku menangis tersedu, Lila juga tampak meneteskan air matanya. Bapak kemudian memeluk mak, lalu mencium punggung tangan dan kening mak. Aku tak kuasa mencegahnya.


Singkawang, 14 april 2009
24.00 wib
Catatan;
●Umak=ibu
• kau ke nong= kau kah nak
• aok mak ito’ rayya=iya mak ini rayya
• “kau dudok dolo’, dangarkan aku baik-baik, sabab ito’ panting inyan.=kau duduk dulu, dengarkan aku baik-baik, karena ini sangat penting.
• taon=tahun
• kite=kita
• nong=nak
• pulohan taon=puluhan tahun
• ito’=ini
• tanang=tenang
• barek=beri
• kita’=kalian
• musti=mesti
• nyassal=menyesali
• mbalik=membalik
• kame’=kami
• kinito’=sekarang
• unto’=untuk
• paggi=pergi
• capat=cepat
• dakat=dekat
• Aok=iya
• Sinun=sana
• Batol=benar
• Ingkare’=ingkari
• Dudok=duduk
• Panting inyan=sangat penting
• Semue=semua
• Dak mao’= tidak mau
• Age’=lagi

Komentar Publish FB :

Arta Nauli, Fira Rachmat, Nung Bonham dan 11 lainnya menyukai ini.
Topan Asri
Topan Asri
Ufffhhhhhh, dr ceritanya sih bagus... tp aw.aw.aw..... mataku sakit ngebacanya non... apa lg mb hanna... pasti tambah tebal kaca matanya.... wkwkwkwkkkkkkkkk
23 Juli jam 16:42 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
hehehehhehehe, tes kesehatan mata
23 Juli jam 16:43 · Hapus
Shaut Ls Hutabarat
Shaut Ls Hutabarat
walau ceritanya ringan, aku bisa menikmati dengan tutur bahasamu yang sederhana, tapi mengalir dengan baik. Cerita ini makin menarik dengan penggunaan kekhasan dialog daerahmu. keren.
23 Juli jam 20:59 · Hapus
Budi Gunawan Jaya
Budi Gunawan Jaya
ida crtanya pjg bgt,mata g skt ne hahahah
23 Juli jam 22:11 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Idaaaaa... Cerpen-cerpenmu selalu mengalir dengan bahasa yang indah. Dalam sebuah dialog di atas, ada kalimat "karma semua sudah terjadi." Kali salah ejaan ya. Karma yang dimaksud karna? Beda banget loh, artinya.
Ehm... Seperti yang pernah kuucapkan pada Ida. Tokoh Emak, masih Ida bangeeet. Berhati mulia. Hahaha... Tapi itu bukan masalah. Wah, tadi... Baca Selengkapnya aku sempat membaca ulang, usia perempuan lebih panjang. Keren euy. Berarti kita bisa dikusi sampai rambut kita berubah perak, nek. Hahaha. Ok! Sip! Ditunggu agik cerpen berikutnya. Bahasa Melayu Sambasnya nyaman nyan be.
24 Juli jam 9:47 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
waduh, saya merasa sangat terkesan dan tersanjung dengan :
@bang shaut hutabarat : aq deg2 an menunggu kritikan atau sekedar penilaian atas cerpen yang sempat aku perbaharui, dan aku mendapatkan sebuah penilaian yang membuat geer, tapi ga puas karna ga adpet kritikannya
@topan : hehehhe thanx buat dorongannya
@budi : iya ne gw masih suka error di ... Baca SelengkapnyaFB, jadi tulisannnya ga bisa ku edit dengan baik
@spesial mb.hanna: wah, cece ku ne mang paling jeli, padahal kemaren aq dah edit ulang tapi masih kalah jeli dari cece, wah terlalu berlebihan mb jika menyamakan tokoh uma' itu dengan aku. terlalu mulia uma', itu aku buatb berdasarkan gambaran ku tentang mamaku tersayang....
24 Juli jam 15:13 · Hapus
Bagas Dwi Bawono
Bagas Dwi Bawono
jadi kangen ibuku .... hiks
28 Juli jam 21:52 · Hapus
Ali Fanie
Ali Fanie
Beuuuhh pnjang banget ceritanya..hehehe
tapi aku cinta umak ku loh, aku suak alur ceritanya non, nulis terusssss...
05 September jam 20:48 · Hapus
Keroncong Sunyi
Keroncong Sunyi
Ada pesan yang universal dan humanis dalam cerpenmu mbak meski disampaikan dengan bahasa melayu sambas...
Pesan cintai emak/ibu/mama/biyung/si mbok/mother hehehe...Karena surga ada di bawah telapak kaki ibu...

Terima kasih mbak buat sajiannya
05 September jam 20:56 · Hapus
Keroncong Sunyi
Keroncong Sunyi
Ada pesan yang universal dan humanis dalam cerpenmu mbak meski disampaikan dengan bahasa melayu sambas...
Pesan cintai emak/ibu/mama/biyung/si mbok/mother hehehe...Karena surga ada di bawah telapak kaki ibu...

Terima kasih mbak buat sajiannya
05 September jam 20:56 · Hapus
Penyair Kecil
Penyair Kecil
Emang belum selesai kubaca semua tp awalnya saja sdh menarik! tp tenang ja pst kuselesai'n kok! trs berkarya temen.
05 September jam 21:13 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Ali Fanie : makasih alie....sama2 ya kita berkarya, kayakan satra indonesia dengan karya kita

Keroncong Sunyi: makasih kang fitrah...ugh, jadi isin akyu

Penyair Kecil : janji ya????
05 September jam 21:35 · Hapus
A Pan Di
A Pan Di
kisah yang lumrah, seorang isteri diabai suami. jadi teringat kata, "kalau di rumahtangga sendiri tak bisa mencipta bahagia dan sejahtera, ke mana-mana dan dengan sesiapapun takkan terbina bahagia dan sejahtera itu. mesti tersentuh, hanya merupakan tipudaya yang menoda."
05 September jam 22:05 · Hapus
Amrin Zuraidi Rawansyah
Amrin Zuraidi Rawansyah
Mantap!
05 September jam 22:09 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
A Pan Di : makasih kawan...kisah ini memang sangat lumrah dan terjadi sangat dekat dengan kita....

Amrin Zuraidi Rawansyah : makasih bung amrin sudi bertamu ke note saya yang sederhana ini...
05 September jam 22:14 · Hapus
Amrin Zuraidi Rawansyah
Amrin Zuraidi Rawansyah
Siap! Saya akan sering-sering "nyosor"...hehe...
05 September jam 22:17 · Hapus
Sufriady Saleh
Sufriady Saleh
...dan kita adalah anak-anak yang merasa telah mengenal cinta.
Aku suka Lila.
06 September jam 3:01 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
kisahnya humani ya sederhana krn banyak terjadi di lingkungan kita. yang paling kusuka tentu aja nuansa daerahnya yg cukup kental, termsk cara bberbicara serta hubungan antar anggota klg. fiuuhh ida, aku terpesona denagn cerpenmu ini. membumi.
06 September jam 5:54 · Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
Jurnal Sastratuhan Hudan
cerita ini merambat dengan kata kata yang menunjukkan kematangan seorang pencerita prosa yang matang. kata merenung dalam kisah yang dibawanya. seolah ada sesuatu yang gugup dari awal membacanya.
06 September jam 9:36 · Hapus
Ping Homeric
Ping Homeric
hihihi...Ida ini indah!! crita yg panjang ini asik juak ternyate....hihihi.... tak satu barispun ku langkahi :)... sekarang, akupun mengerti tatapan matamu yg penuh misteri itu Ida yg indah!!! hehe.... asik! asik! keren nian! :)... aku setut ma mas Hud!
06 September jam 11:22 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
itu bahasa singkawang ya ida ?
yang di bawah cerpen itu foto siapa ida?

cerita ini memang datar dgn tema yang membumi da. kisah keluarga dengan segala elegi dan romantikanya. anak dan ibu tambah ayah (kalo ada) dengan segala kebrengsekan dan kebaikannya.
06 September jam 11:35 · Hapus
Cepi Sabre
Cepi Sabre
panjang ya mba ida. saya baca nanti ah ... tapi bahasanya asik. saya suka. melestarikan bahasa.
06 September jam 15:14 · Hapus
Ricky Idaman
bagus ida...selamat menjalankan ibadah puasa..dek..
06 September jam 16:25 · Hapus
Purwono Nugroho Adhi
Purwono Nugroho Adhi
cerita di balik kisahnya,
sekedar situasi harian,
yang dibingkai dalam maknanya,
tentu bagi orang-orang terkasih
06 September jam 17:54 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
Setiap membaca cerita tentang seorang ibu hatiku sedih nian dinda,terkenang kasihnya yg tak pernah habis. Andai bisa memutar waktu kembali ingin rasanya menciumi telapak kakinya lagi.Ahh,jadi sedih sebab ciuman terakhirku pada ibu saat tubuhnya tlah membeku kaku,itu saat kakak berusia 13thn...hiks...tulisanmu ini membuat kerinduanku pada ibu. makasih udah berbagi ceritamu ya say...ibu adalah segalanya dalam hidup kita...salam.
06 September jam 21:20 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Aku merasa dialog itu terlalu banyak... menjadikan alirannya bak naik sepeda motor dijalan penuh lubang.... kenapa ya kurang nyaman begitu..
06 September jam 22:31 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Sufriady Saleh : terima kasih mas....sudah sudi bertualang di note saya ini...
Sayuri Yosiana : yuri yang cantik...makasih...namun aku rasa tidak seperti itu...pasti banyak sangat kekurangannnya...
Jurnal Sastratuhan Hudan : bung hudan yang jyb (juga yang baik) maksih...saya banyak belajar dari tulisan2 bung hudan yang juga baik...
Ping Homeric : makasih ping ku yang baik....dan baik...banget....heheheh, makasih dah mau menikmati note ini....
Anita Rachmadm ; iya mb...ne memakai bahasa melayu singkawang....itu foto ku dan mama sebelum mama sakit...... Baca Selengkapnya
Cepi Sabre : makasih mas cepi...dan janji ya bakal menghabiskan membacanya...
Ricky Idaman : makasih mas ricky yang baik...makasih banget...
Purwono Nugroho Adhi : saya memang menulis ini sebagai apresiasi terhadap budaya melayu dan kepada mama tercinta. mas adhi.
Maghfira Mimi : mb fira yang cantik...makasih ya makasih banget...saya merasa tersanjung cerita ini dapat membuat mb terharu...makasih btelah mau mengunjungi note sdrhana
06 September jam 22:32 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Loektamadji A Poerwaka : ayah...terima kasih...yang seperti ini aku mau...aku jadi bisa memperbaiki tulisan2 aku...ayah,,,,makasih banget...
06 September jam 22:35 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Terlalu njlimet untuk penulisan sependek itu dibawa kearah yang lebih light lah dan tasty...Suni...
06 September jam 22:36 · Hapus
Bagas Dwi Bawono
Bagas Dwi Bawono
kayaknya dah pernah baca ini...apa versi revisinya mba...?
07 September jam 1:56 · Hapus
Jeppe Indrawisudha
Ida, kisah menarik ini semestinya tidak melelahkan untuk dibaca. Tapi kenapa aku merasa lelah ya? Atau mungkin karena terlalu panjang buatku yang semakin tercebur dalam tulisan-tulisan pendek.
07 September jam 2:55 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
hehehehhe iya mas bagas...ini versi revisinya...namun masih kurang baik juga rupanya...hiks..
mas jeppe...makasih mungkin memang benar seperti yang ayah adjie bilang, terlalu banyak dialognya...
07 September jam 14:30 · Hapus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar